Kerak Kemiskinan di Mataram Sulit Diatasi

Mataram (Suara NTB) – Tak tercapainya penurunan angka kemiskinan di Kota Mataram di posisi satu persen, dipicu oleh kerak kemiskinan yang kuat di tengah masyarakat. Penduduk miskin berjumlah 9,55 persen atau 43 ribu kepala keluarga. Didominasi oleh akibat proses pendidikan, mental dan pendapatan.

Kepala Dinas Sosial Kota Mataram, Baiq Asnayati kepada Suara NTB belum lama ini mengatakan, pemerintah pusat maupun Pemerintah Daerah terus berikhtiar menekan melalui intervensi program. Di antaranya, Kartu Indonesia Pintar IKIP), Kartu Indonesia Sehat (KIS), Program Keluarga Harapan (PKH) serta bantuan social (bansos) lainnya.

Iklan

“Masyarakat yang diberikan bantuan malah tidak mau keluar dari kemiskinan,” kata Asna.

Secara grafik penurunan penduduk miskin terlihat di periode 2012 – 2014. Statistik angka kemiskinan sejak 2011 – 2017. Di tahun 2011 jumlah penduduk miskin 53.736 jiwa atau 13,81 persen. Mengalami penurunan di 2012 menjadi 11,87 persen atau 49.633 jiwa.

Selanjutnya, di 2013 berkurang jadi 46.674 jiwa atau 10,75 persen. Tahun 2014 sebanyak 46.673 jiwa atau 10,53 persen. Pada posisi 2015, penduduk miskin di Mataram 46.670 jiwa atau 10,45 persen.  Di tahun 2016, penduduk miskin 9,80 persen atau 44.810 jiwa. Dan, di 2017 lalu penduduk miskin Kota Mataram tersisa 9,55 persen.

Untuk menekan kasus itu menurutnya, tidak bisa Disos bekerja sendiri. Artinya, perlu koordinasi dan sinergi masing – masing organisasi perangkat daerah. “Urbanisasi juga jadi faktor menambah kemiskinan,” ujarnya.

Pihaknya mengintervensi kemiskinan menggunakan data secara terpadu, terarah dan berkelanjutan. Penduduk miskin by name by addres per kelurahan dan lingkungan.Data ini dikoordinasikan dengan OPD, supaya lebih konkret penanganannya di lapangan. Khusus anggaran penanganan kemiskinan di Dinas Sosial mencapai Rp 1 miliar lebih. (cem)