Ketika Kopi NTB Sukses Mencuri Perhatian Dunia

Suasana pameran kopi di Istanbul Turki yang diikuti petani kopi dari NTB tanggal 15-18 September lalu. Tampak pengunjung sedang bertanya sekaligus memesan kopi dari NTB dalam jumlah besar. (Ekbis NTB/ist)

Kualitas kopi NTB tidaklah kalah saing dengan kopi dari negara di dunia. Kopi NTB dengan citarasa yang beda membuat pecinta kopi tertarik untuk mencobanya. Faktanya, saat diberikan kesempatan ikut dalam pameran kopi terbesar di dunia, yakni  Coffex Istanbul di Turki 15-18 September 2021 lalu, banyak pecinta kopi dari beberapa negara memesannya.

COFFEX Istanbul adalah event bersekala internasional yang digelar oleh asosiasi pengusaha di kota yang dulu dikenal dengan Konstantinopel itu. Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Istanbul, memfasilitasi perwakilan Indonesia mengikuti pameran kopi di sana.

Iklan

Tiga perwakilan Indonesia ikut pada kegiatan ini. Yakni Kopi Jawa, Kopi Sumatera, dan Kopi NTB. Tetapi NTB yang ikut paling lengkap. Jika kopi-kopi lainnya hanya dipamerkan kopi dalam bentuk bubuk dan siap saji, lain halnya dengan NTB.

Rombongan diikuti dari unsur Dinas Perdagangan, petani kopi sekaligus eksportir dua orang yang ikut, yaitu Lalu Thoriq dari UD. Berkah Alam dan Wiwin Suryani dari UD. Kopi Punik Sumbawa.

Yang menariknya, kopi yang dibawa sebagai contoh mulai dari biji (green bean), yang sudah dikemas. Dan disajikan langsung. Petaninya langsung yang menjadi roasternya.

Kopi NTB sukses mencuri perhatian pecinta kopi dan berbagai belahan dunia yang hadir pada acara itu. Dibanding kopi-kopi lainnya. Pengunjung bisa melihat langsung kualitas biji kopi NTB sekaligus mencicipi citarasanya.

Permintaan kemudian mengalir masuk . Pertama dari pembeli asal Mesir. Tak tanggung-tanggung, 30 kontainer diminta atau setara dengan 600 ton. Kemudian dari Arab Saudi dan Aljazair, permintaannya sebanyak 10 dan 20 kontainer (30 kontainer = 600 ton). Kemudian menyusul permintaan dari Libya dan Turki yang memesan 12 kontainer atau setara dengan 250 ton.

 ‘’Tidak saja memesan, bahkan buyer dari Mesir ingin berkunjung langsung ke NTB untuk melihat perkebunan kopi kita. Ini apresiasi yang luar biasa. Dunia terbuka melihat kopi-kopi NTB. Citarasa kopi kita yang paling disenangi,’’ ujar Baiq Nelly Yuniarti, Sekretaris Dinas Perdagangan Provinsi NTB yang turut mendampingi rombongan NTB pada Ekbis NTB belum lama ini

Tingginya pesanan kopi ini membuat pihak KJRI di satu sisi merasa khawatir. Apakah permintaan tersebut mampu dipenuhi oleh NTB. Jika tidak, otomatis akan membuat citra Indonesia menjadi tidak baik di mata internasional. Karena itu, Kementerian Pertanian juga ikut memberikan atensi.

“Di hari terakhir, kami semua dikumpulkan. Apakah mampu memenuhi permintaan negara-negara itu. Karena sudah disanggupi, harus mampu. Bahkan Pak Konjen meminta kalau tidak mampu dipenuhi, agar segera melapor untuk dicarikan di tempat lain. Pak Konjen masih tetap tanya sampai sekarang,” imbuh Baiq Nelly.

Tingginya permintaan kopi dari luar negeri ini dalam beberapa terakhir akan disampaikan ke Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah oleh Kepala Dinas Perdagangan Provinsi NTB, Drs. H. Fathurrahman, M. Si., secara langsung. Namun terbentur jadwal Gubernur yang cukup padat, sehingga laporan masih belum disampaikan.

Baiq Nelly mengatakan, permintaan kopi dari berbagai negara itu sudah disanggupi. Alasan disanggupinya karena melihat potensi produksi kopi NTB mencapai 6.000 ton. Setelah berkoordinasi langsung dengan Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB.

Namun ada faktor lain yang harus dipikirkan bersama setelah permintaan tersebut disanggupi. Pertama soal modal, karena nilai pesanan kopi mencapai puluhan miliar rupiah. Tentu berat bagi petani kopi untuk memenuhi langsung. Begitu juga dengan sarana serta aturan yang mengikat.  ‘’Persoalannya petani kita kan ndak akan lepas komoditi sebelum uang cash,’’ imbuhnya.

Sehingga salah satu alternatifnya adalah harus ada agregator besar (perantara/pemodal) yang nantinya menyediakan modal atau menjadi pengumpul komoditi untuk memenuhi permintaan dari luar negeri tersebut.

Untuk itu, ujarnya, Dinas Perdagangan sudah melakukan komunikasi dengan Kamar Dagang Indonesia (Kadin). Namun pilihan agregator ini dipastikan belum final. Jika memungkinkan perusahaan daerah dilibatkan, mengapa tidak. Tergantung petunjuk kepala daerah nantinya.

Mengapa pemerintah daerah sangat bersemangat memenuhi permintaan kopi dari luar negeri ini. Alasannya, merupakan momentum untuk membranding kopi NTB di kancah internasional. Adanya branding ini nantinya diproyeksikan akan berdatangan pembeli-pembeli kopi dari luar negeri yang membutuhkan kopi-kopi olahan (kemasan). Tentu, ini peluang bagi petani dan pegiat dan UMKM kopi.

“Dan kami sangat mengharapkan, setelah terbukanya pasar Eropa, dampak ikutannya kepada petani-petani kopi di NTB akan sangat besar. Ini harus menjadi perhatian bersama dan bersungguh-sungguh,” ujarnya. (bul)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional