Kesaksian dan Trauma Warga di Lokasi Penemuan Jenazah yang Tergantung

Rumah tempat ditemukannya jenazah almarhumah Linda yang menggantung, saat ini masih dipasangi garis polisi. (Suara NTB/bul)

Mataram (suarantb.com) – Warga perumahan tempat penemuan jenazah Linda Novita Sari yang menggantung, mengisahkan serangkaian kejadian di seputar tragedi tersebut. Dari lolongan anjing di malam yang dingin, hingga lampu penerangan yang ditambah demi menetralisir psikologi warga.

Malam itu, Jumat, 24 Juli 2020, cuaca di Kota Mataram sedang dingin-dinginnya. Dari atas balkon rumahnya, L. Wahidin, Ketua RT 13 Komplek Perumahan Royal Mataram merasakan sesuatu yang tak biasa. Di kejauhan, ia melihat anjing putih terus melolong. Perilaku hewan ini membuatnya bertanya-tanya.

Iklan

“Anjingnya kecil, tapi lolongannya sangat beda. Itu yang membuat saya merasa agak aneh malam itu,” tutur Wahidin kepada Suara NTB, Rabu, 5 Agustus 2020.

Keganjilan dan firasat yang ia rasakan di malam itu baru terjawab keesokan harinya. Sabtu sore, 25 Juli 2020, Wahidin dan warga di Jalan Arafah II, RT 13 gempar oleh penemuan jenazah Linda.

Jasad Linda ditemukan pertama kali oleh Titik, sahabat Linda. Menurut pengakuan Titik, sudah dua hari ia tak bisa berkomunikasi dengan almarhumah. Titik mengaku diminta oleh Rio, kekasih Linda untuk mengecek keberadaan Linda di rumahnya. Lantaran, telepon dan pesannya tak dibalas. Rio mengaku, saat itu sedang berada di Bali, mengantar adiknya mengikuti tes.

Ketika membuka pintu rumah, Titik histeris melihat karibnya sudah dalam keadaan kaku dan mengantung. Oleh penghuni samping rumah, Wahidin sebagai ketua RT ditelepon agar membantu menenangkan Titik.

Setelah Titik menyampaikan apa yang dilihatnya, Wahidin dan beberapa warga yang datang kemudian memasuki rumah. Di dalam, mereka menyaksikan pemandangan yang cukup menghentak.

Jasad Linda ditemukan dengan leher tergantung pada tali berwarna oranye. Ia mengenakan celana merah marun dan baju singlet hitam. Menurut pengakuan warga, bibir Linda telah menghitam. Diperkirakan, Linda telah meninggal lebih dari sehari.

Petugas dari Polsek Ampenan dan Polres Kota Mataram kemudian datang mengidentifikasi. Wahidin sebagai perangkat RT diminta oleh Petugas Kepolisian menyaksikan kembali kondisi korban, jerat gantungan, hingga properti di sekitar saat itu. Polisi kemudian meminta kesaksian warga. Lalu, jasad almarhumah diturunkan dan dievakuasi.

Hingga berita ini ditulis, rumah nomor 04 Jalan Arafah II itu masih dipasangi garis polisi. Tragedi ini, tak urung memengaruhi psikologi warga sekitar. Beberapa hari setelah kejadian, gang dengan 12 rumah ini langsung sepi dari aktivitas.

Warga di kiri dan kanan rumah tempat ditemukannya mayat korban dihinggapi rasa takut. Seorang pemilik rumah di ujung di gang Arafah II ini bahkan mengungsi. Memilih tinggal di kontrakan lain di luar komplek.

Beberapa warga di sekitar rumah itu juga dihinggapi perasaan serupa. Ketika malam datang, mereka bahkan sengaja mengundang keluarga untuk menemani mereka. Sebagian lagi sengaja pergi ke rumah kerabat, sembari menunggu suami pulang bekerja.

“Sampai wudhu dan salat subuh saja, kita berpikirnya aneh-aneh, takut,” kata Stefa Maha Putra, tetangga sekitar.

Sementara, sebagian warga lainnya bisa menyikapi kejadian ini dengan biasa saja. “Dua hari tiga hari setelah kejadian memang suasananya beda. Wajar. istri saya bahkan tutup lubang-lubang tembok yang menjadi pembatas rumah saya dan rumah sebelah,” kata Rudi, pemilik rumah di samping TKP.

Untuk menetralisir suasana, Wahidin kemudian mengambil inisiatif. Mereka menggelar yasinan bersama di Jalan Arafah II. Yasinan dilakukan selama beberapa malam. Kegiatan ini selalu ramai diikuti warga komplek.

Namun, tragedi kematian almarhumah Linda tetap saja masih menyisakan kesedihan bagi warga komplek setempat.

Kini, lampu setiap rumah nomor 04 Jalan Arafah II tetap dinyalakan. Gang ini juga telah ditambah penerangannya agar lebih terang di malam hari. Penerangan yang lebih kuat diharapkan bisa meminimalisir kesan angker yang sulit dihindari setelah tragedi ini.

“Kita berharap, agar secepatnya kasus ini terungkap. Agar penafsiran orang luar tidak liar terhadap kasus ini. Mau bagaimana lagi. Ndak mungkin juga karena kasus ini kemudian kita jual rumah,” demikian Nino, Bendahara RT 13.

Warga sekitar pelan-pelan ingin memulihkan keadaan. Kegiatan nongkrong dan lalu lalang di gang Arafah II perlahan mulai normal, kendati suasananya tak lagi seperti biasa. (bul/aan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here