Kemenperin Bantu NTB Pabrik Pengolahan Sarang Burung Walet dan Porang

Hj. Nuryanti. (Suara NTB/dok)

Praya (Suara NTB) – Dinas Perindustrian Provinsi NTB berhasil melobi Kementerian Perindustrian untuk mengembangkan potensi sarang burung walet dan porang di NTB.

Tahun 2022 nanti, Kementerian Perindustrian akan menurunkan bantuan sarana dan prasarana produksi (pabrik)  pengolahan sarang burung walet dan porang. Bantuannya berupa gudang dan mesin-mesin pendukung pengolahan sarang burung walet dan porang.

Iklan

Untuk Pabrik pengolahan sarang burung walet diturunkan ke Kabupaten Lombok Tengah dan Kabupaten Lombok Timur adalah pabrik pengolahan porang, kata Kepala Dinas Perindustrian Provinsi NTB, Nuryanti, SE, ME.

Secara khusus, Dinas Perindustrian NTB sangat bersemangat dan all out mendampingi pengolahan (industrialisasi) sarang burung walet yang saat ini menjadi komoditas unggulan Indonesia yang bernilai ekonomi sangat tinggi di luar negeri.

Selasa, 12 Oktober 2021, Nuryani menyerahkan Sertifikat Merek yang dikeluarkan oleh Kemenkumham untuk Ammar Sasambo (produk turunan sarang burung walet) milik Lalu Buntaran, di Tegal Desa Kateng Kecamatan Praya, Kabupaten Lombok Tengah. Sertifikat ini difasilitas oleh Dinas Perindustrian agar produk turunan yang dihasilkan memiliki daya saing secara nasional dan global.

Nuryanti mengatakan, pada dasarnya, tidak saja walet, tetapi semua potensi yang ada di NTB diseriusi digarap dan didampingi, serta difasilitasi agar layak bersaing. Walet ini menurutnya sudah ada dan sudah memiliki pasar di tingkat nasional dan global.

Ada disparitas harga yang sangat jauh, ketika sarang burung walet dijual gelondongan, dengan dijual setelah melalui proses pengolahan (dibersihkan). Bisa dibayangkan, untuk penjualan biasa, harganya di kisaran Rp10 juta hingga Rp13 juta perkilo. Sementara jika diproses dibersihkan, harganya naik menjadi Rp30 juta hingga Rp55 juta perkilonya.

“Walet ini pasarnya juga stabil. Dan orientasinya ekspor. Sehingga menjadi komoditi yang kami seriusi untuk didampingi dan difasilitasi,” imbuhnya.

Dinas Perindustrian bekerjasama dengan stakeholders lainnya tenah berupaya melakukan substitusi produk. Misalnya membuat tepung sarang burung walet dicampur tepung porang. Atau membuat tepung sarang burung walet dicampur sorgum.

“Dengan pabrik pengolahan porang dan pabrik pengolahan sarang burung walet nanti, NTB akan menghasilkan produk pangan yang luar biasa. Tepung porang dicampur sarang burung walet,” ujarnya.

Nuryanti tidak menyebutkan secara rinci kapasitas produksi pabrik dimaksud. Namun hasilnya akan tercipta tepung bernilai jual tinggi yang diharapkan dapat menekan gizi buruk, stunting. Bahkan persoalan sosial lainnya.

“Disinilah peluang pasar yang kami kemudian seriusi. Makanya pendekatan industri ini sudah waktunya kita mulai dari atas juga. Pimpinan-pimpinan daerah kami temui untuk berkolaborasi,” ujarnya.

Tahun 2022 lalu, NTB akan membuat juga rumah produksi untuk produk-produk turunan sarang burung walet. Dikombinasi dengan seluruh produk yang ada di NTB.(bul)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional