Keluarga Sri Rabitah Terima Santunan Perusahaan Penyalur

Tanjung (Suara NTB) – Pihak perusahaan penyalur TKW asal Kabupaten Lombok Utara (KLU), Sri Rabitah, Rabu, 26 April 2017 menyerahkan santunan kepada pihak keluarga. Santunan yang diserahkan senilai Rp 10 juta yang mana diterima oleh suami Sri, Harpan Jaya.

Serah terima santunan itu berlangsung di ruang kerja Sekda KLU. Dari Pemda KLU, tampak hadir, Asisten I bidang Hukum dan Pemerintahan, Ir. H. Nanang Matalata, M.Si., Kepala Kesbangpol, H. Muhammad, Perwakilan PT. Falah Rima Hudaity Bersaudara (PPTKIS) serta suami dan mertua Sri Rabitah, Amaq Karyadi.

Iklan

Sebelum sesi serah terima, Amaq Karyah sempat menolak menerima bantuan secara langsung dari tangan perusahaan. Alasannya, ia tidak ingin ada kesan agar santunan yang diserahterimakan justru mengganggu jalannya proses hukum menantunya. Dasar itulah, santunan diserahkan dari perusahaan kepada Asisten I Setda KLU dan dari Asisten I Setda KLU kepada pihak keluarga.

“Kami dari pihak keluarga menerima santunan itu. Tetapi sewajarnya kami terima dari pemerintah, bukan langsung dari perusahaan supaya tidak kesalahpahaman. Kami bersyukur PT. peduli terhadap kami,” kata Amaq Karyadi.

Apa yang diungkapkan mertua Sri Rabitah itu langsung dipahami oleh Kepala Kesbangpol KLU, H. Muhammad. Ia membenarkan pandangan Amaq Karyah, santunan perusahaan tidak dipersepsikan sebagai upaya pendekatan kepada pihak keluarga.

“Pihak PT ikhlas memberi, keluarga juga ikhlas menerima. Kalau ada embel-embel sangkut paut proses hukum, keluarga tidak mau,” tegas Muhammad.

Salah satu perwakilan PT. Falah, Nura, mengatakan santunan yang diserahkan kepada keluarga murni bantuan sebagai bentuk kepedulian sosial. PT. Falah sejatinya sudah dicabut izin operasionalnya pada tahun 2014 lalu. Namun meski tidak beroperasi, pihak PT yang dulu memberangkatkan Sri Rabitah, tidak ingin lepas tanggung jawab terhadap persoalan yang menimpa TKI/TKW-nya.

“Santunan ini menunjukkan ada kepedulian, semampunya untuk menyalurkan bantuan kepada keluarga. PT. Falah sekarang memang tidak aktif lagi, tetapi karena kita (dulunya) memberangkatkan manusia, apapun terjadi tetap tanggung jawab,” ujarnya.

Di hadapan pejabat KLU dan keluarga Sri, mengaku dirinya berasal dari Palembang. Walaupun perusahaan yang beralamat di Balai Kambang No 55 Jakarta itu sudah bubar, namun ia menyanggupi permintaan mantan pimpinan untuk terbang ke Lombok Utara guna menyerahkan bantuan tersebut.

Sementara, Harpan Jaya selaku suami Sri Rabitah, usai menerima bantuan dari PT. Falah, tak berkomentar banyak. Ia hanya meminta agar istrinya mendapat penanganan optimal serta dikawal proses penyembuhannya.

Kepada Suara NTB, Harpan mengklaim lebih memilih cuti dari pekerjaan sebagai TKI di Malaysia begitu mendapat informasi sang istri mendapat perlakuan tidak wajar dari mantan majikan. “Balik dari Malaysia sekitar 1 bulan 20 hari. Saya memilih pulang karena alasan istri sakit. Kebetulan oleh majikan diberikan izin cuti,” ujar Harpan yang diketahui bekerja di Malaysia dalam hitungan 2 bulanan. (ari)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here