Kisah Bocah-bocah Pedagang Kacang Rebus di Mataram

Mataram (suarantb.com) – Terik matahari di langit Kota Mataram siang itu menyengat kulit. Sinar matahari menyoroti ruas jalan di sepanjang Jalan Bung Karno, Pagesangan, Mataram. Senin, 28 November 2016.

Pengemudi kendaraan roda dua berusaha menghindari panas. Mereka berjejer menunggu lampu lalulintas hijau di sekitar tempat teduh di samping pohon seberang jalan. Namun, tidak untuk Antoni. Anak yang masih menginjak bangku sekolah kelas 6 SD tersebut, memanfaatkan lampu merah untuk menawarkan kacang rebus pada pengemudi kendaraan. Banyak pengemudi yang menolak untuk membeli dagangannya.

Iklan

“Kacang pak, tiga ikat lima ribu,” ujar Antoni pada pengemudi kendaraan. Beberapa mobil yang melintas, mungkin merasa iba padanya dengan memberinya uang tanpa mengambil kacangnya.

Antoni mengaku berjualan untuk meringankan biaya sekolah yang harus ditanggung orang tuanya. Tepat pukul 13.00 Wita, Antoni yang beralamat di Karang Rumak, Kecamatan Kuripan, Lombok Barat, langsung pergi membawa dagangan menuju lokasi jualan.

“Sepulang sekolah baru jualan. Sampai jam enam baru pulang ngaji,” ungkapnya. Tidak hanya Antoni, di ruas jalan berbeda di Jalan Bung Karno, bocah kelas 5 SD bernama Sapri, juga menekuni profesi yang sama dengan Antoni.

Sapri mengaku sangat senang dengan pekerjaan tersebut. Itu dilakukan, karena ayahnya hanya berprofesi sebagai pembuat batako. Penghasilannya, jauh dari standar komponen kebutuhan hidup layak. “Ambil kacangnya di rumah tetangga. Rebutan sama teman yang lain. Takut enggak dapat,” ujar Sapri.

Pengakuan Sapri dibenarkan Antoni. Sepulang sekolah, mereka bergegas ke rumah tetangga atau keluarga yang mempekerjakan mereka sebagai pedagang kacang. Saingan mereka adalah teman seusianya. Karena siapa yang telat datang, maka stok kacang untuk mereka jual diambil bocah lainnya. Sehingga tidak ada upah harian untuk mereka.

Upah mereka sehari hanya sepuluh persen dari dagangan yang laku terjual. Jika laku sebanyak Rp 100.000, maka mereka mendapat upah sebesar Rp 20.000. Namun, tidak jarang mereka hanya mendapatkan upah Rp 10.000, setelah setengah hari bekerja. Itu tergantung berapa banyak kacang yang laku terjual.

Tidak hanya Antoni yang bekerja sebagai pedagang kacang rebus. Di wilayah lain, adik kandungnya ikut menjual kacang di pinggir jalan. Itu semua tentunya untuk penghasilan tambahan mereka.

Sebelumnya, suarantb.com berusaha menelusuri seorang bocah pedagang kacang di Jalan Bung Karno, Mataram yang menjadi viral di media sosial. Foto bocah tersebut menjadi viral setelah diunggah oleh akun Kurnia Susanti, yang memperlihatkan bocah tersebut sedang menjual dagangannya di tengah derasnya hujan kemarin. Foto tersebut mendatangkan rasa iba pengguna dunia maya. Mengingat anak seusainya yang begitu kerasnya bekerja demi kebutuhan hidupnya.

suarantb.com berusaha untuk mencari pengunggah foto tersebut pertama kali. Tepat di samping Jalan Bung Karno, terlihat pedagang Mojitos, minuman dingin yang cukup familiar di tengah masyarakat Kota Mataram saat ini. Pedagang tersebut diketahui adalah Kurnia Susanti, yang mengunggah foto bocah kehujanan pertama kali.

Susanti mengatakan bocah tersebut adalah teman seperjuangannya, yang menjadi pedagang di sekitar lokasi Jalan Bung Karno. Ia mengatakan nama bocah tersebut adalah Johan, yang hari ini tidak berjualan karena tidak mendapatkan stok kacang.

“Kemarin saya panggil dia untuk istirahat (berteduh) di sini. Tapi dia tetap jualan, padahal hujannya deras banget. Kebetulan hari ini dia tidak jualan. Kehabisan stok kacang,” ujarnya.

