Kendor, Eliminasi HPR di Dompu

Mujahidin. (Suara NTB/Jun)

Dompu (Suara NTB) – Upaya eliminasi terhadap Hewan Pembawa Rabies (HPR) di Kabupaten Dompu, kian mengendor. Akibatnya, korban gigitan terus bertambah. Kemarin 30 November 2020, menimpa petugas kesehatan di Desa Kareke. Ancaman perlawanan dari warga pemilik anjing serta terbatasnya ruang gerak petugas, jadi kendala utamanya.

Kepala Bidang Keswan dan Kesmavet Disnakeswan Dompu, drh. Mujahidin kepada Suara NTB, Selasa, 1 Desember 2020 mengakui, aktifitas eliminasi anjing liar selama beberapa bulan terakhir ini vakum. “Eliminasi kita memang saat ini vakum, karena resikonya sangat besar bagi petugas di lapangan,” ungkapnya.

Resiko eliminasi dimaksud yakni munculnya aksi perlawanan dari masyarakat, terutama para pemilik anjing yang terkena eliminasi petugas sewaktu berkeliaran di perkampungan.

Kondisi itu, lanjut Mujahidin, makin dipersulit suasana daerah akhir tahun ini. Baik berkenaan dengan pemilihan kepala daerah maupun pandemi Covid-19 yang membatasi ruang gerak petugas. Kalaupun dipaksa terjun lapangan, hasilnya tidak pernah optimal, sebab area pelarian sumber gigitan ini juga cukup luas. “Liarnya anjing-anjing ini juga tidak bisa kita kontrol dengan baik, sehingga agak kesulitan kita untuk eliminasi,” jelasnya.

Dikonfirmasi soal tambahan korban gigitan baru pada Senin 30 November kemarin, ia mengakui adanya kasus tersebut. Hanya saja, identitas dan kronologis gigitan yang menimpa salah seorang petugas kesehatan itu tak diketahui jelas. Tetapi korban sudah mendapat penanganan awal dari tim medis Puskesmas Dompu Timur.

Menyangkut program vaksinasi HPR perliharaan, ditegaskan intens dilakukan pihaknya bersama jajaran UPTD pada tiap kecamatan. Termasuk sosialisasi tentang bahaya gigitan serta lambanya pengobatan ke sarana kesehatan terdekat. “Stok masih tersedia, kemarin sudah kita salurkan ke UPTD sekitar 15.000 dan sampai sekarang mereka terus melakukan program vaksinasi di tengah masyarakat,” pungkasnya. (jun)