Kisah Ade Komalasari, Bocah SD Jualan Keliling Umbi-umbian di Kota Bima

Ade Komalasari, bocah Kelas III SD di Kota Bima. Hari-harinya usai pulang sekolah jualan keliling umbi-umbian, Kamis, 7 Oktober 2021.(Suara NTBJun)

Seragam merah putih masih melekat di tubuh Ade Komalasari. Bocah Kelas III Sekolah Dasar (SD) Negeri 40 Kota Bima. Saat kebanyakan anak seusianya menghabiskan waktu untuk istirahat dan bermain usai pulang sekolah. Ade harus menahan terik panas matahari, pun beratnya beban umbi-umbian yang dijunjung.

BOCAH perempuan asal Kelurahan Penatoi Kecamatan Mpuda ini, menyita waktunya untuk jualan keliling umbi-umbian matang seperti keladi, kacang tanah, singkong dan pisang.

Iklan

Selain menawari pengendara di persimpangan jalan raya Soekarno Hatta di Kota Bima. Ade masuk kantor-kantor pemerintahan untuk menjajakan barang bawaannya. Usaha ini dilakoni hampir setiap hari, terhitung sejak tahun 2020-2021.

Kepada Suara NTB, Ade Komalasari mengisahkan rutinitasnya. Hari itu, tepatnya Selasa 5 Oktober 2021, sekitar Pukul 11.30 Wita. Ia baru saja pulang dari sekolah. Belum sempat istirahat, bahkan melepas seragam merah putih yang dikenakan, seperti biasa ia langsung bergegas menyusun umbi-umbian dalam keranjang kecil.

Setelah tersusun rapi, ia kemudian berangkat menyusuri jalan raya, menghampiri titik-titik keramaian warga dan perkantoran dengan menjunjung barang dagangan. Beratnya diakui tak ideal, ia bahkan seringkali meminta bantuan pembeli untuk mengangkat keranjang yang berisi umbi-umbian agar bisa sampai di kepala mungilnya. Sehari-hari tetap jualan setelah pulang sekolah. “Satu keranjang ini isinya Rp100 ribu,” ucapnya seraya sesekali mengusap keringat di keningnya.

Berjualan keliling umbi-umbian, ungkap bocah ini bukan keinginannya. Ayah sempat melarang, namun sang nenek memintanya tetap jualan. Alasannya, tak lain agar bisa membantu perekonomian keluarga. Sang ayah hari-harinya membuat tahu, sementara ibu menjual sayur di pasar.

Dalam sehari, kata Ade, hasil yang diperoleh dari menjual keliling umbi-umbian tak menentu. Kadang hanya pulang berteman keringat, pun terkadang laku semua. Bahkan tak jarang hasilnya melebihi nilai barang yang dibawa dari rumah.

Bagaimana tidak, pembeli yang merasa iba melihat tubuh mungilnya keliling menjujung umbi-umbian, biasanya enggan mengambil barang namun tetap memberinya uang untuk sekedar jajan di sekolah. “Hasilnya serahkan ke ibu semua, saya cuma dikasi Rp2.000 buat belanja,” tuturnya.

Diakui bocah Kelas III SD ini, dirinya sudah cukup lelah jualan keliling, apalagi harus berjalan seorang diri di pusat keramaian Kota Bima. Namun mengingat itu kemauan keluarganya, ia tak kuasa untuk menolak. Ade Komalasari masih akan tetap berjualan.

Kisah Ade, satu dari sekian anak yang menjalani kegiatan serupa di Kota Bima. Mereka, biasanya jualan kacang goreng di Taman Ama Hami, pun persimpangan jalan Soekarno Hatta. (jun)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional