Kerajinan Cukli, Sepi karena Pandemi

Mustaal, perajin cukli di Lingkungan Rungkang Jangkok, Kelurahan Sayang-sayang memasukkan potongan cukli ke dalam ukiran meja, Senin (10/1). Kerajinan cukli di Mataram mulai ditinggalkan oleh wisatawan yang berakibat banyak perajin beralhi profesi. (Suara NTB/cem)

Deretan toko kerajinan di Jalan Hasanuddin, Lingkungan Rungkang Jangkok, Kelurahan Sayang-sayang, terlihat sepi. Beberapa orang lelaki sibuk memahat ukiran kayu dan memasukkan potongan cukli ke dalam ukiran tersebut. Tak ada kendaraan pariwisata terparkir. Ruangan yang dijadikan tempat menyimpan hasil kerajinan mulai berdebu.

SEORANG perajin, Mustaal (45), tampak sangat teliti memasukkan potongan cukli ke dalam ukiran kayu yang sudah diberikan lem berwarna putih. Berulangkali ia memukul-mukul bagian kayu itu. Potongan cukli berjejer rapi dan terlihat cantik.

Iklan

Mustaal cukup lama bekerja sebagai perajin. Rutinitas ini digeluti sejak masih muda. Saat kerajinan cukli banjir pembeli, ia juga mendapatkan bonus dari bosnya. Kejayaan cukli mulai pudar. Rungkang Jangkok yang dikenal sebagai destinasi wisata atau sentra kerajinan mulai ditinggalkan. “Kerajinan ini ditimpa pandemi. Sepi gara-gara corona,” tuturnya ditemui, Senin, 10 Januari 2022.

Pemilik Kerajinan Cukli H. Ahmad Fauzi menuturkan, pandemi Covid-19 menjadi ujian terberat bagi para pengusaha cukli di Mataram. Dulu jumlah pengusaha cukli di Rungkang Jangkok mencapai puluhan. Kini hanya bisa dihitung dengan jari. “Sekarang hanya beberapa saja yang bertahan sementara yang lainnya tutup,” katanya.

Dia membandingkan kondisi sebelum pandemi. Kerajinan cukli banyak diburu oleh wisatawan domestik dan mancanegara. Barang dikirim ke Pulau Jawa dan Jakarta. Sebagian peminatnya dari luar negeri. Kondisi saat ini, pihaknya bersyukur bisa bertahan. Hasil kerajinan diambil oleh instansi pemerintah. “Kalau kirim keluar tamunya tidak ada. Paling yang ngambil pemda untuk kebutuhan meubel di kantornya,” terangnya.

Penjualan per bulan tidak bisa diprediksi. Adakalanya kata Fauzi, ramai pembeli. Tetapi kadang tidak ada sama sekali. Kerajinan cukli paling banyak diminati adalah souvenir yang jenis barangnya unik dan agak rumit. Untuk harga jual souvenir seperti satu set meja dijual Rp15 juta – Rp20 juta. Harga ini tergantung dari bahan yang diinginkan oleh pembeli. Sedangkan, souvenir kecil seperti kotak tisu dan tempat air harganya terjangkau. “Paling banyak dicari itu kotak tisu sama tempat air mineral,” sebutnya.

Pagelaran MotoGP pada bulan Maret mendatang diharapkan bisa memberikan dampak positif bagi perajin cukli di Mataram. Pasalnya, wisatawan mancanegara banyak datang ke Lombok.  Disinggung ketersedian bahan baku, ia mengatakan tidak ada masalah. Distribusi cukli banyak dikirim dari Nusa Tenggara Timur, Sulawesi dan Maluku. “Alhamdulillah, masalah bahan baku tidak jadi kendala. Banyak nelayan yang kirim kemari,” ucapnya.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Mataram, H. Nizar Denny Cahyadi mengatakan, pihaknya memiliki cara untuk kembali mendatangkan wisatawan yakni memperbaiki destinasi wisata seperti penataan Taman Wisata Loang Baloq. Di Loang Baloq sudah disiapkan kios cindera mata. Nantinya akan diisi oleh para perajin cukli, perajin mutiara dan lain sebagainya. Setelah itu beroperasi baru kemudian diintervensi kampung-kampung perajin. “Destinasinya dulu kita benahi baru beralih ke kampung destinasinya,” kata Denny.

Sepinya wisatawan berkunjung ke sentra destinasi kerajinan karena pandemi Covid-19. Pandemi sudah berjalan dua tahun dinilai berdampak langsung terhadap aktivitas perajin cukli. (cem)

Advertisement