Keluar dari Zona Merah, Lobar Intensifkan Penanganan Pasien Komorbid

H. Fauzan Khalid (Suara NTB/her)

Giri Menang (Suara NTB) – Lombok Barat (Lobar) dinyatakan keluar dari zona merah Corona, menyusul jumlah angka kesembuhan pasien Covid-19 melonjak tajam. Angka kasus meninggal juga menurun dibanding sebelumnya. Untuk terus menekan kasus Corona ini, pemda mengintensifkan penanganan pasien komorbid dengan melibatkan kecamatan, puskesmas dan semua desa.

Bupati Lobar, H. Fauzan Khalid menyebut terjadi tren penurunan kasus Covid-19 di Lobar dalam tiga minggu terakhir. “Dari sisi tren Covid-19 di Lombok Barat, alhamdulillah dalam tiga minggu terakhir tidak pernah (ada kasus baru, red). Dari (biasanya, red) tiga kasus per hari, terus ada penurunan,” ujar bupati ashir pekan kemarin.

Iklan

Demikian juga dengan kasus kematian, lanjut bupati, terus mengalami penurunan.  Bupati pun berharap tidak ada lagi kasus positif di Lobar dan sangat tergantung upaya yang dilakukan. “Apakah nantinya tren penurunan kasus Covid-19 di Lombok Barat sampai dengan angka nol, semuanya tergantung kepada kita semua,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Lobar, Hj Made Ambaryati Minggu, 23 Agustus 2020 menambahkan, Lobar beranjak dari zona merah ke oranye. Secara pelan-pelan dari zona oranye ini akan diupayakan menjadi zona hijau. “Lobar sudah bebas zona merah ke oranye, pelan-pelan nanti ke zona hijau.  Jangan langsung hijau, nanti kita takut sudah hijau, membeludak lagi terjun ke merah lagi,” tutur Ambar.

Ia mengaku kasus meninggal menurun, hanya ada tambahan meninggal satu orang dari Gapuk Gerung di Rumah Sakit Provinsi.

Melonjaknya angka kesembuhan ini di samping upaya penanganan terus digencarkan pemda, juga adanya perubahan sistem swab. Tidak lagi swab dua kali, namun sekali. Kalau pasien pada swab pertama negatif, maka boleh pulang. Tapi seminggu lagi, pasien harus kontrol ke rumah sakit. Pasien diperiksa, rontgen. Kalau paru-parunya bagus, tidak ada gejala langsung dinyatakan sembuh. “Jadi lebih cepat sembuhnya sekarang, karena kan kalau dulu di-swab lagi (dua) kali, negatif diswab lagi,” imbuh dia.

Langkah penanganan yang dilakukan pemda sendiri tetap menangani pasien komorbid. Sejauh ini pihaknya sudah menghimpun data warga komorbid, jumlahnya mencapai ribuan orang. Mereka tetap dalam pengawasan puskesmas dan desa agar jangan sampai warga ini parah baru berobat ke rumah sakit. Namun mereka dipantau intens oleh puskesmas, sehingga warga ini rajin kontrol di puskesmas. “Kami imbau mereka rajin kontrol,” imbuh dia.  (her)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional