Kemenhub Belum Akomodir Usulan KSOP Bima

Tampak kapal yang akan memuat barang sandar di Dermaga I KSOP Bima, Kamis, 9 September 2021.(Suara NTB/Jun)

Bima (Suara NTB) – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) RI, masih belum mengakomodir usulan KSOP Kelas IV Bima. Terkait penambahan panjang Dermaga I untuk bongkar muat barang.

Petugas Keselamatan Berlayar, Patroli dan Penjagaan KSOP Kelas IV Bima, Syaifuddin kepada Suara NTB, Kamis, 9 September 2021 menjelaskan, usulan tersebut sudah disampaikan ke Direktorat Jendral Perhubungan Laut Kemenhub RI pada tahun 2017. Meski anggaran pembangunan sempat dikucurkan, namun karena beberapa persoalan terpaksa ditarik kembali dan dialihkan entah kemana.

Iklan

Sekitar tahun 2019, lanjut dia, KSOP Bima kembali mengusulkan permohonan, tetapi karena terkendala Covid-19 sampai sekarang belum direalisasikan. “Semenjak kita usulkan belum ada respon sampai sekarang,” terangnya.

Dermaga I yang menjadi pusat bongkar muat barang ini, lanjut dia, memiliki panjang 50 meter. Dengan panjang itu, hanya satu kapal yang bisa sandar. Kapal berkapasitas 5.000 ton, membutuhkan waktu 6-7 hari untuk mengisi barang atau menurunkan muatan. Sementara untuk kapal dengan kapasitas 1.000 ton cukup memakan waktu dua hari.

Melihat keterbatasan daya tampung dan rentan waktu yang dibutuhkan, menurutnya tak heran jika banyak kapal yang mengantri sampai sebulan hanya untuk bongkar muat barang di Dermaga I KSOP Bima. Bahkan, tak sedikit memilih pindah ke pelabuhan lain seperti di Calabai Kabupaten Dompu.

Atas dasar beberapa persoalan ini, baginya penting dilakukan penambahan panjang dermaga 100 meter. “Kalau panjang dermaga 150 meter, berarti ada tiga kapal yang bisa melakukan kegiatan. Atau minimal dua kapal,” ujarnya.

Semakin panjang sebuah dermaga, maka akan makin banyak kapal yang bisa menyandar serta melakukan aktifitas pengangkutan barang. Karenanya, besar harapan agar Kementerian merespon usulan KSOP Bima.

Biasanya, tambah Syaifuddin, aktifitas muat barang di Dermaga I akan padat mulai Bulan April. Berkenaan dengan panen raya jagung, bawang dan hasil alam lain di Kabupaten/Kota Bima. “Kalau sudah padat bisa sampai sebulan kapal itu parkir menunggu giliran untuk sandar,” pungkasnya. (jun)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional