Kesalahan Rilis, Dikhawatirkan Kepercayaan Publik akan Berkurang

 H.Ahyar Abduh, Drs. I Nyoman Suandiasa. (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Rilis yang dikeluarkan oleh Pemprov NTB menimbulkan gejolak. Dalam keterangan dipublish,Rabu, 10 Juni 2020 bahwa pasien M (56) dinyatakan meninggal dunia. Faktanya pasien sedang dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Mataram dalam kondisi membaik. Kesalahan fatal ini, dikhawatirkan akan mengurangi kepercayaan publik terhadap kerja pemerintah dan tenaga kesehatan.

“Tadi malam aparat keamanan sudah menenangkan keluarga dan masyarakat setempat. Sebelumnya, memang terjadi gejolak. Persoalannya kita tidak tahu dimana kekeliruannya,”kata Camat Cakranegara, Muhammad Erwan dikonfirmasi, Kamis, 11 Juni 2020.

Iklan

Diketahui, rilis dikeluarkan Pemprov NTB menyebutkan pasien nomor 865 atas nama Ny. M (56). Penduduk Kelurahan Mayura, Kecamatan Cakranegara. Pasien tidak pernah melakukan perjalanan ke daerah pandemi. Dan, pasien juga tidak pernah kontak erat dengan orang sakit Covid-19. Pasien meninggal dunia dan dilakukan tatalaksana Covid-19.

Mengacu dari informasi itu, tim gugus tugas di kecamatan menelusuri ke keluarga dan rumah sakit. Pengakuan pihak keluarga bahwa pasien sedang di rawat di rumah sakit. Erwan menyesalkan tidak akuratnya data dikeluarkan oleh provinsi. Kasus ini menjadikan petugas bingung.

Dia meminta Tim Gugus Tugas Penanganan Covid-19 NTB meralat informasi dan memberi klarifikasi ke publik.

“Kadang rilis yang dikeluarkan provinsi ini sering salah. Alamat tempat tinggal, usia pasien. Ini harus diperbaiki segera. Jangan sampai kepercayaan publik hilang,” tegasnya.

Pemerintah sebagai pelayan masyarakat harus berjiwa besar dan menyampaikan permohonan maaf ke publik. Menurut Erwan, ini dalam rangka memberi pelayanan yang terbaik bagi masyarakat.

Juru Bicara Tim Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Mataram, Drs. I Nyoman Suandiasa membenarkan kekeliruan rilis dikeluarkan oleh provinsi. Pihaknya telah mengecek bahwa pasien Ny. M dalam kondisi baik dan sedang menjalani perawatan di rumah sakit.

“Kalau kita melihat dampak di lapangan sangat riskan sekali. Sempat terjadi gejolak di masyarakat. Syukurnya, kecamatan bersama TNI dan Polri berhasil menenangkan keluarga pasien,”tambahnya.

Walikota Mataram, H.Ahyar Abduh juga menyesalkan kekeliruan informasi yang dikeluarkan provinsi. Hal ini berdampak terhadap keluarga dan masyarakat di Mayura. Langkah bijak harus diambil oleh provinsi dengan memberikan keterangan kembali ke publik,sehingga tidak ada gejolak yang timbul.

“Saya kira perlu diklarifikasi ke publik,”demikian pintanya. (cem)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional