Ketika Wisatawan Terganggu Pedagang Asong di Mandalika

Praya (Suara NTB) – Kawasan Mandalika, di Desa Kuta, Kecamatan Pujut Lombok Tengah (Loteng) menjadi magnet baru wisatawan. Dari hari ke hari kunjungan wisatawan terus meningkat, menyusul dibangunnya infrastruktur dan fasilitas pendukung lainnya.

Seiring dengan itu, semangat masyarakat untuk mengais rezeki pun mengikuti. Penjaja kerajinan tangan (pedagang asong) berlomba merebut rupiah para pelancong, tak peduli kenyaman wisatawan. Akibatnya wisatawan pun terganggu.

Iklan

Sarung tenun bercorak khas Sade dagangan Inaq Us (50) berkibar-kibar di depan wajah Fen (55). Di terik siang dengan angin kencang di pantai Mandalika, Minggu, 28 Januari 2018, Inaq Us berharap dagangannya laku.

Inaq Us merayu dengan patokan harga miring, Rp 100 ribu per-tiga helai. Dia tak sendirian. Menyusul di belakangnya, dua bocah ikut menawarkan gelang.

Sementara, Fen pelancong asal Papua bergeming. Dia yang baru tiga hari berlibur di pesisir selatan Lombok itu dengan santai menolak tawaran para pedagang.

Inaq Us dan dua bocah pantang menyerah. Merayu-rayu sedikit memelas dengan kosakata marketing yang terbatas, mereka tetap menempel ketat Fen.

Fen menyembunyikan rasa risihnya dengan sesekali memainkan ponsel pintarnya. Ia seperti terlihat tetap santai. Selesai memotret papan nama Kuta Mandalika di bukit batu dalam kawasan itu, dia lalu menempelkan ponsel di telinga.

Fen yang berperawakan tinggi itu menelepon istrinya yang tak jauh dari sana untuk bergabung kembali berjalan menikmati pantai.  ‘’Ya yang namanya orang berdagang tidak bisa dilarang, ‘’ kata Fen menjawab obrolan tim Lipsus Suara NTB.

‘’Di tempat (wisata) lain (di luar NTB), gak ada yang begini. Kalau kita sudah bilang tidak mau ya sudah pergi mereka,’’ imbuhnya dengan logat khas Papua.

Deputi Gubernur Bank Indonesia, Sugeng yang berkesempatan berkunjung ke kawasan yang menjadi salah satu dari 10 destinasi wisata potensial di Indonesia itu, mengeluhkan hal yang sama.

Sugeng memuji potensi sumber daya alam NTB yang sungguh luar biasa. Salah satu potensi besar itu katanya ada di KEK Mandalika. Sabtu (27/1) pagi, Sugeng berkesempatan mengunjungi KEK Mandalika. Ia kemudian membandingkan KEK Mandalika dengan  kawasan-kawasan pariwisata yang pernah dikunjungi di berbagai daerah di Indonesia.

‘’KEK Mandalika potensinya tak kalah jauh bila di bandingkan dengan potensi alam di Indonesia,’’ pujinya.

Namun ia memberi cacatan bahwa di KEK Mandalika, ia melihat satu persoalan yang harus selesaikan segera dan itu butuh proses. Persoalan yang dimaksud Sugeng adalah, bagaimana menertibkan para pedagang asongan, termasuk anak-anak kecil yang menawarkan jasa dengan cara agak memaksa. ‘’ Itu membuat orang yang datang (berwisata ke sana) menjadi tak nyaman. Karena itu, masyarakat harus terus diedukasi,’’ katanya mengingatkan.

Terganggunya Fen dan juga Deputi Gubernur Bank Indonesia, Sugeng adalah sebagian kecil dari banyaknya keluhan serupa dilontarkan wisatawan yang berkunjung ke kawasan Mandalika.  Wisatawan merasa tak nyaman dengan cara pedagang menawarkan souvenir dengan cara memaksa.

Sadar Dikeluhkan Wisatawan  

Jangkauan pasar Inaq Us yang bermukin di Sade, Pujut, Lombok Tengah hanya seputaran kawasan Mandalika. Dia saban hari berangkat ke Kuta pukul 10.00 Wita.

Inaq Us mengaku harus berpacu dengan penjaja-penjaja lainnya. ‘’Kalau tidak kejar-kejar, mana bisa kita dapat. Kalau kita diam saja, mana mau mereka belanja,’’ kata dia.

Saumin (41), penjaja tenun lainnya asal Rembitan, Pujut pun mengakui hal serupa. Tapi dia menolak untuk mengikuti cara mengejar-ngejar calon pembeli.

‘’Awalnya saya ke sini juga saya kaget. Kok begini caranya (mengejar pembeli)? Tapi saya lebih baik tidak ikut maksa. Takut nanti tamu komplain,’’ ujar penenun songket Rembitan itu.

Menghindari komplain tersebut menurutnya untuk menjaga citra kawasan Mandalika. Satu-satunya tempat yang bagi Saumin adalah ladang mencari penghidupan.

