Kenormalan Baru, Upah Karyawan Diharapkan Kembali Normal

Pusat perbelanjaan mulai melayani pembeli secara normal, seperti halnya karyawan di salah satu pusat perbelanjaan di Mataram ini, Rabu, 1 Juli 2020. (Suara NTB/cem)

Mataram (Suara NTB) – Memasuki kenormalan baru atau new normal, sejumlah sektor formal maupun informal mulai bergairah. Meski tidak keseluruhan karyawan dipekerjakan akibat aturan pembatasan sesuai protokol kesehatan. Perusahaan harus kembali membayar upah karyawan secara normal.

Dari 1.400 karyawan dirumahkan akibat terdampak Coronavirus Disease, berdasarkan data Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Mataram, sekitar 50 persen telah dipanggil bekerja oleh perusahaan. Setengah karyawan kembali bekerja merupakan syarat ditetapkan oleh pemerintah untuk menjaga protokol kesehatan Covid-19.

Iklan

“Dengan dibukanya hotel, mall dan tempat makanan. Otomatis karyawan sebelumnya dirumahkan kembali dipanggil bekerja,” kata Kepala Disnaker Kota Mataram, Hariadi ditemui di Kantor Walikota Mataram, Rabu, 1 Juli 2020.

Pembatasan karyawan tidak bisa diintervensi. Pemerintah juga melihat dari sisi kemampuan keuangan perusahaan. Berbeda halnya dengan kondisi normal. Perusahaan wajib mempekerjakan karyawan secara keseluruhan. Di samping itu, upah diterima karyawan harus penuh atau sesuai upah minimum kota (UMK) yang telah ditetapkan pemerintah.

Diketahui, pandemi Covid-19 secara tidak langsung berdampak terhadap upah diterima karyawan. Mirisnya, perusahaan memotong 50 persen gaji karyawan. Kondisi kemungkinan sudah disepakati antara karyawan dengan perusahaan.

“Ini yang akan jadi perhatian kita nanti. Kondisi normal gaji karyawan harus dibayar sesuai UMK. Saya tidak perlu sebut perusahaan mana yang memotong gaji karyawan sampai 50 persen,” tegasnya.

Staf di Bidang Hubungan Industrial akan turun memantau aktivitas perusahaan. Hariadi memastikan tidak ada karyawan diberhentikan sepihak di masa pandemi.

Pihaknya rutin berkomunikasi melalui grup media sosial antara human resource departement (HRD) perusahaan di Mataram.  Dengan dibukanya hotel, mall, tempat makan, otomatis karyawan di rumah di panggil.

Pengurangan dari 1.400 bekerja dan kembali bekerja. Pengawasan kita sedang turun dari bidang Hubungan Industrial (HI). Memastikan mereka dipekerjakan kembali akan dilihat komunikasi dengan HRD kita komunikasi maupun dengan manager.

Saat ini, menjadi persoalan adalah warga Kota Mataram yang bekerja di hotel – hotel, kafe dan rumah makan di Senggigi, Kabupaten Lombok Barat belum kembali bekerja.

“Makanya ini yang kita harapkan supaya segera normal. Kalau di Mataram sudah mulai hotel dan rumah makan buka. Nah, yang di Senggigi belum buka sama sekali,” tuturnya.

Kecenderungan kebijakan perusahaan memotong gaji karyawan akan sulit kembali normal. Disnaker akan memantau kondisi keuangan perusahaan. Tidak menutup kemungkinan sanksi akan diberikan ke perusahaan sesuai aturan, sehingga jangan sampai merugikan pekerja. (cem)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional