Kekurangan Bahan Baku, PT. SMS Impor Gula dari Thailand dan Vietnam

Mataram (suarantb.com) – Badan Pusat Statistik (BPS) NTB mencatat nilai impor gula dan kembang gula dari Thailand pada Maret 2017 sebesar 52,01 persen dengan nilai US$ 4.505.091. Meningkat 10,04 persen dibanding impor gula dan kembang gula di bulan sebelumnya dengan nilai 43,97 persen dengan negara asal impor Vietnam.

Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri (PLN) Ir. Baiq Hudayani mengatakan, impor gula dari Thailand dan Vietnam tersebut merupakan impor yang dilakukan PT Sukses Mantap Sejahtera (PT SMS) untuk memenuhi kapasitas pabrik agar dapat terus beroperasi.

Iklan

“Impor gula itu untuk memenuhi kapasitas pabrik PT SMS di Dompu,” ujarnya kepada suarantb.com Selasa, 25 April 2017.

Menurut Baiq Hudayani, kapasitas giling pabrik PT SMS mencapai 5000 ton per hari. Namun karena masih terbatasnya bahan dasar tebu untuk memproduksi gula tersebut, menyebabkan PT SMS mengimpor gula dari Thailand. Terbatasnya bahan dasar tersebut menurutnya juga dikarenakan masih minimnya pengadaan tanaman tebu di daerah tersebut.

“Kapasitas mereka itu sekitar 5000 ton per bulan sekarang itu dari penanaman tebu petani hanya sekitar  500 ton. Sementara mesin pabrik gula itu harus tetap beroperasi dan ada minimal pengolahannya, itu mereka belum bisa memenuhi,” ujarnya.

Kasi Ekspor Dinas Perdagangan NTB, Rachmat Wira Putra, ST mengatakan bahwa jenis gula yang diimpor ke Dompu tersebut merupakan jenis raw sugar atau gula setengah jadi yang diperbolehkan untuk diimpor. Ia menjelaskan bahwa gula ‘mentah’ tersebut akan diolah kembali oleh pabrik gula yang bersangkutan untuk menjadi gula putih (white sugar).

“Jadi gula itu kan ada raw sugar, rafinasi dan white sugar. Yang tidak boleh impor itu white sugar, kalau raw sugar dan rafinasi itu boleh tapi ada catatannya dan itu ada di peraturan menteri,” ujarnya.

Wira juga menjelaskan  impor gula dilakukan supaya mesin penggiling tetap beroperasi. Pasalnya jika mesin penggiling tersebut berhenti beroperasi, biaya start-up untuk mengoperasikan mesin tersebut dinilai sangat besar. “Karena kalau berhenti beroperasi biaya start up-nya  itu besar, makanya mereka impor gula karena untuk menjalankan operasional pabriknya agar tidak rugi terlalu banyak,” imbuhnya.

Dijelaskan Baiq Hudayani, data terakait impor tersebut memang tidak dilaporkan secara langsung ke Dinas perdagangan NTB, sehingga pihaknya belum memiliki data lengkap terkait impor yang dilakukan.

Namun menurutnya, perizinan untuk impor tersebut dikeluarkan langsung oleh Kementerian Perdagangan. Sehingga selama ini, koordinasi yang dilakukan PT SMS  langsung menuju ke pusat.

“Kita ndak dilaporkan dari Dompu itu, karena mereka koordinasinya langsung ke pusat. Modelnya itu mereka di kasih izin dalam satu tahun  untuk bisa impor berapa,” ungkapnya.

Namun demikian, dalam waktu dekat pihaknya akan ke Dompu untuk mengkonfirmasi langsung terkait hal ini. “Rencananya kita mau ke sana untuk mengkonfirmasi terkait hal ini,” pungkasnya. (hvy)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here