Kembangkan Golden Melon dengan Sulap Lahan Tadah Hujan

Ihsan, petani Golden Melon di Desa Batu Putih Kecamatan Sekotong sedang memanen. (Suara NTB/her)

Giri Menang (Suara NTB) – Petani di Desa Batu Putih Kecamatan Sekotong Lombok Barat (Lobar) mengembangkan tanaman hortikultura jenis Golden Melon yang memiliki kualitas yang sangat bagus. Lahan seluas sekitar 10 hektare yang dijadikan areal pengembangan melon inipun sebagian besar  tadah hujan. Meski biaya produksi terbilang lumayan mahal, namun sebanding dengan hasil yang diperoleh, sehingga para petani tidak merugi.

Ihsan, petani Golden Melon di Desa Batu Putih mengatakan luas areal tanam yang dikembangkan di desa itu sekitar 10 hektare. Golden melon mulai dikembangkan sejak lama. Awalnya ia sendiri yang mengembangkan tanaman hortikultura itu. Sejak saat itu, ia pun mulai membina petani lain agar bisa menanam. Kemudian mulai tahun 2019 diikuti oleh petani lain. ‘’Kita rangkul sambil kita bimbing. Hingga saat ini terdapat enam poktan yang mengembangkan Golden Melon dengan luasan 10 hektare,” ujarnya Minggu, 30 Mei 2021.

Iklan

Hasil panen per hektare dengan populasi 15 ribu pohon, tambahnya cukup memberikan keuntungan bagi petani. Apalagi per pohon menghasilkan buah 2-3 kilogram dengan harga jual per kilogram 10 ribu (warga petik sendiri di lokasi), maka dalam satu pohon,  petani bisa mendapatkan hasil penjualan Rp 30 ribu. “Kalau 15 ribu pohon dalam satu hektare dikalikan dua buah (dalam satu pohon) maka diperoleh hasil panen 30 ton. Kalau dijual, maka petani bisa memperoleh Rp 300 juta dalam satu hektare,” jelasnya.

Untuk biaya produksinya, harga bibit per biji Rp 1.500. Per pcs berisi 450 biji dibeli dengan harga Rp 550 ribu. Dalam satu hektare butuh 15 ribu bibit, sehingga petani pun harus mengeluarkan Rp 60 juta, ditambah ongkos tanam, mulsa, pupuk dan perawatan. Belum sewa lahan. Masa penanaman sampai panen dibutuhkan waktu 70 hari dua bulan 10 hari.

Saat ini, pihaknya tengah mencari  mitra untuk pengambilan partai besar ke keluar daerah. Sejauh ini sudah ada penawaran 6 ton per minggu. Namun pihaknya masih mengatur pola tanam supaya produksi melon tetap berkesinambungan untuk memenuhi kebutuhan pasar. “Sejauh ini dibeli masyarakat. Sekaligus wisata buah hortikultura,” ujarnya.

Kendala yang dialami petani, saat ini melon butuh biaya mahal. Petani juga dihadapkan minimnya peralatan untuk membuat bedengan. “Kalau lahan yang diolah ada yang irigasi dan lahan tadah hujan. Tapi banyakaan lahan tadah hujan, karena tanaman ini tidak butuh banyak air,” tambahnya. (her)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional