Ketika Anak-anak Mengemis dalam Tekanan Keluarga

Mataram (Suara NTB) – Mental anak-anak dipertaruhkan hanya demi memungut rupiah dari jalanan. Ada orang dewasa, orang tua di balik aktivitas itu. Logika mereka diubah, mencari uang lebih menguntungkan dari  menempuh pendidikan. Sebagian terpaksa putus sekolah, sebagian tetap sekolah siang, malamnya mengemis.

Penelusuran Suara NTB ke sejumlah anak di ruas jalan Cakranegara, mereka mengakui memang mereka disuruh bekerja oleh keluarga tempat mereka numpang hidup. Sebab rata-rata dari mereka adalah anak-anak yang berasal dari keluarga yang ibu bapaknya sudah bercerai.

Iklan

‘’Saya tinggal di rumah nenek saya, ibu bapak saya cerai, sekarang mereka di Malaysia, ndak pernah pulang,’’ ungkap Rizki, Kamis, 12 Oktober 2017 lalu, saat menyusuri jalan Pejanggik Cakranegara.

Rata-rata setiap hari, mulai dari pukul 18.00 Wita sampai pukul 23.00 Wita, Rizki meraup receh dan uang kertas hingga   Rp 50 ribu. Ketika ditanya uang yang ia dapatkan itu digunakan untuk apa? Rizki menjawab untuk ditabung di bank. Pengakuan Rizki ini membuat Suara NTB semakin penasaran. Sebab anak belia  yang masih duduk dibangku SD  sudah bisa menabung di bank.

‘’Bukan saya, nenek saya yang tabung, saya kasi dia, untuk ditabung, buat biaya sekolah,’’ tutur Rizki polos, yang mengaku dari Monjok Kebon, Mataram.

Rizki selalu berjalan berdua dengan salah satu temannya yang bernama, Putra. Oleh Rizki diakui sebagai adiknya. Pengakuan Putra hampir sama dengan penuturan dari Rizki. Bahkan kotak amal yang ia bawa sebagai tempat menaruh uang, dibuat sama neneknya. ‘’Papuk yang buat,’’ kata Putra yang nampak umurnya beberapa tahun lebih kecil dari Putra.

Desi (30), bibi dari Rizki dan Putra, terus berjalan menyisir pinggir Jalan Pejanggik. Sesekali badannya dibungkukkan, memungut kardus dan kaleng yang bisa dikumpulkan untuk dijual kiloan.

Desi mengaku, dua bocah yang selalu membuntuti di belakangnya itu kedua orang tuanya berpencar. Ibunya menjadi TKW, sementara ayahnya hilang tanpa kabar di Kalimantan. “Ya, akhirnya saya sama neneknya yang urus,” tuturnya.

Jika mengandalkan hasil memulung, mustahil bagi Desi untuk biaya sekolah kedua bocah itu. Jalan instan adalah mengembis, menyodorkan kotak amal yang ditulis “sumbangan yatim piatu”. Cara itu menurut Desi tidak lain untuk memenuhi kebutuhan hidup keponakannya, bahkan menambah penghasilan dari memulung.

Penuturan, Inaq Saimah, salah satu penjual nasi bungkus di pinggir Jalan Pejanggik itu. Anak-anak tersebut sering dilepas dan dijemput persis di samping warung tempat ia jualan. Sehingga ia mengenali dengan persis wajah-wajah anak-anak dan para pengantarnya itu.

‘’Biasanya di sini sudah anak-anak itu diturunkan, nanti pas mau pulang dijemput di sini juga,’’ kata Inaq Saimah menuturkan kepada Suara NTB, sambil menujuk lokasi di samping warungnya yang dijadikan sebagai tempat mereka ditunggu untuk dijemput.
Inaq Saimah juga mengaku cukup akrab dengan anak-anak tersebut. Karena di sela-sela ia bekerja, mereka mampir ke warungnya untuk makan dan minum.
‘’Mereka sering makan di sini, kadang saya kasihan lihat mereka, kadang sesekali saya gratiskan mereka makan di sini,’’ tuturnya.

Saimah juga sempat pernah menayai mereka, soal keberadaan orang tuanya. Tapi oleh anak-anak itu tidak dijawab dengan serius.
Namun demikian, meskipun sangat akrab dengan anak-anak tersebut, Saimah hampir tidak kenal dengan orang-orang yang biasa mengatar dan menjemputnya. Karena tidak pernah berkomunikasi.

