Ketergantungan Impor, Perajin Tahu Tempe Kesulitan Siasati Kenaikan Harga Kedelai

Hedmi memeras sari kedelai, sebelum dicetak menjadi tahu.(Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Harga kedelai impor mengalami kenaikan. Kondisi ini menyulitkan para perajin tahu tempe. Pemprov NTB mendorong produksi kedelai lokal ditingkatkan. Dua orang perajin tahu tempe bekerja membuat tahu di salah satu rumah produksi di Kekalik, Kota Mataram, Senin, 4 Januari 2021. Keduanya bekerja di tengah panas ruangan produksi di depan tungku besar berisi sekam yang menyala. Salah seorang diantaranya adalah Hedmi.

Kekalik adalah salah satu sentra legendaris produksi tahu tempe. Sampai saat ini. tahu Kota Mataram bahkan sangat ikonik di tanah air. Belakangan para perajin tahu tempe menjerit, harga kedelai impor naik. Di Pulau Jawa, tiga hari pekan kemarin para perajin tahu tempe mogok produksi. Karena kenaikan harga kedelai impor. Kedelai yang menjadi bahan baku produksi tahu tempe selama ini menggunakan kedelai dari Amerika Serikat.

Keunggulan kedelai impor dari sisi kebersihannya. Kedelainya juga unggul, bijinya besar. Sudah sekian lama para perajin tahu tempe di dalam negeri mengandalkan kedelai impor, karena lebih unggul dan ketersediaan bahan bakunya di pasaran relatif stabil memenuhi kebutuhan para perajin tahu tempe. Beda halnya dengan kedelai lokal, bijinya lebih kecil, cenderung kotor, dan kontinuitasnya tidak bisa menjamin kebutuhan bahan baku membuat tahu tempe.

Hedmi menyebut, beberapa hari terakhir harga kedelai impor sudah naik menjadi Rp1 juta/ton. Atau Rp10.000/Kg. Dari sebelumnya hanya Rp800.000/ton atau Rp8.000/Kg. Harga Rp800.000/ton inipun sebenarnya memberatkan bagi para perajin. Marjin yang didapat kecil. Perajin agak longgar saat harga kedelai impor Rp600.000/ton.

Hedmi mengatakan, kenaikan harga bahan baku kedelai impor, tidak lantas perajin dapat menaikkan harga jual tahu atau tempe. Di pasaran, harga tidak bisa dinaikkan, mengikuti kenaikan harga bahan baku. “Harga di pasar ndak mungkin dinaikkan. Yang bisa kita lakukan, mengurangi ukuran,” kata Hedmi. Jika sebelumnya, dalam sekilo kedelai dapat menghasilkan satu cetakan tahu, yang kemudian di potong-potong kecil lagi untuk diecer. Takarannya dikurangi dari sekilo untuk menghasilkan satu cetakan. Satu cetakan dijual seharga Rp25.0000. diecer oleh pedagang di pasaran antara Rp30.000 hingga Rp35.000.

“Tidak bisa komponen-komponen lain kita kurangi juga,” imbuhnya. Sehari di ruang produksi itu, memproduksi sebanyak 500 Kg bahan baku kedelai. Murni menggunakan kedelai impor. Bahan baku didapat dari salah satu toke di Ampenan. Permintaan tahu tempe tetap tinggi menurutnya. Selama ini, dari hasil home industri tahu tempe inilah, ekonomi masyarakat di Kekalik Mataram banyak tertolong.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi NTB, Drs. H. Fathul Gani, M.Si mengatakan, pihaknya telah menurunkan tim ke sentra-sentra produksi tahu tempe untuk mengidentifikasi persoalan. Perajin tahu tempe di NTB lebih memilih kedelai impor karena keunggulan dan kualitasnya. Jarang para perajin yang menggunakan kedelai lokal. Akibatnya, petani lokal juga enggan menanam kedelai.

“Ini masalah juga, karena kedelai lokal kita agak kecil-kecil,” ujarnya. Untuk memaksimalkan produksi dan ketersediaan kedelai lokal ini, Gani mengatakan akan berkoordinasi dengan dinas terkait, Dinas yang membidangi pertanian. Tahu dan tempe ini memang tak masuk dalam 11 komoditas prioritas di NTB, akan tetapi karena menjadi pangan konsumsi keseharian, kesulitan bahan baku bagi perajin tahu tempe ini turut diperhatikan.

Berdasarkan data analisis ketersediaan, konsumsi dan surplus kedelai di Provinsi NTB tahun 2020, per November. Diketahui bahwa produksi komulitif kedelai NTB sebesar 29.825 ton. Jumlah kebutuhan kedelai di NTB tahun 2020 8,10 Kg/kapita/tahun, atau setara dengan 38.058 ton jika proyeksi jumlah penduduk sebenyak 5.125.622 jiwa. Kedelai masuk dari luar NTB selama tahun 2020 (per November) sebanyak 1.154 ton. Sementara kedelai yang keluar sebanyak 1.154 ton. Total defisit dari kebutuhan 9.580 ton. (bul)