Kenaikan Harga di Pasar Sulit Diintervensi

Mataram (Suara NTB) – Pemerintah memberikan toleransi kenaikan harga saat puasa Ramadhan dan menjelang lebaran naik 10 persen. Persentase kenaikan ini tidak bisa dipatok, karena yang sulit diintervensi adalah mekanisme harga di pasar.

Kepala Dinas Perdagangan Kota Mataram, Lalu Alwan Basri, Selasa, 8 Mei 2018 mengaku sulit mengintervensi harga di pasar saat peringatan hari besar seperti puasa, lebaran dan liburan. Namun, masyarakat diminta tidak panik berbelanja dengan menyetok dalam jumlah besar.

Iklan

“Kadang permintaan besar dan standar harga sudah ada serta permintaan besar sehingga terjadi kenaikan harga,” kata Alwan.

Toleransi kenaikan harga 10 persen oleh Kementerian Perdagangan dikatakan Alwan, sangat besar. Sebenarnya yang sulit diintervensi adalah mekanisme pasar. Walaupun demikian, pedagang tetap tidak bisa leluasa menaikkan harga.

Terkait stok kebutuhan pangan menjelang lebaran khusus beras tidak bisa berbicara secara mikro. Penanganan oleh Badan Urusan Logistik secara makro atau wilayah NTB. “Kalau beras ini, Bulog menangani secara se – NTB,” tandasnya.

Alwan menambahkan, rapat koordinasi dengan distributor semua menyampaikan stok mereka. Tapi perlu dilihat langsung. Rencananya kepastian ketersediaan stok kebutuhan pokok akan dicek langsung ke lapangan. “Kalau ndak sekarang, mungkin besok kita turun ke lapangan,” tambahnya.

Ketersediaan stok pangan Kementerian Perdagangan sebagai koordinator menjamin bagaimana kesiapan pangan pada hari besar keagamaan aman. Kementerian Perdagangan telah menerima laporan dari Kementerian Pertanian, Kementerian Perhubungan dan Satgas Pangan. Keadaan sekarang stok masih baik.

“Beras sekarang masuk masa panen. Beras di luar Bulog juga banyak beredar,” tambahnya.

Namun demikian, Alwan tetap meminta masyarakat tetap tidak panik terhadap stok kebutuhan pokok, sehingga tidak berlebihan membeli barang. (cem)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here