Ketahuan, Pasangan Selingkuh Diusir dari Kampungnya

Terduga pelaku perselingkuhan S asal Desa Pengembur diamankan di Mapolres Loteng. (Suara NTB/kir)

Praya (Suara NTB) – Pasangan selingkuh asal Desa Pengembur Kecamatan Pujut Lombok Tengah (Loteng), S (29) dan D (21), kini harus menerima kenyataan diusir dari kampungnya masing-masing. Lantaran ketahuan selingkuh. Sebelumnya, S sempat hendak diamuk massa begitu hubungan terlarangnya terbongkar, Minggu, 10 Januari 2021.

Terbongkarnya hubungan terlarang tersebut bermula saat suami D, pulang dari Malaysia setelah cukup lama mengadu nasip sebagai TKI. Saat memeriksa handphone istrinya, suami D menemukan rekaman suara atau voice note keduanya di salah satu diaplikasi media sosial (medsos). Temuan itu membuat suami D dan keluarga geram dan langsung mendatangi rumah S.

Karena tidak menemukan S, suami D dan keluarganya lantas melampiaskan kemarahanya dengan melempari dum truck serta rumah S. Kejadian itu pun mendapat perhatian warga setempat. Tidak cukup sampai di situ, suami D terus mencari S hendak dihakimi. Aparat kepolisian yang mendapat informasi tersebut langsung bertindak cepat mencari dan mengevakuasi S ke Mapolres Loteng.

Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. “S berhasil diamankan oleh personel menuju Mapolres Loteng. Namun rumah dan dump truck miliknya sempat jadi sasaran amarah keluarga suaminya D,” terang Kasat Reskrim Polres Loteng, AKP Putu Agus Indra, SIK., Senin, 11 Januari 2021.

Pasca kejadian itu, keluarga dari kedua belah pihak kemudian bertemu membahas penyelesaian persoalan tersebut. Dan, disepakati kasus perselingkuhan tersebut agar diselesaikan melalui hukum adat yang berlaku di Desa Pengembur. Tentunya dengan melibatkan masing-masing keluarga beserta para tokoh masyarakat setempat. Mengingat dari kedua belah pihak sebenarnya masih ada hubungan keluarga.
Hasil rembuk adat antara kedua belah pihak diputuskan kedua pelaku perselingkuhan dikenakan denda adat berupa uang sebesar Rp 5 juta dan sanksi sosial. Di mana keduanya harus menerima kenyataan dikeluarkan dari kampungnya masing-masing.

“Dari hasil musyawarah adat, disepakati bahwa yang bersangkutan sudah dikenakan denda adat dan sanksi sosial sesuai aturan hukum adat yang berlaku di Desa Pengembur,” ungkapnya. Karena kasus perselingkungan tersebut oleh pihak kepolisian tidak dilanjutkan ke proses hukum. Lantaran sudah ada penyelesaian secara hukum ada. (kir)