Kendalikan Inflasi, Bank Indonesia Bentuk Klaster Cabai Unggulan di Lombok Timur

kepala Bank Indonesia Provinsi NTB, Heru Saptaji bersama stakeholders melakukan penanaman cabai di kluster cabai unggulan di Desa Keorongkong Sukamulia, Lombok Timur. (Suara NTB/bul)

Selong (Suara NTB) – Bank Indonesia melakukan sejumlah intervensi untuk pengendalian inflasi di NTB, salah satunya dengan membentuk demplot kluster komoditas penyumbang inflasi. Dalam sepuluh tahun terakhir Bank Indonesia mengamati kelompok volatile food  sangat mempengaruhi flugtuasi inflasi NTB. Sebut saja diantaranya bawang merah, dan cabai. Dan Bank Indonesia sudah membuat klusternya.

Kluster bawang merah di Bayan, Kabupaten Lombok Utara. Dan kluster cabai di Desa Kerongkong, Kecamatan Sukamulia, Kabupaten Lombok Timur. Penanaman kluster bawang merah dilakukan Selasa, 5 Oktober 2021, sementara penanaman cabai dilakukan Rabu, 6 Oktober 2021. Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia NTB, Heru Saptaji mengatakan, dalam rangka mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah melalui pengendalian inflasi yang rendah dan stabil, khususnya kelompok volatile food, serta untuk mendukung program pemerintah daerah dalam melakukan pemberdayaan UMKM, Bank Indonesia melaksanakan program pengembangan klaster pertanian.

Iklan

Tujuannya antara lain untuk meningkatkan kemandirian kelompok, kualitas dan kapasitas produksi serta daya saing komoditas yang dihasilkan. Berdasarkan hasil pengamatan Bank Indonesia, terdapat kelompok tani cabai di Kabupaten Lombok Timur, tepatnya di Kerongkong, Kecamatan Suralaga, yaitu Kelompok Tani Orong Balak, yang memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut.

Pada saat ini, produktivitas cabai di kelompok Tani Orong Balak rata-rata 7 ton perhektar, sedangkan berdasarkan data tahun 2020 produktivitas rata-rata Provinsi NTB sebesar 11,41 ton/ha, sehingga masih perlu untuk meningkatkan produktivitas pada kelompok tani tersebut.

Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB menurut Heru, akan melaksanakan program pengembangan terhadap kelompok tani dimaksud sebagai klaster cabai unggulan. Bentuk program yang akan dilaksanakan yaitu berupa pemberian bantuan teknis yang dilakukan bekerja sama dengan pemerintah daerah maupun pihak lainnya.

Selain itu, bentuk bantuan lain yang akan diberikan yaitu berupa sarana dan prasarana pengembangan komoditi. Program pendampingan tersebut direncanakan untuk dilaksanakan selama tiga tahun sejak Oktober 2021 yang pelaksanaannya akan dievaluasi secara berkesinambungan.

Di tahap awal ini, Bank Indonesia sudah melaksanakan beberapa pelatihan, yaitu pengolahan tanah secara organik dengan metode integrated farming (teknologi MA-11) yang ahlinya didatangkan dari ANSA School Semarang. Mendatangkan petani cabai berprestasi dari Sumatera Utara yaitu Juli Tani  untuk memberikan wawasan mengenai bagaimana menjadi petani yang sukses melalui kelembagaan yang kuat.

Untuk memastikan keberhasilan pengembangan klaster cabai ini, lanjut Heru Saptaji, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB senantiasa akan melakukan koordinasi dan sinergi dengan Pemerintah Kabupaten Lombok Timur maupun pihak terkait lainnya dalam mengawal serta melaksanakan program pengembangan.

Tentunya faktor utama untuk memastikan keberhasilan program ini adalah dari kelompok tani sendiri. Karena itu, ia mengingatkan  kepada kelompok tani agar memengang 3 prinsip utama dalam membangun kelompoknya, yaitu 1 Visi, 1 Hati, dan 1 Aksi. 1 Visi artinya semua anggota kelompok tani memiliki tujuan yang sama, yaitu menjadi petani yang mandiri, maju, sejahtera, dan menjadi role model bagi kelompok lainnya. 1 Hati artinya memiliki semangat yang sama, saling membantu. Kemudian 1 Aksi artinya seluruh anggota kelompok memiliki kekompakan dan tertib dalam melaksanakan setiap kegiatan dan program kelompoknya.

“Dengan begitu, mudah-mudahan harapan kita semua terwujud, yaitu agar petani cabai Lombok Timur ini menjadi petani yang berilmu, mandiri, sejahtera, serta menjadi role model bagi kelompok tani lainnya.  Ketika kluster-kluster ini sudah terbangun, maka tidak ada celah bagi spekulan untuk memainkan harga dan mempengaruhi inflasi,” ujarnya.

Heru menambahkan, pengendalian inflasi erat kaitannya dengan menjaga stabilitas harga kebutuhan, mendorong pertumbuhan ekonomi, menciptakan Indeks Pembangunan Manusia yang tinggi. Dan turunannya adalah upaya mempengaruhi indeks pengangguran, indeks kemiskinan, dan indeks gini ratio (ketimpangan miskin dan kaya).

“Kami mencoba melakukan pengendalian harga karena percuma pertumbuhan ekonomi tinggi, produktivitas masyarakat tinggi tapi harga juga tinggi. Yang kita harapkan pertumbuhan ekonomi tinggi, tapi harga terkendali (stabil). Sehingga kesejahteraan masyarakat meningkat,” ujarnya. Apalagi di tengah pandemi saat ini, tantangan ekonominya sangat besar.

Menurut Heru, pengendalian inflasi menjadi sesuatu yang sangat penting dengan terus mengintervensi sisi – sisi yang rentan menyumbang inflasi. Ia berharap, kluster-kluster yang dibuat berhasil sesuai target yang dicapai. “Jika terjadi kenaikan harga berlebih di satu wilayah, kita bisa mengintervensi langsung dengan mengambil produksi yang ada di kluster-kluster ini. Kita jual dengan harga lebih rendah. Dengan begitu tidak ada aksi spekulan. Maka  inflasi bisa terkendali, ekonomi akan stabil,” demikian Heru Saptaji.

Sementara Sekda Kabupaten Lombok Timur, H. Muh. Juani Taufik menyampaikan apresiasi atas program-program yang dilaksanakan Bank Indonesia, terutama program kluster cabai di Kabupaten Lombok Timur yang nantinya diharapkan akan menjadi role model dan terdepan bagi pengembangan sektor pertanian di NTB. (bul)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional