Kepala BNN NTB: Lapas Jadi Pusat Kendali Peredaran Gelap Narkoba

Pol Gde Sugianyar Dwi Putra. (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Masuk penjara bukannya membuat bandar atau pengedar jera. Dari balik jeruji besi malah membuat mereka mengembangkan jaringannya. Rerata, penyelundupan narkoba yang masuk NTB dikendalikan para napi ini.

“Lapas bertransformasi menjadi pusat kendali peredaran gelap narkoba,” tegas Kepala BNN Provinsi NTB Brigjen Pol Gde Sugianyar Dwi Putra dikonfirmasi Rabu, 11 Maret 2020.

Iklan

Dia tidak menyebut spesifik Lapas mana yang menampung napi tersebut. Tetapi dia tidak menampik bahwa napi yang berada di Lapas yang ada di NTB punya kaitan dengan pengendalian narkoba dari dalam penjara.

“Memang ada kasus-kasus yang mengindikasikan ke sana. Memang jaringan itu masih ada dalam LP (lembaga pemasyarakatan). Faktanya maasih ada ditemukan indikasi dikendalikan dari Lapas,” imbuhnya.

Bahkan, jaringan para pengedar dan bandar ini bisa sampai antarlapas. Sesama napi narkoba masih bisa saling kerjasama penyelundupan. Sugianyar enggan menyebut napi dimaksud demi kepentingan penyidikan.

“Yang meminta, penjualnya, dan pembelinya ada di dalam Lapas. Yang kerja di luar kaki tangannya. Ini antarlapas luar daerah dengan di sini. Bahkan ada yang satu lapas,” bebernya.

Dia merujuk contoh kasus penyelundupan sabu dari Batam, Kepulauan Riau dengan tersangka IR (37) warga Lhokseumawe, Nanggroe Aceh Darussalam, yang ditangkap di Lombok International Airport, Praya, Lombok Tengah Sabtu (7/3) lalu.

IR membawakan 150 gram sabu yang disimpan di dalam duburnya untuk MR (41), warga Pancor, Selong, Lombok Timur. MR diamankan di Jalan by pass, Praya sesaat menerima barang dari IR.

Kemudian, 58 gram sabu yang disita dari tersangka ZW (22) warga Bangkalan, Jawa Timur, Senin (9/3). ZW juga menyimpan sabu di dalam dubur demi menghindari pemeriksaan bandara.

“Mereka ini punya kaki tangan di luar,” kata Sugianyar. Dia menambahkan, program yang bakal digagas yakni Lapas Bersinar, Bersih dari Narkoba. Belajar dari program Desa Bersinar dengan 10 desa di 10 kab/kota yang baru diluncurkan pekan lalu.

“Lapas bersinar diharapkan Lapas bersih dari narkoba. Kita bersinergi untuk melakukan kegiatan supaya tidak ada pengendalian narkoba dari dalam Lapas. Termasuk program rehabilitasi,” terangnya.

Program rehabilitasi itu mencakup pada napi yang akan menjelang masa bebasnya. Tujuannya napi tersebut kembali ke masyarakat dalam kondisi pulih dari ketergantungan narkoba. “dari Kemenkumham ini sudah ada 200 orang yang akan direhab,” tandas Sugianyar.

Kepala Divisi Pemasyarakatan Kanwil Kemenkumham NTB Dwi Nastiti sebelumnya sudah menyinggung Lapas bebas narkoba sebagai resolusi pemasyarakatan tahun 2020. Caranya dengan menguatkan prosedur standar operasional internal.

Selain itu, upaya lainnya menggalakkan razia alat komunikasi yang kerap diselundupkan para napi. Ponsel diduga dipakai napi narkoba untuk menunjang bisnis haramnya dari dalam penjara. (why)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional