Kisah Ang Thian Kok, Mualaf yang Membangun Musala Mirip Wihara di Sesaot

Giri Menang (Suara NTB) – Di Dusun Jurang Malang, Desa Sesaot, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat, terdapat sebuah bangunan yang unik. Sebuah musala yang dibangun dengan desain menyerupai wihara. Orang yang membangunnya adalah mualaf keturunan Tionghoa yang dikenal dermawan.

Warna merah merekah mendominasi bangunan musala tersebut. Posturnya didesain sedemikian rupa sehingga membuat bangunan ini memiliki ciri khas seperti Wihara atau Klenteng. Bangunan tersebut cukup mencolok mengingat ia berdiri di tengah perkampungan umat Islam.

Iklan

Musala tersebut didirikan mualaf keturunan Tionghoa, Ang Thian Kok alias H. Muhammad Maliki dengan istrinya, Tee Mai Fung alias Hj. Siti Maryam.

“Itu didirikan tahun dua ribu sepuluh. Kenapa konstruksinya seperti itu, ya karena untuk pengenalan saya. Supaya kalau orang melihat, pasti mengatakan, oh, itu pendirinya keturunan Tionghoa tetapi dia muslim,” tutur mualaf Kelahiran Mataram, 20 April 1948 ini ketika ditanya Suara NTB, beberapa waktu lalu.

Menurutnya, banyak orang mendirikan tempat ibadah dengan gaya mengadopsi bentuk bangunan eropa dan bangunan dari bangsa lain. Baginya, ia hanya ingin menciptakan sesuatu yang berbeda namun mewakili identitas etnik serta leluhurnya.

masjid vihara

Musala Ridwan di Jurang Malang, Dusun Jurang Malang, Desa Sesaot, Kecamatan Narmada.

“Kan banyak bangunan tempat – tempat ibadah yang mirip bangunan di Eropa, Prancis dan lain sebagainya,” bebernya sembari melayani beberapa orang yang mengajukan nota perbelanjaan di tokonya untuk membayar serta mengambil barang dagangan, siang itu.

Musala yang didirikannya lantas menjadi tempat peribadatan umat Islam yang unik sekaligus terkesan klasik. Musala dengan konstruksi bangunan yang antik dan khas seperti bangunan – bangunan di Cina itu berbentuk segi enam.

Musala tersebut hanya terdiri dari satu lantai namun atapnya bertingkat – tingkat. Di sisi barat, menjulur tembok persegi sebagai mimbar yang menandakan arah kiblat. Di atasnya terdapat sebuah kubah dengan tulisan Allah menggunakan huruf Al-Hijaiyah sebagai mahkota. Diatapnya juga tergantung pengeras suara sebagai sarana mengumandangkan azan selagi tiba waktu shalat. Musala itu diberi nama Al-Ridwan.

Objek Wisata Religi

Selain mendirikan tempat peribadatan bagi umat muslim di Jurang Malang, sosok tokoh masyarakat yang satu ini juga mendirikan musala unik di Dusun Sangiang, Desa Langko, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat.

Musala yang dinamakannya sebagai Musala Abubakar Siddiq di pelosok desa itu juga tak kalah uniknya. Kedua tempat peribadatan tersebut bahkan cukup layak untuk menjadi objek wisata religi yang menarik.

“Kalau yang di Sangiang, bentuknya bundar. Luasnya Sembilan kali Sembilan. Saya mengunjungi tempat – tempat itu ketika ada waktu senggang. Biasanya hari Jumat atau Minggu siang. Pas kalau toko ndak buka,” terangnya.

Ia berharap, sumbangsih yang telah ia berikan kepada masyarakat tersebut dapat diberdayakan oleh penduduk setempat. Baginya, itu adalah jalan atau upaya untuk memberdayakan penduduk desa. Belakangan ini, dirinya sedang merintis pembangunan kolam pemandian di Dusun Jurang Malang. Rencananya, begitu jadi, objek wisata tersebut akan diserahkan kepada warga untuk dikelola secara swadaya.

“Insya Allah itu bisa menjadi objek wisata religi. Rencananya juga saya ingin membangunkan kolam pemandian di desa itu. Tapi izinnya belum keluar. Kalau itu sudah jadi, otomatis masyarakat punya sumber pendapatan. Baik dari tiket pemandian atau dari retribusi parkir,” lanjutnya.

Semua biaya pembangunan untuk mendirikan objek wisata pemandian tersebut ditanggulanginya sendiri. Hanya saja, untuk urusan penerbitan izin, ia meminta masyarakat melakukan pendekatan ke pihak pemerintah. Hingga saat ini, izin pembangunan yang belum keluar tersebut diakuinya menjadi kendala sehingga pihaknya belum memulai proses dan tahap pembangunan.

masjid lingsar

Mushalla Abubakar Siddik di Dusun Sangiang, Desa Langko, Kecamatan Lingsar.

