Kepala Desa Rababaka Jadi Tersangka Korupsi DD/ADD

Mei Abeto Harahap.(Suara NTB/jun)

Dompu (Suara NTB) – Kepala Desa Rababaka inisial TS, akhirnya ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi DD/ADD tahun 2018. Hal itu menyusul terpenuhinya unsur penyimpangan yang mengakibatkan timbulnya kerugian keuangan negara ratusan juta.

Kajari Dompu, Mei Abeto Harahap, SH., MH., dalam penyampaian kinerjanya usai peringatan Hari Bhakti Adiyaksa Ke 60 pada 22 Juli 2020 menerangkan, penetapan status tersangka untuk mantan aktifis anti korupsi tersebut, didasari temuan penyidik akan niatan TS mengambil keutungan pribadi dalam pengelolaan anggaran DD/ADD tahun 2018.

Iklan

“Kenapa kita tetapkan? Kita melihat bahwa ini sudah masuk pada ranah yang betul-betul diniati, dikehendaki dan menjadi target supaya dia memperoleh keuntungan. Padahal dia tahu itu uang negara,” ungkapnya.

Sebelum resmi ditetapkan pada 21 Juli 2020, pihaknya sudah membentuk tim kecil serta melakukan gelar perkara hasil penyidikan. Sehingga disimpulkan bersama untuk menetapkan TS sebagai tersangka.

Berdasarkan dua alat bukti yang dikantongi seperti keterangan saksi dan ahli yang membenarkan bahwa sejumlah program tidak terlaksana dan SPJ yang dibuat fiktif, lanjut Abeto, kasus korupsi DD/ADD Rababaka baru mengarah pada satu tersangka, yakni TS. Namun tak menutup kemungkinan dalam perjalanan nantinya tersangka bisa saja bertambah. “Proses ini akan masuk dalam penyidikan lanjutan nanti setelah kita tetapkan tersangka,” ujarnya.

Disinggung besaran kerugian uang negara yang ditimbulkan, Kajari belum bisa memastikan karena masih ada perbedaan sudut pandang. Dari sekitar Rp300-Rp400 juta yang ditemukan, muncul anggapan bahwa sebagian diantara anggaran kegiatan belum bisa dihitung sebagai kerugian negara. Untuk itu, pihaknya memilih menunggu hasil penghitungan akhir dari Inspektorat.

Dalam kasus penyalahgunaan wewenang untuk mengambil keutungan pribadi dari dana desa dimaksud, TS menggunakan modus yang terbilang klasik. Seperti misalnya dalam sekian banyak SPJ dilaporkan ada kegiatan di sebuah lokasi, namun saat ditinjau langsung ternyata kegiatan tersebut tidak ada. “Jadi sangat-sangat klasik, bukan yang menggunakan tehnologi IT atau apa, tranfer-tranfer ngak ini klasik sekali. Mungkin karena situasional sangat rentan dan SDM-nya lemah dari sisi tata kelola,” pungkasnya. (jun)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here