Kemenko Marves Dukung Pengolahan Sampah jadi Pelet di TPA Kebon Kongok

Deputi Bidang Pengelolaan Lingkungan dan Kehutanan Kemenko Marves, Nani Hendiarti didampingi jajaran PLN UIW NTB dan Pemprov NTB meninjau pengolahan sampah jadi pelet di TPA Kebon Kongok. (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Deputi Bidang Pengelolaan Lingkungan dan Kehutanan Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves), Nani Hendiarti mengunjungi PLTU Jeranjang, Selasa, 18 Agustus 2020. Kunjungan kerja kali ini untuk melihat langsung proses Co Firing menggunakan pelet RDF (Refuse Derived Fuel), yang diproduksi di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kebun Kongok, Lombok Barat.

“Kemenko Marves serius dalam penanganan sampah. Dan sesuai arahan dari Menko Marves, bahwa proses pengolahan RDF dilakukan melalui pola kemitraan dan juga menggunakan muatan lokal” jelas Nani.

Iklan

Masing-masing pihak memiliki peranan masing masing dalam pengolahan sampah, mulai dari Kemenko Marves, KLHK, PUPR, ESDM dan juga support dari Pemerintah Daerah. “Di sini, Kemenko Marves memiliki peranan untuk menyusun kebijakan, pemilihan lokasi dan implementasi RDF dan juga penyiapan pendanaan dan business process RDF itu sendiri,” tambah Nani.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Provinsi NTB, Madani Mukarom menyampaikan pihaknya mendukung penuh kerja sama dengan PLN melalui program Waste to Energy.Potensi sampah yang bisa dipilah di TPA Kebun Kongok maksimal 100 ton per hari. Dan sebanyak 40,06 ton sampah per hari dapat diolah menjadi pelet yang menghasilkan 15 ton pelet per hari.

Selain untuk proses co firing PLTU, pelet dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar oven pengering tembakau dan juga bahan bakar kompor di masyarakat, selain briket.
Rudi Purnomoloka, General Manager PLN Unit Induk Wilayah NTB menyampaikan bahwa PLN mendukung penuh penyediaan energi yang ramah lingkungan di NTB. Salah satunya dengan mengoptimalkan pemanfaatan sampah menjadi pelet RDF.

“Pelet RDF ini termasuk salah satu Energi Baru Terbarukan (EBT). Target bauran EBT sebesar 23% di tahun 2025 oleh Kementerian ESDM. Dan kami yakin, dengan dukungan dari seluruh pihak, PLN bisa mencapai target tersebut,” jelas Rudi.

Melalui program Jeranjang Olah Sampah Setempat (JOSS), sampah yang terkumpul diberikan cairan bio activator untuk proses peuyeumisasi. Setelah kering, sampah dimasukkan ke mesin pencacah untuk selanjutnya dibentuk menjadi pelet. Pelet yang kering dapat langsung digunakan untuk campuran bahan bakar pembangkit listrik.

“Total potensi pelet yang bisa digunakan adalah 45 ton per hari untuk 3 unit PLTU, yaitu 3% dari total kebutuhan bahan bakar yang digunakan untuk proses Co Firing. Dan semua unit PLTU tersebut siap untuk menerima pelet yang diproduksi oleh TPA Kebun Kongok.” Jelas Rudi.

Rudi juga menyampaikan program Waste to Energy ini merupakan salah satu bentuk dukungan PLN untuk mewujudkan salah satu visi NTB Gemilang, yaitu “NTB Asri dan Lestari”.

Sebelumnya, Nani beserta Sekretaris Daerah Provinsi NTB, Drs. H. Lalu Gita Ariadi, M.Si menyaksikan penyerahan bantuan berupa dua buah incinerator dari PT TPE. Bantuan diserahkan langsung kepada Kepala Dinas LHK Provinsi NTB untuk membantu proses pengelolaan sampah di TPA Kebun Kongok.(bul)