Keluarga Ikhlas Melepas Almarhum Prof. H. Natsir

Suasana di rumah duka almarhum H. M Natsir di Jalan Udayana Gang Ekajaya Selasa malam. (Suara NTB/ars)

Mataram (Suara NTB) – Rizka Naniek Natsir beberapa kali menyeka matanya yang sembab. Duduk tertunduk di samping jenazah ayahnya Prof. H. Muhammad Natsir yang terbujur. Bungsu dari tiga bersaudara ini tetap berusaha tegar. Ia bercerita tentang kisah bersama Almarhum. Termasuk, ucapan-ucapan seperti penanda kepergian sang ayah.

“Bapak pernah bilang, jangan nangis kalau nanti papa pergi,” kata Rizka.

Iklan

Pesan lain yang diingatnya, Almarhum meminta jenazahnya tidak didokumentasikan. “Kalau mau pakai foto. Pakai saja foto waktu masih hidup,” kenang Rizka.

Ketegaran juga terlihat pada Hj. Baiq Hasniwati, istri Almarhum yang duduk di dekat ujung kaki Almarhum. “Kami sudah ihklas. Maafkan kesalahan kesalahan. Kalau ada salah kata dan perbuatan Almarhum. Mohon dimaafkan,” pinta Baiq Hasniwati kepada setiap pelayat yang mengalaminya.

Almarhum meninggal akibat serangan jantung usai bermain tenis di lapangan tenis DPRD NTB.

Hidup bersama Baiq Hasniwati, almarhum dikaruniahi tiga orang anak, Nanda Ivan Natsir, SH, MH, M. Arief Sanjani Natsir, SE.MM dan dr. Rizka Naniek Natsir.

Suasana duka menyelimuti rumah di Jalan Udayana Gang Ekajaya Nomor 29, Mataram. Hingga Selasa, 11 Februari 2020  Jelang dinihari, tamu dari kalangan keluarga, kerabat, termasuk mahasiswa berdatangan ke tempat persemayaman terakhir Almarhum yang masih menjabat Wakil Rektor III Universitas Mataram (Unram).

Putra pasangan H. Abdul Hakim Zen (Alm) Hj. Siti Zahara punya catatan panjang hingga sampai pada titik di mana ia berhasil meraih gelar guru besar dari Unram.

Dikisahkan pihak keluarga, motivasi hidup mendorong Natsir muda tidak kenal waktu belajar. Baginya, keterbatasan dalam segala hal termasuk akses pada masa itu tidak menghalanginya.

Justru itulah yang memperkuat motivasinya. Natsir menempuh pendidikan SD Negeri No. 3 Bima, lulus tahun 1973. Setelah itu melanjutkan ke jenjang SMPN Gubug Jawa Tengah, lulus tahun 1976 , dan SMAN Demak Jawa Tengah, lulus tahun 1979, Sarjana Hukum Universitas Mataram, lulus tahun 1985, Magister Hukum Universitas Brawijaya, lulus tahun 2000, Doktor Ilmu Hukum Universitas Brawjiaya, lulus tahun 2014.

Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi menetapkan Natsir sebagai Guru Besar di bidang Hukum Pidana, dengan Surat Keputusan Nomor 24551/M/KP/2019, Tentang Kenaikan Jabatan Akademik/Fungsional Dosen. Menteri Riset, Teknologi, Dan Pendidikan Tinggi. Berdasarkan Penetapan Angka Kredit Direktur Jendral Sumber Daya Kemenristekdikti Nomor 151/D2.1/KK.001.00/GB/2019 Tertanggal 31 Mei 2019 diangkat menjadi Profesor/Guru Besar, terhitung mulai tanggal 1 Juni 2019 dan ditetapkan di Jakarta pada tanggal 9 Juli 2019 oleh Kemenristekdikti, pengiriman dokumen pengusulannya ke Jakarta pada tanggal 30 April 2019.

Menurut rencana, almarhum dimakamkan sekitar pukul 12.30 Wita, Rabu (12/2) di Pemakaman Umum Sibat Udayana, Kota Mataram. (ars)