Menurut Susanti, Johan sangat akrab dengannya. Setiap istirahat berdagang, Johan selalu mampir di kedainya untuk meminum es Mojitos yang diberikan secara cuma-cuma. “Kemarin saya kasihan lihat dia. Saya coba panggil tapi dianya enggak mau. Saya foto pas dia kehujanan, eh tahunya masuk koran,” bebernya.

suarantb.com terus berusaha menemukan keberadaan Johan. Sayangnya, Johan entah ke mana. Hanya beberapa kerabatnya yang mengatakan Johan mengambil kacang rebus untuk dijualkan dari rumah pamannya sendiri.

Mengintip Bos Para Bocah Pedagang Kacang Rebus

Saat suarantb.com mencoba meliput aktivitas bocah pedagang kacang, tampak seorang pria berkumis tebal, dengan perawakan kekar terus memantau bocah pedagang kacang rebus tersebut. Rasa penasaran membuat suarantb.com menghampiri pria yang berumur sekitar 50 tahun tersebut.

Setelah diyakini, akhirnya pria yang diketahui bernama Muhrim tersebut, mengaku bahwa dia merupakan juragan kacang yang dijual Johan, adiknya, dan rekannya Sapri. Ia berdalih bahwa bocah-bocah tersebut diajak berjualan kacang agak terhindar menjadi pengemis dan gelandangan.

“Saya mengajak mereka untuk bekerja, dari pada mereka menjadi pengemis. Ini kan bagus untuk melatih mereka berusaha sejak kecil. Bahkan mereka sampai-sampai merasa cemas kalau stok kacang saya habis. Karena tidak ada yang mereka jual,” bebernya.

Soal upah, Muhrim mengatakan mengupah anak-anak tersebut Rp 50.000 per harinya. Jika saat berdagang, bocah tersebut menggunakan uang untuk membeli jajan, Muhrin mengaku tidak memperhitungkannya. Ia tetap mengupah anak-anak tersebut Rp 50.000.

“Pas begitu pulang, dia (bocah) hitung sendiri. Pas dia makan, kita enggak hitungan. Namanya anak-anak senang belanja. Kita kasi sampai Rp 50.000. Kita cari yang enggak punya (miskin) sama sekali,” imbuhnya.

Pernyataan tersebut berbeda dengan apa yang dikakatan Antoni, yang mengaku diupah Rp 20.000. Setelah suarantb.com mengklarifikasi Antoni. Antoni tetap mengaku diupah Rp 20.000. Dan mengejutnya, Antoni mengatakan Muhrim adalah ayahnya sendiri.

Muhrim yang saat itu usai menjemput adik Antoni, akhirnya mengaku Antoni merupakan anaknya yang dengan sendirinya pingin bekerja membantunya. Ia juga mengatakan pernah menawarkan pekerjaan serupa pada bocah-bocah peminta-minta di Udayana. Namun, bocah-bocah tersebut enggan untuk menjual kacang.

“Saya sudah tawarkan anak-anak yang jadi pengemis di Udayana. Tapi mereka enggak mau. Katanya malu jual kacang. Loh kalau ngemis mereka enggak malu,” cetusnya.

Ditanya apakah ada teguran mempekerjakan anak-anak, Muhrim mengaku pernah ditegur Satpol PP saat berlangsungnya MTQ Nasional dan Hari Anak. Namun teguran tersebut bersifat himbauan.

“Kemarin waktu MTQ dan Hari Anak, Satpol PP sempat tegur. Katanya jangan terlalu mencolok dan jangan mengganggu ketertiban lalulintas. Tapi setelah itu mereka tetap bisa berdagang. Karena kan mereka enggak mengganggu lalulintas,” ungkapnya.

Saat ditanya, apakah dengan mempekerjakan anak merupakan strategi agar jualan cepat laku, Muhrim membantahnya. Menurutnya, pemuda di lingkungannya telah banyak merantau ke Malaysia, sehingga mempekerjakan anak-anak tanpa menghalangi kebebasan anak. Ia mengatakan, kerja atau tidak kerja tanpa ada paksaan darinya.

Di Kota Mataram, pedagang asongan yang masih belum dewasa terbilang cukup banyak. Di sekitar Jalan Sriwijaya dan Jalan Bung Karno, Mataram, sering dijumpai pedagang yang masih duduk di bangku SD. Ini dapat menjadi pekerjaan rumah pemerintah daerah setempat. Membuktikan bahwa permasalahan level daerah sama krusialnya dengan Pilkada DKI Jakarta 2017. Sehingga harus menjadi perhatian semua pihak. (szr)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here