Kenaikan Harga Kedelai Butuh Intervensi

Seorang perajin tahu di sentra produksi di Kekalik Jaya, Selasa, 12 Januari 2021. Sampai saat ini harga kedelai yang masih tinggi mengakibatkan bertambahnya biaya produksi. Untuk itu diharapkan adanya intervensi langsung dari pemerintah, salah satunya dengan pengadaan kedelai bersubsidi seperti yang pernah dilakukan sebelumnya.(Suara NTB/bay)

Mataram (Suara NTB) – Tingginya harga kedelai di Kota Mataram memberi pengaruh signifikan terhadap produksi industri tahu-tempe. Pasalnya, dengan peningkatan biaya produksi harga jual tahu-tempe tersebut sulit bersaing. Terlebih konsumen menolak harga tahu-tempe dinaikkan.

Plt. Kepala Dinas Koperasi Perindustrian dan UKM Kota Mataram, I Gusti Ayu Yuliani, menerangkan berdasarkan pantauan pihaknya di beberapa produsen tahu-tempe di Kota Mataram kondisi tersebut cukup dilematis. “Kita punya industri tahu-tempe memang agak terganggu. Karena biasanya membeli kedelai itu sekitar Rp600.000 – Rp750.000/kuintal. Sekarang itu sudah hampir Rp1 juta per kuintalnya,” ujarnya saat dikonfirmasi, Selasa, 12 Januari 2021.

Diterangkan, berdasarkan hasil pemantauan langsung pihaknya di produsen tahu-tempe di Lingkungan Presak Tempit, Abian Tubuh, Kekalik Jaya, dan Pagutan tingginya biaya produksi disiasati dengan memperkecil potongan tahu-tempe yang ada. “Itu karena konsumen tidak ingin tahu yang dijual itu harganya dinaikkan. Jadi potongannya saja yang dikecilkan, karena mereka juga banyak yang menggunakan kedelai impor,” jelasnya.

Di sisi lain, beberapa produsen diakuinya menghentikan produksi untuk sementara. Dicontohkan seperti produsen tahu-tempe di Abian Tubuh yang menghentikan produksi 2-3 hari untuk menunggu harga kedelai turun.

“Tapi ternyata harga kedelainya segitu-segitu saja, jadi mereka sekarang sudah produksi lagi,” ujar Yuliani. Selain itu, untuk pembelian bahan baku sendiri dilakukan secara bertahap. “Artinya produsen kita tidak memborong lagi seperti dulu, tapi mereka beli sedikit-sedikit untuk antisipasi harga kedelai tiba-tiba turun,” sambungnya.

Kendati demikian, seluruh upaya tersebut diakui bukan merupakan solusi jangka panjang. Untuk itu, pihaknya berharap adanya peran aktif dari stakeholder terkait untuk menanggulangi harga kedelai yang terus meroket.

Dicontohkan seperti kasus naiknya harga kedelai beberapa tahun lalu, di mana Pemkot Mataram mendapatkan pasokan kedelai dengan harga subsidi untuk disalurkan ke produsen. “Waktu itu bulan puasa dan harganya naik seperti sekarang ini. Dan dari Dinas Perdagangan waktu itu yang mendapatkan subsidi kedelai untuk IKM. Seandainya ada program seperti itu lagi, tapi sampai sekarang belum terlihat,” ujar Yuliani.

Herdina, salah seorang pengusaha tahu dan tempe di Kelurahan Kekalik Jaya menerangkan saat ini harga kedelai dapat mencapai Rp950 ribu per 100 kilogram (Kg). Hal tersebut diakui cukup memberatkan. Terlebih dirinya tetap harus mempertahankan produksi meski bahan baku mahal.

“Karena kita tidak punya (sumber) pendapatan lain. Jadi mau tidak mau harus tetap produksi biar cuma sedikit-sedikit,” ujarnya kepada Suara NTB. Diterangkan, kenaikan harga tersebut tidak hanya terjadi pada bahan baku kedelai. Melainkan untuk kayu bakar yang digunakan juga.

Dengan kondisi tersebut, dirinya juga telah mengurangi jumlah karyawan, yang sebelumnya berjumlah tiga orang menjadi dua orang. “Soalnya yang biasanya bisa buat sampai 80 papan, sekarang ini kita cuma buat 36 papan. Yang belanja juga sepi, tapi harga sama kualitas untuk tahu ini tidak boleh turun. Kalau kita turun semakin protes pelanggan itu malah enggak mau beli nanti,” jelasnya.

Untuk memproduksi 80 papan tahu tempe, Herdina menghabiskan hingga 70 Kg kedelai per hari. Agar bisa tetap bertahan, dirinya berharap harga kedelai tersebut dapat segera turun. “Kita masih coba-coba. Siapa tahu bisa turun harga kedelainya nanti,” tandasnya. (bay)