Kembali Beroperasi, Jam Operasional BRT Dipangkas

Mataram (Suara NTB) – Setelah hampir satu bulan tidak ada kabar, Bus Rapid Transit (BRT) mulai 1 Februari kembali dioperasikan. Hal ini menyusul adanya kesepakatan antara Dinas Perhubungan dan Organisasi Angkotan Darat serta sopir angkutan desa. Namun, jam operasional bus bantuan Kementerian Perhubungan itu dibatasi.

Pemangkasan operasional BRT khusus ke wilayah Senggigi dan Narmada dari pukul 05.30 – 15.00 wita. Kesepakatan ini sesuai tuntutan sopir angkutan desa. Mereka mengklaim jam itu jadi jatah angdes mengangkut penumpang.

Iklan

“Sopir angdes minta dari pagi sampai siang itu jatah mereka. Karena penumpang dari pasar banyak. Di atas jam 15.00 wita baru BRT boleh beroperasi,” kata Kepala Bidang Angkutan, Lalu Wirajaya, Senin, 30 Januari 2017.

Angkot nantinya akan dijadikan angkutan feeder dari kawasan perumahan dan jalur utama. Dishub bekerjasama dengan akademisi Universitas Mataram (Unram) sedang mengkaji. Diprediksi kajian menghabiskan waktu dua sampai tiga bulan.

Dia menjelaskan, selain mengkaji trayek angkot. Akademisi akan menghitung subsidi BRT secara keseluruhan berdasarkan kajian. “Total subsidi Rp 1,650 miliar. Berdasarkan kajian itu berapa untuk bus dan angkot,” sebutnya.

Selama dua bulan sebutnya, BRT akan beroperasi jalur pinggir. Itu meliputi Kebon Roek, Adi Sucipto, Rembiga, Sayang – Sayang, Rumah Sakit Jiwa, Simpang empat Sweta, Sriwijaya, Brawijaya dan Majapahit.

Ketua Organda Kota Mataram, Suratman Hadi mengatakan, hasil rapat bersama Dishub NTB, Dishub Kota Mataram dan perwakilan angkot serta angdes menyepakati beberapa item. Diantaranya, angkot dijadikan angkutan feeder dan dalam dua bulan dibuatkan kajian. Selama dua bulan kedepan, angkot tetap beroperasi di jalur A – B. Sedangkan, BRT beroperasi jalur pinggir.

“BRT dari jam 5.30 – 15.00 wita. Tidak boleh masuk jalur Senggigi dan Narmada. Setelah diatas jam 15.00 wita, mereka baru boleh masuk,” kata Suratman.

  Telkomsel Rampungkan Penataan Ulang Pita Frekuensi 800 MHz dan 900 MHz

Untuk menjadikan angkot sebagai angkutan feeder disiapkan anggaran oleh Pemkot Mataram sekitar Rp 1,150 miliar. Tambahan anggaran dari Pemprov Rp 500 juta, sehingga total subsidi Rp 1,650 miliar.

Organda akan mendata kembali angkot. Demikian pula, kantong-kantong penumpang pascadijadikan angkutan feeder. (cem)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here