Ketika PKL Berburu Rezeki di Musim Haji

Mataram (Suara NTB) – Jalan Lingkar Selatan Mataram biasanya agak lengang. Sepekan terakhir suasana di ruas jalan itu, berbeda. Pasar dadakan muncul, masyarakat dan pedagang kecil tumpah ruah di sana.

Ya, mereka berebut rezeki dari berkah musim haji. Para PKL menjamur. Menjajakan jualannya di jalan dr. Soedjono Lingkar Selatan. PKL dan pedagang asongan ini menyerbu komplek asrama haji Provinsi NTB di Mataram.

Iklan

Para pedagang dadakan ini jauh-jauh hari sebelum pemberangkatan haji sudah mempersiapkan diri mengisi trotoar kosong di sepanjang jalan aspal persis di depan Gedung DPRD Kota Mataram, hingga depan Pengadilan Tata Usaha Mataram. Mereka membangun lapak-lapak sederhana.

Sejak lebih dari sepekan, JCH (Jemaah Calon Haji) asal NTB diberangkatkan. Setiap hari pemberangkatan, ratusan bahkan ribuan manusia tumpah ruah memadati jalan-jalan di Lingkar Selatan. Mereka datang dari berbagai penjuru di NTB, mengantarkan sanak saudaranya menunaikan rukun Islam kelima.

Para pengantar JCH bahkan rela bermalam dan membangun tenda-tenda sederhana, atau tertidur berdesakan di pinggir-pinggir jalan di Jalan Lingkar Selatan. Atau membuat tenda sederhana di atas mobil-mobil bak terbuka yang mengangkut para pengantar JCH ini.

Tentu, ini menjadi peluang besar bagi para pedagang kecil, atau bagi mereka yang pandai menangkap peluang. Tak heran, hampir setiap hari dijumpai pedagang dadakan yang menjual berbagai macam kebutuhan tambahan para pengantar JCH.

Dari penjaja es, pedagang buah, cilok, bakso, pakaian, pedagang mainan, pedagang nasi dan makanan tambahan, bahkan penyedia jasa hiburan anak-anak. Seluruhnya membaur memadati trotoar di Lingkar Selatan. Meskipun di satu sisi, aktivitas ini menyisakan sampah yang tidak sedikit.

Sudirman adalah satu dari sekian pedagang buah yang ikut ambil bagian ‘’merogoh’’ kantong-kantong para pengantar JCH. Dia menyiapkan berbagai jenis buah-buahan yang bisa dibeli. Sudirman termasuk yang sangat bersyukur dengan datangnya musim haji.

Betapa tidak, dalam sehari ia bisa berjualan buah hingga Rp 4 juta. Puluhan tahun ini melakoni usaha sebagai pedagang buah, lapak permanennya ada di Loang Baloq, tak jauh dari asrama haji. Biasanya di Loang Baloq ia hanya mendapatkan hasil penjualan Rp 700.000.

“Alhamdulillah, banyak pembeli. Sehari saya bisa berbelanja buah lebih dari Rp 4 juta,” ujarnya.

Dalam beberapa hari terakhir, Sudirman bisa mengantongi puluhan juta rupiah yang berputar dari usahanya. Musim haji menurutnya momen yang sangat dinanti-nanti.

Sama halnya dengan Sudirman, H. Arifin yang juga menjual perlengkapan haji dan kebutuhan ibadah lainnya, mengaku mampu berjualan hingga Rp 2 juta sehari. Ia adalah pedagang di pasar Bertais, Sweta Mataram.

Ia juga ikut menangkap peluang musim haji, dengan mendirikan lapak sederhana dari tanah yang disewa sementara di depan Asrama Haji Mataram. Biasanya, dia hanya bisa berjualan Rp 300.000 sehari. Saat musim haji, penjualannya berlipat-lipat.

“Tahun ini pembelian agak sepi, banyak juga yang hanya sekedar jalan-jalan dan liat-liat barang,” demikian H. Arifin. (bul)