Perjalanan Spiritual

Bersama sang istri, H. Muhammad Maliki resmi menjadi mualaf tahun 1989. Sebelum masuk Islam, ia bermimpi kediamannya didatangi ratusan kyai dan ulama. Mimpi itulah yang kemudian menjadi misteri dan menggiringnya untuk hijrah ke jalan Allah (Islam).

“Dan benar, para kyai dan ulama seperti dalam mimpi saya itu datang ke rumah setelah kami mualaf. Kita sering mengadakan pengajian di rumah,” jelasnya.

Muhammad Maliki juga mengungkapkan pendapatnya soal jihad. Jihad berdasarkan pandangan Islam tidak hanya dapat dimaknai menjadi relawan perang. Mengangkat senjata kemudian ikut terlibat di medan pertempuran. Seyogyanya, Jihad juga dapat dimaknai sebagai sebuah pengorbanan. Inilah dasarnya munculnya istilah “jihad harta”.

Menurutnya, umat Islam dapat berjihad dengan cara menyumbangkan sebagian hartanya demi mendukung sebuah pembangunan, baik tempat peribadatan atau sarana yang menampung kepentingan orang banyak. Serta berupaya membantu mendorong kemaslahatan masyarakat.

“Mudah – mudahan yang sudah terbangun itu dapat bermanfaat. Terutama bagi masyarakat di sekitar sana. Kalau yang di Pakuan bahkan sedang dipinjam jadi sarana sekolah untuk anak – anak PAUD,” bebernya.

Gedung Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Al- Furqan di desa tersebut sedang direhabilitasi. Agar proses pembelajaran tetap berlanjut para peserta didik akhirnya diajak belajar sembari bermain di pekarangan musala.

Selain menggoreskan pengabdian untuk masyarakat yang ada di pelosok, mualaf dengan jiwa sosial yang amat tinggi ini juga mendirikan sebuah yayasan pendidikan. Yayasan Athaillah yang didirikan tanggal 28 Januari 1990 itu terletak tidak jauh dari kediamannya di Selagalas.

Penduduk desa di tempat Muhammad Maliki tinggal pun memiliki cara yang bijak dalam menyikapi kebajikan yang datang dari luar. Apalagi, Muhammad Maliki dan istri, dikenal sebagai sosok yang dermawan. Utamanya, bagi masyarakat di dusun Jurang Malang. Masyarakat yang masih lekat dengan nilai – nilai luhur (kearifan lokal dan tradisi, etika, tata krama dan nilai religi) itu menganggap Muhammad Maliki sebagai sosok yang rajin beramal. Menyantuni fakir miskin atau yatim maupun piatu adalah suatu kewajiban yang harus dipenuhi untuk melengkapi ibadahnya.

“Dia itu sangat rajin beramal. Pengakuannya, semakin banyak ia beramal, semakin dia tidak tahu darimana datang rezekinya,” cetus Murni (40) Warga Dusun Jurang Malang.

Ia membeberkan terkait rencana pembangunan kolam pemandian yang digagas oleh Mualaf tersebut. Menurutnya, Muhammad Maliki mendirikan tempat wisata untuk memberdayakan masyarakat setempat.

“Dia mau bangun kolam. Biayanya, dia yang tanggung semuanya. Nanti setelah jadi, baru akan diserah terimakan kepada masyarakat,” lanjutnya.

Suasana dusun di desa tersebut sangat mendukung untuk dijadikan objek pariwisata. Disamping karena masyarakatnya yang ramah, kawasan tersebut adalah lokasi yang pas bila dijadikan tempat bersafari. Lebih – lebih untuk mendukung keberadaan objek yang berpotensi menjadi destinasi wisata religi.

Jika Laksamana Cheng Ho dikenal sebagai tokoh penyebar ajaran Islam yang berasal dari Tiongkok, maka setidaknya atas kontribusinya Ang Thian Kok merupakan tokoh pejuang pembangunan di negeri ini. Cheng Ho tercatat menyebarkan syiar Islam sampai ke pelosok – pelosok di pulau Jawa dan Sumbawa.

Hanya saja, menurut penduduk setempat, H. Muhammad Maliki terkesan tidak mau terlihat di permukaan. Lebih – lebih di hadapan pemerintah, dirinya selalu bermain di balik layar dalam upaya mensejahterakan masyarakat desa.

“Dia itu tidak mau kelihatan memberikan bantuan. Apalagi kepada pemerintah. Soal izin untuk pembangunan kolam pemandian itu saja, dia meminta agar warga desa yang mengusulkan ke pemerintah,” pungkasnya. (met)