Kemenag Minta PTKIN Ukur Kelebihan dan Kekurangan

Pembinaan ASN lingkungan kampus UIN Mataram oleh Sekjen Kemenag KH. Nizar Ali, Jumat (27/11). (Suara NTB/dys)

Mataram (Suara NTB) – Segenap civitasakademika Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram mengikuti pembinaan yang dilakukan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia, Kamis, 27 November 2020. Pembinaan SDM eksternal dan internal merupakan salah satu komponen penilaian akreditasi Program Studi/Jurusan yang dilaporkan pada borang.

Sekjen Kemenag RI Prof. Dr. K. H.Nizar Ali,  M.Ag., saat berkunjung ke UIN Mataram, menyampaikan tiga hal penting dalam pembinaan ASN, yakni kualifikasi, kompetensi, dan kinerja. Tiga parameter inilah yang digunakan untuk melakukan perencanaan sekaligus kontrol dalam mengukur serta menilai ASN. Adanya parameter ini, ASN dapat bekerja sesuai tugas dan fungsi dan kalaupun memiliki tugas tambahan akan berjalan on the track.

Sekjen mengimbau dan mempertegas agar semua lembaga/satker (termasuk semua Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri – PTKIN), agar dapat mengukur, menakar, dan mendedah kelebihan dan sekaligus kekurangan masing-masing. Aspek yang menjadi nilai plus perlu dipertahankan bahkan ditingkatkan.

Sebaliknya, yang kurang harus diperbaiki. Hanya dengan cara ini, lembaga-lembaga di bawah Kemenag RI, akan dapat bersaing (ber-fastabiqul khairat), baik di tingkat lokal, nasional, regional, bahkan internasional.

Sementara dalam konteks PTKIN (STAIN, IAIN, dan UIN), idealnya harus terakreditasi A pada level institusi, bukan lagi Prodi pada Tahun 2024. Waktu tinggal 4 tahun lagi. Sehingga untuk bisa ke sana, prodinya 50 persen sudah harus terakreditasi A. Jika ini terwujud, maka kualitas PTKIN dapat teruji sama kualitasnya dengan kampus besar lain semisal Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, dan lainnya.

Pada rentang tahun 2024-2029, target kualitas PTKIN itu harus dapat bersaing di tingkat regional ASEAN, sebelum bertarung di kancah kampus dunia luas, pasca tahun 2030. Untuk bisa mengarah ke sana, maka salah satu hal yang perlu dilakukan adalah peningkatan kualitas dosen dan tenaga kependidikan secara simultan.

Bahkan indikator minimal PTKIN itu dinyatakan sudah punya SIM berdaya saing internasional, di samping telah terakreditasi A, juga minimal 10 persen para dosennya telah menjadi guru besar, dengan karya-karya andal bereputasi internasional. (dys)