Tapi ia seringkali juga merasa sakit hati oleh salah satu perempuan yang membawa anak-anak tersebut, karena perlakuannya terhadap anak-anak yang sangat keras. Sementara perempuan yang tidak  ketahui namanya oleh Saimah, berpenampilan ala bos, dengan dandanan yang cukup mencolok.

Itulah hal yang membuat ia meyakini bahwa anak-anak tersebut memang sengaja diperkerjakan untuk meminta-minta pada orang.

Melanggar Hak Anak

Anak yang dipekerjakan dilihat otomatis melanggar hak anak. Dari 10 hak anak, salah satunya adalah bermain dan mendapatkan pendidikan. Ketika anak – anak diminta bekerja, secara psiokologis  anak itu memiliki tuntutan harus mencari uang. Pada akhirnya menyita banyak waktu untuk bermain, belajar, dan menjadi sehat.

‘’Jadi, psikologis meminta – minta sesuatu ini, mereka berpikir praktis bahwa mereka cukup meminta, lalu akan ada hasilnya,’’  kata Psikolog Anak, Pujiorahman.

Secara kognitif, akhirnya memotong proses berpikir ada. Misalnya, orang berpikir bekerja keras dan cerdas untuk sukses. Pada kenyataannya anak – anak di jalanan itu harus meminta – minta, kemudian merubah pola perilaku yang instan. Perilaku seperti ini berpengaruh ketika tumbuh dewasa. Pada akhirnya semakin banyak ditemukan anak seperti itu,maka jadi sesuatu yang mengkhawatirkan berakibat pada kualitas generasi bangsa.

Di Kota Mataram, tentu ini sebuah preseden buruk untuk anak – anak di sekitar. Namun ketika anak – anak turun ke jalan, artinya ada keterlibatan orang – orang dewasa.

Saran dia, pihak – pihak terkait seperti pemerintah dan swasta harus ikut tegas menyelesaikan masalah orang dewasa, menyuruh anak – anak mereka untuk bekerja. ‘’Saya pikir harus ada tindakan tegas, karena ini proses pembelajaran yang tidak bagus,’’ tandasnya.

Di satu sisi, penyebab anak turun ke jalan di daerah disebabkan faktor kemiskinan. Akhirnya, jadi PR dinas terkait karena merusak program yang selama ini ada. Contoh, program di Dinas Tenaga Kerja atau Dinas Sosial memiliki tupoksi untuk membantu masyarakat untuk menaikan harkat martabat mereka.

‘’Ketika ini masih ada. Jadi PR besar dan mempengaruhi kinerja pemerintah di masyarakat,’’ ucapnya.

Dalam kasus ini, ada anak yang dipekerjakan oleh orangtuanya dan sindikat. Ketika di pekerjakan orangtua lanjutnya, ia yakin tidak semua anak ingin bekerja. Akan tetapi, tidak diketahui bagaimana latar belakang sebelumnya. Kemungkinan, ada kekerasan fisik, verbal dan ancaman. Sehingga akhirnya anak mau melakukan itu. Secara psikologis jadi masalah lagi. Lalu yang dipekerjakan oleh sindikat. Sebenarnya, anak – anak tidak mau melakukan itu. Mereka dipaksa, belum lagi hasil yang didapat dirampas. Yang perlu dikhawatir, anak sudah terbiasa dengan marah dan kekerasaan fisik. Mereka akan terbiasa dengan perilaku kriminal.

‘’Perilaku meminta dan ditambah ada pengalaman kekerasaan membuat kriminalitas lebih besar. Perampokan, pembunuhan, kekerasaan peradilan,’’ terangnya.

Dia mengatakan, anak yang terbiasa bekerja di satu sisi berpengaruh terhadap kekuatan mentalitas mereka. Ketika, mereka dewasa maka terbiasa, karena telah ditempa atau dibentuk oleh kemiskinan.

Otomatis jenjang usia, mereka terbentuk terbiasa untuk bekerja. Mereka tidak lagi mengharap bantuan orangtua dan gengsi. Terkait faktor pendidikan, ia melihat bahwa anak berjualan atau meminta – minta di jalan biasanya setelah pulang sekolah. ‘’Mereka tidak mengalah dengan nasib,’’ ucapnya.

Untuk menghilangkan perilaku itu, tidak saja jadi tanggungjawab pemerintah. Tetapi, masyarakat juga harus berani untuk tidak memberikan ke anak – anak yang turun di jalan. (ndi/ars/cem)