‘’Bagi saya ini satu-satunya tempat harapan kami untuk mencari penghidupan. Kalau tamu komplain ndak mau lagi mereka datang ke sini,’’ ujarnya sambil berlalu ke tepi pantai di mana Fen masih dikerubungi tiga penjaja.

Sebagian pedagang memang sudah mendapat kabar akan ada penempatan di lapak khusus, disediakan pengelola KEK Mandalika. Beberapa waktu lalu, mereka menyerahkan fotocopy KTP dan KK ke petugas yang diyakini Inaq Us dkk utusan dari ITDC.  ‘’Mbe sak solah aneh, saq penting tetep te bau bedagang (mana baiknya, yang penting saya tetap  bisa berjualan),’’ ujar Inaq Us.

Dispar Siapkan Solusi

Keberadaan pedagang asongan di Pantai Kuta dan beberapa pantai lainnya di Mandalika kerap dikeluhkan wisatawan. Tidak jarang, pedagang memaksa wisatawan untuk membeli. Ini membuat wisatawan merasa kurang nyaman.

Dinas Pariwisata Provinsi NTB bersama Pemda Lombok Tengah telah merancang jalan keluar untuk membuat pedagang tidak lagi berjualan di pantai. Salah satunya dengan membuat pojok UMKM (Usaha Mikro Kecil Menangah) yang nantinya dapat digunakan berjualan oleh para pedagang. Tentu saja ini membutuhkan waktu hingga pembangunan pojok UMKM itu rampung dikerjakan.

‘’Kita berharap dengan adanya pojok UMKM ini, pedagang tidak lagi mengejar wisatawan untuk membeli. Tetapi mereka ini yang didatangi oleh wisatawan. Ini kan jadinya sama-sama nyaman,’’ kata Kepala Dinas Pariwisata Provinsi NTB H.L.Moh Faozal, S.Sos.,M.Si belum lama ini.

Pedagang asongan ini memang masih menjadi persoalan yang harus diatasi. Apalagi KEK Mandalika masih menjadi salah satu destinasi wisata prioritas di Indonesia. Sehingga kualitasnya paling tidak harus sama dengan destinasi wisata prioritas lainnya.

Keberadaan pojok UMKM ini sangat didukung oleh Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) NTB. Sebab Mandalika merupakan salah satu destinasi wisata prioritas yang masuk dalam daftar promosi BPPD. Selain soal keamanan dan kebersihan, keberadaan pedagang asongan ini juga perlu diperhatikan.

‘’Itu bisa saja membuat wisatawan merasa kurang nyaman. Karena pedagang ini mengikuti ke mana wisatawan pergi. Wisatawan kan mau nikmati keindahan alam, kalau begitu kan jadi terganggu. Jadi keberadaan UMKM Corner ini sangat baik untuk pada pedagang,’’ ujarnya.

Pemerintah akan membuat setidaknya 300 unit bangunan untuk pojok UMKM. Pemda sudah menyiapkan lahan seluas 1,3 hektar untuk menjadi tempat pembangunan ratusan unit bangunan itu. Sehingga diharapan di masa mendatang tidak ada lagi pedagang asongan yang berjualan di pinggir pantai kawasan Mandalika.

‘’Kami sudah siapakan lahan setidaknya 1,3 hektar untuk membangun UMKM Corner (pojok UMKM) di kawasan Mandalika. Ini merupakan salah satu upaya kami agar para pedagang (asongan) memiliki tempat berjualan tetap, jadi tidak berkeliling lagi,” kata Faozal.

Ia mengatakan, nantinya masyarakat yang dapat menyewa dengan harga yang relatif murah. Setiap bangunan akan dipasangkan tarif hingga Rp 2 juta. Ini dapat dicicil setiap bulannya, sehingga para pedagang merasa lebih ringan. Ini juga akan meningkatkan pendapatan para pedagang, karena akan didatangkan sejumlah wisatawan yang berkunjung.

‘’Mereka bisa menyicil dari harga Rp 2 juta itu. Mereka bisa punya tempat kan tidak perlu khawatir kehujanan atau kepanasan kalau sedang jualan,’’ ujarnya.

Jadi Atensi Menteri

Sebelumnya, Menteri Pariwisata RI Arief Yahya mengatakan bahwa para pedagang asongan itu harus diberikan wadah. Sehingga tidak lagi mengejar-ngejar wisatawan atau calon pembelinya. Dengan adanya pusat UMKM, diharapkan dapat membuat wisatawan merasa lebih nyaman.

Selain itu, para pedagang juga memiliki tempat untuk berjualan tetap setiap hari. Sebab selama ini banyak pedagang asongan yang terkesan mengganggu kenyamanan wisatawan yang datang.

Menurutnya, pembuatan pusat UMKM ini bisa memberikan dampak yang baik bagi pedagang, seperti semakin bertambah omzet penjualannya. Selain itu, kondisi di pantai juga bisa lebih bersih dari sebelumnya.

Arief menilai bahwa peningkatan kualitas SDM di Mandalika memang sangat perlu dilakukan. Sehingga wisatawan merasa senang karena mendapatkan pelayanan yang memuaskan. Selain itu, ia juga melihat perlu adanya manajemen yang teratur dalam mengelola destinasi atau produk pariwisata. (why/ars/lin)