Kiprah NTB di PON Papua, Rekor Gemilang di Bumi Cendrawasih

Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, menyambut atlet NTB yang pulang dari PON Papua, Minggu, 17 Oktober 2021. Para atlet NTB mendapatkan sambutan meriah setelah tampil di PON dan mempersembahkan 15 medali emas, 11 medali perak dan 12 medali perunggu untuk NTB.(Suara NTB/ist)

Membanggakan! Itulah perasaan yang menyeruak tatkala menyambut kehadiran para atlet dan kontingen NTB yang pulang dari Bumi Cendrawasih dengan mengantongi rekor baru. 15 medali emas, 11 perak dan 12 perunggu PON Papua 2021, adalah pencapaian tertinggi NTB di PON.

Tak heran jika para atlet NTB yang pulang dari tanah Papua, Minggu, 17 Oktober 2021 kemarin disambut bak pahlawan. Para atlet yang berhasil mengharumkan nama NTB tersebut dijemput langsung Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, SE, M.Sc, di Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM) kemudian diarak menuju Lapangan Sangkareang Kota Mataram.

Iklan
H. Mori Hanafi, H. Andy Hadianto. (Suara NTB/dok)

Dari Lapangan Sangkareang Kota Mataram, para pahlawan olahraga tersebut diarak menggunakan peraje menuju halaman Kantor Gubernur, Minggu, 17 Oktober 2021. Para atlet mendapatkan sambutan hangat dari Wakil Gubernur NTB, Hj. Sitti Rohmi Djalilah, Sekda NTB, Drs. H. Lalu Gita Ariadi, M. Si., Kapolda NTB, Irjen Pol. M. Iqbal, Danrem 62/WB, Brigjen TNI Ahmad Rizal Ramdhani dan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) NTB lainnya.

Sambutan itu memang tidak berlebihan. Meski gagal memenuhi target 17 medali emas, namun capaian 15 medali emas, 11 perak dan 12 perunggu telah menempatkan NTB di peringkat 9 besar nasional dari 34 provinsi peserta PON.

Dalam perjalanan mengikuti PON XX/2021, kontingen NTB yang diperkuat 106 atlet, 40 pelatih mengikuti 19 cabang olahraga. Dari 19 cabor yang diikuti, NTB menargetkan 17 medali emas di  sepuluh cabor unggulan. Adalah atletik, tinju, panjat tebing, kempo, voli pasir, tarung derajat, balap motor, muay thai, karate dan menembak. Sebaliknya, ada sembilan cabor tidak ditargetkan medali emas, yakni futsal, selam, gantole, biliar, tenis lapangan, renang, taekwondo, pencak silat dan catur.

Dari 19 cabang olahraga yang diikuti, NTB menyumbang  15 emas lewat delapan cabor unggulan, sementara 11 cabor lainnya gagal meraih medali medali emas. Selain belasan medali emas, juga banyak kejutan tercipta dan rekor baru yang dibuat oleh patriot olahraga NTB. Kemudian  ada juga beberapa cabang olahraga yang prediksi medalinya meleset karena alasan klasik, yakni persiapan kurang dan subjektivitas wasit.

Sebut saja cabang olahraga muay thai dan karate yang gagal meraih target medali emas dengan alasan ada dugaan keberpihakan wasit kepada tuan rumah. Begitu juga menembak yang gagal meraih target medali emas dengan alasan dugaan ada kecurangan wasit. Meski gagal meraih medali emas namun menembak berhasil meraih 3 medali perak dan satu perunggu.

Selain itu ada juga beberapa cabang olahraga yang gagal menuntaskan target medali emas, misalnya cabang olahraga atletik, tinju dan tarung derajat.

Tarung derajat yang ditargetkan meraih dua emas hanya bisa merealisasikan satu emas, sedangkan tinju yang ditargetkan empat emas, mampu merealisasikan dua emas. Sedangkan cabang olahraga atletik gagal menuntaskan target medali emas di nomor estafet 4×100 meter putra yang diperkuat Lalu Muhammad Zohri, Fadli, Iswandi dan Sapwaturrahman. Meski gagal meraih target medali  emas, namun tim estafet putra NTB masih bisa menyumbangkan medali perunggu.

Kegagalan tim estafet 4×100 meter putra yang menjadi sasaran target medali emas dibayar tuntas oleh Ridwan yang berhasil meraih medali emas di nomor 1.500 meter, selain itu cabang olahraga atletik juga sukses meraih medali emas lewat Dian Ekayanti di nomor 3.000 Halang Rintang (HR). Ridwan dan Dian Ekayanti sebenarnya tidak masuk target, namun kedua atlet ini justru mampu membuat kejutan.

