Kisah Amaq Abang, Tetap Bekerja di Usia Senja

Mataram (Suara NTB) – Amaq Abang (80) duduk di sebuah balai bambu di lahan parkir Pantai Tanjung Karang. Kendati jumlah kendaraan khususnya sepeda motor yang parkir bisa dihitung dengan jari, namun ia tetap duduk setia menjaga kendaraan. Ia tampak menggerutu ketika salah satu pemilik kendaraan tidak memberinya jasa uang parkir dan berlalu pergi meninggalkannya.

Di usia senjanya, ia tetap bekerja sebagai juru parkir (jukir) di Pantai Tanjung Karang. Kendati sepi dan penghasilan tak menentu setiap hari, ia tetap berangkat dari rumahnya di Karang Panas, Ampenan Selatan menuju Tanjung Karang, Kelurahan Tanjung Karang, Sekarbela setiap pagi dan kembali pada sore hari dengan sepeda tuanya. “Saya sudah lima tahun jadi tukang parkir di sini. Ini sekarang lagi sepi-sepinya, karena musim hujan juga,” ujarnya kepada Suara NTB.

Iklan

Ia mengatakan penghasilannya tidak menentu. Apalagi saat ini kunjungan ke Pantai Tanjung Karang tidak seramai beberapa tahun lalu. Kadang dalam sehari ia hanya mengantongi Rp 15 ribu. Di akhir pekan, ia bisa mengantongi sampai Rp 150 ribu, namun itu pun ia setorkan ke masjid. “Uangnya masuk ke masjid dan saya cuma dapat Rp 17 ribu,” sebutnya. Lahan parkir tersebut disampaikan Amaq Abang adalah milik pribadi, namun disewa pengurus masjid yang ada di Tanjung Karang sebesar Rp 3,5 juta per tahun. Setelah terkumpul uang Rp 50 ribu, baru ia setorkan ke masjid dan ia mendapat jatah Rp 15 ribu.

Jika ada motor yang hilang, maka tanggung jawab penggantian dibebankan kepada warga dan jukir. Khusus jukir, ia harus menyediakan uang sejumlah Rp 4 juta untuk mengganti kendaraan yang hilang. “Dari mana saya dapat uang segitu. Makanya saya benar-benar jaga biar tidak sampai kehilangan. Saya perhatikan sekali motor orang satu-satu biar tidak sampai hilang,” ujar kakek 16 cucu ini. “Saya selalu kepikiran motor orang. Walaupun satu motor orang yang parkir di sini tetap saya tunggu, kapan yang punya motor pergi, baru saya pergi dari sini,” sambungnya.

Kendati penghasilannya sangat terbatas untuk sebuah kehidupan di kota, ia tetap bersyukur. Terkadang ia tidak pulang ke rumahnya di Karang Panas, namun tinggal di sebuah pondok dari bambu yang dibangun di dekat tempat shalat di pantai tersebut. “Sebenarnya mana cukup Rp 15 ribu untuk hidup dan makan. Semua kekurangan. Kalau dapat Rp 15 ribu, saya pakai beli beras Rp 5 ribu,” ujarnya. (ynt)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here