Ketua STMIK Bumigora : SMI Bukan Organisasi Resmi Kampus

Mataram (suarantb.com) – Aksi solidaritas terhadap mahasiswa STMIK Bumigora, Andriyan Rizki Saputra, yang dimotori oleh Serikat Mahasiswa Indonesia (SMI) mendapat tanggapan dari pihak kampus. Ketua STMIK Bumigora Mataram, Ir. Anthony Anggrawan M.T, Ph.D. Anthony menegaskan bahwa SMI bukanlah organisasi resmi di kampus tersebut.

Konflik antara SMI dengan STMIK Bumigora ini mulai mencuat ke permukaan setelah Andriyan yang juga aktivis SMI dilaporkan pihak kampus terkait pencemaran nama baik kampus.

Iklan

Sebagai bentuk solidaritas kepada rekannya, puluhan aktivis SMI Cabang Mataram, Rabu, 24 Agustus 2016 siang melakukan aksi solidaritas di Kantor DPRD Provinsi NTB. Mereka mendesak DPRD memfasilitasi pertemuan mahasiswa dengan pihak kampus.

Diketahui, penempelan selebaran dilakukan Andriyan pada 27 Juni 2016. Sebulan kemudian tepatnya 22 Juli 2016 pihak kampus melaporkan hal tersebut kepada kepolisian dengan tuduhan melanggar undang-undang nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

Menyikapi hal tersebut, Anthony saat ditemui suarantb.com mengatakan, apa yang dilakukan terlapor, yakni Andriyan merupakan hal yang dapat merusak citra kampus. Menurutnya, Kampus STMIK Bumigora Mataram merupakan salah satu kampus terbaik di Indonesia. Sehingga, penempelan maupun pengedaran selebaran ke internet dinilai merugikan kampus.

“Kami ini adalah kampus yang masuk pada peringkat terbaik. Secara peringkat nasional dari 3.320 perguruan tinggi, kami termasuk perguruan tinggi ke 746 terbaik. Kami memperoleh akreditasi B, jadi sangat baik. Ukurannya kami perguruan tinggi bermutu berdasarkan Dikti. Sehingga sangat kecewa dan merasa dirugikan dari selebaran yang diedarkan terlapor,” ujarnya saat ditemui, Rabu, 24 Agustus 2016.

Sementara terkait hal yang dinilai merendahkan kampus dari beredarnya selebaran tersebut, Anthony enggan untuk beradu opini melalui pemberitaan. Namun, secara pribadi Ia menilai bahwa apa yang ditulis dalam selebaran tersebut merugikan kampus, dan khususnya mahasiswa maupun alumni.

“Saya tidak mau menimbulkan opini di koran, tapi pendapat pribadi saya, selebaran tersebut yang saya tangkap (bahasanya bertulis) mahasiswa otak udang dan STMIK Perguruan Tinggi berkualitas diberi tanda tanya. Ini masalah hukum, saya tidak mau membuat opini,” ungkapnya.

Terkait dengan penyelesaian secara kekeluargaan terhadap permasalahan tersebut, Anthony mengaku akan melayani setiap itikad baik. Namun, menurutnya hal tersebut harus dibuat dalam bentuk perjanjian hitam di atas putih dan dapat memulihkan nama baik kampus.

“Jika ada itikad baik kami layani, tapi tentunya melihat prosedur hukum, ada hitam putihnya. Jadi kami mau ada pemulihannya. Kami sudah coba beberapa kali panggil mahasiswa itu. Kami tidak langsung DO, tetap melalui prosedur formal,” jelasnya.

Anthony mengatakan telah beberapa kali melakukan pemanggilan terhadap Andriyan untuk menyelesaikan kasus tersebut. Namun menurutnya Andriyan tidak berkenan dan mengatakan bahwa penempelan selebaran berdasarkan kesepakatan kelompok, bukan individu.

“Itikad kami memanggil orang tua, kami sudah sampaikan ada jalan untuk selesaikan kasus ini meskipun sudah dilaporkan, tapi mahasiswa nampaknya tidak mau, dia mengatakan kelompoknya, organisasinya. Kami bicara hukum, dia bicara organisasi, dan kami baru tahu yang dimaksud itu adalah SMI. Organisasi tersebut tidak ada di sini, yang resmi hanya BEM,” tegasnya. (szr)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here