Tak sampai di situ, kejutan juga terjadi di cabang olahraga  panjat tebing dan kempo. Atlet panjat tebing, Nurul Iqamah yang ditargetkan satu medali emas di kelas combined perorangan putri justru mampu menyumbangkan dua medali emas, yakni di nomor target combined perorangan putri dan di nomor non target boulder tim putri yang diperkuat Nurul Iqamah, Anggun Yolanda, Ayu Fatullah dan Ade Irma Suryani.

Nurul tak menyangka bisa mendulang  dua medali emas. Sejak awal, ia hanya menargetkan satu medali emas di ajang multi event olahraga nasional itu. “Target kami satu medali emas, Alhamdulillah bisa meraih dua medali emas,” ucap Nurul.

Selanjutnya, kejutan kembali terjadi di cabor kempo, dimana sebelumnya kempo menargetkan satu medali emas justru mampu meraih dua emas, lewat nomor embu berpasangan kyu kenshi dan Ririn Kurniati nomor tarung atau Randori (60) kilogram putri. Selain itu balap motor juga berhasil meraih target satu medali emas lewat tim putra, Aldiaz Aqsal dan Nyoman Rajendra di bebek 150 cc standar.

Ketua Kontingen PON NTB, H. Mori Hanafi mengatakan hasil raihan 15 medali emas tersebut memang belum sesuai target. Namun, pihaknya patut bersyukur karena hasil tersebut telah melampaui perolehan medali emas NTB  sepanjang sejarah mengikuti PON. Sebab di dua kali PON terakhir NTB hanya mampu meraih 11 medali emas. Itu artinya, ada peningkatan prestasi NTB di PON tahun ini, dari sebelumnya 11 emas menjadi 15 medali emas.

“Mengenai hasil lima belas emas, kita wajib bersyukur. Karena NTB masuk urutan sembilan besar nasional dari 34 provinsi yang ikut. Ini hasil yang sangat baik, melebihi prestasi NTB di dua kali PON sebelumnya, dimana NTB  yang hanya meraih 11 emas,” ucapnya.

NTB patut berbangga dengan raihan 15 medali emas, sebab melihat persiapan NTB menghadapi PON  XX/2021 belum bisa dikatakan maksimal. Dukungan anggaran dari Pemprov NTB sangat minim dan Pelatda PON dilaksanakan di tengah pandemi Covid-19. Meski di tengah keterbatasan anggaran, atlet NTB justru tak patah semangat, para atlet mampu meningkatkan prestasi.

Menurut Mori, anggaran NTB mengikuti PON Papua sangat minim bila dibanding anggaran provinsi yang diterima provinsi lain rata-rata di atas Rp30 miliar. Kemudian, anggaran NTB mengikuti PON Papua sangat sedikit bila dibandingkan saat mengikuti PON Jabar tahun 2016 sebesar Rp22,5 Miliar, sementara anggaran PON Papua 2021 hanya Rp15 miliar. “Ketersedian anggaran kita kurang. Dan masa persiapan terpotong-potong karena Pandemi. Namun atlet NTB masih mampu meningkatkan perolehan medali emas,” jelasnya.

Hal senada dikatakan Ketua Umum KONI NTB, H. Andy Hadianto. Orang nomor satu di KONI NTB ini menegaskan hasil PON XX 2021 menjadi kebanggaan terbesar masyarakat NTB. Para patriot olahraga NTB yang diperkuat 106 atlet telah mampu membawa NTB menempati peringkat 9 besar nasional. Selain itu, raihan 15 medali emas itu sebuah sejarah baru yang diukir atlet NTB  di PON/2021, karena raihan medali 15  emas itu merupakan medali emas terbanyak yang pernah diraih atlet NTB sepanjang sejarah tampil di PON.

Bagi Andy, para atlet NTB telah menunjukkan talenta hebatnya, itu artinya NTB memiliki potensi atlet hebat yang bisa dikembangkan prestasinya di level nasional. “Perolehan 15  medali emas NTB di PON Papua ini sangat luar biasa. Ini sejarah, sekaligus menunjukan potensi atlet kita besar. Anak-anak NTB itu hebat, mereka telah sungguh-sungguh berlatih meski pun dalam situasi pandemi,” ujarnya.

Menurut Andy, ke depan prestasi atlet NTB itu harus bisa ditingkatkan. Tentu dengan menajemen olahraga yang baik. Dan perlu mendapat dukungan semua pihak, baik pemerintah, DPRD dan masyarakat NTB khususnya dukungan anggaran dan sarana prasarana olahraga.

Lanjutnya, terkait target 17 medali emas belum bisa dicapai di PON/2021 bukan sebuah kegagalan. Karena target tersebut merupakan sebuah angan-angan yang ingin diwujudkan. “Target 17 medali emas itu sebuah cita-cita, tapi kalau kita sudah bisa meraih 15 medali emas, itu luar biasa karena ini melebihi perolehan medali emas  NTB di PON sebelumnya. Terimakasih untuk atlet dan pelatih, kalian luar biasa,” ujarnya. (fan)

 

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional