Kematian Harian Relatif Tinggi, Kota Bima Butuh Tindakan Lapangan yang Padu

Agus Pintono. (Suara NTB/Jun)

Bima (Suara NTB) – Kasus kematian akibat Corona Virus Disease (Covid-19) di Kota Bima, relatif tinggi. Sehari tercatat minimal dua orang pasien meninggal. Mereka rata-rata kalangan lanjut usia dengan riwayat penyakit penyerta. Sekda NTB, Drs. H. L. Gita Ariadi pun menyerukan agar daerah menerapkan tindakan lapangan yang terpadu untuk menangani memuncaknya pandemi ini.

Direktur RSUD Kota Bima, dr. Agus Pintono kepada Suara NTB di kantornya, Rabu, 28 Juli 2021 menyampaikan, kasus kematian harian pasien Covid-19 relatif tinggi, persentasenya sekitar 20-25 persen.

Iklan

Kondisi tersebut sudah berlangsung sejak awal Juni 2021. Menurutnya, bukan karena persoalan stok oksigen yang terbatas, tetapi murni akibat mengganasnya Covid-19 berikut varian barunya. “Kematiannya tinggi sekali. Bukan karena tidak ada oksigen, tapi penyakitnya,” tegas dia.

Dalam sehari, lanjut dia, minimal dua orang pasien meninggal setelah menjalani perawatan intensif di ruang isolasi atau Unit Gawat Darurat (UGD). Mereka rata-rata pasien usia 50 tahun keatas, dan sebagian memiliki riwayat penyakit penyerta seperti kencing manis, sakit lambung serta hipertensi.

Jika situasi ini terus berlanjut, jangankan faskes sekelas RSUD Kota Bima, rumah sakit besar sekalipun lambat laun pasti akan kolaps. Untuk itu, harap Agus Pintono, masyarakat dan elemen terkait mesti serius membatasi aktifitas di luar rumah serta disiplin menerapkan protokol kesehatan.

Menurutnya, kebanyakan lansia yang meninggal tidak memungkinkan untuk beraktivitas di luar rumah, sehingga kuat dugaan mereka tertular Covid-19 karena perilaku anak atau anggota keluarganya yang keluyuran tanpa protokol kesehatan. “Bapak ibunya tidak keluar, neneknya tidak keluar tapi orang-orang yang sering keluar itu yang nularin. Jadi ndak usah keluarlah kalau memang tidak perlu,” imbaunya.

Mengganasnya Covid-19 berikut varian barunya di Kota Bima, tidak saja membuat 10-15 orang pasien yang masuk setiap harinya mengidap gejala sesak berat. Sejumlah tenaga medis bahkan sampai terpapar virus berbahaya tersebut. Bagi nakes dengan hasil rapid antigen reaktif Covid-19, saat ini dibiarkan tetap masuk kerja agar bisa memberi pelayanan terhadap pasien. Sementara hasil tes pcr positif langsung diarahkan untuk isolasi mandiri. “Perawat saya ketularan itu banyak banget. Kalau reaktif paksa masuk, tapi kalau PCR positif baru istirahat. Karena ndak ada tenaga, merawat pasien Covid-19 itukan harus punya keterampilan,” pungkasnya.

Menurut Gita, beberapa waktu lalu telah dilakukan rapat koordinasi pimpinan daerah untuk merespon perkembangan pandemi di NTB. Dalam rapat koordinasi tersebut, Gubernur NTB memberikan sejumlah catatan-catatan agar pemerintah daerah di NTB tetap bersatu padu dalam tindakan lapangan.

“Untuk melakukan pencegahan, pendisiplinan masyarakat, mengikuti protokol kesehatan, melaksanakan 5m, kemudian kita antisipasi dengan penyiapan rumah-rumah isolasi terutama untuk yang bergejala ringan sehingga yang ditangani di rumah sakit yang dalam keadaan perawatan sakit sedang maupun berat. Kemudian pendisiplinan masyarakat tetap mengacu pada regulasi aturan hukum tegas tapi tetap humanis,” ujarnya, baru-baru ini. (aan/jun)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional