Kekeringan, Petani Jerowaru Alih Profesi Jadi Buruh dan TKI

Selong  (suarantb.com) – Kekeringan yang melanda Kecamatan Jerowaru Lombok  timur, tidak hanya berdampak kepada sulitnya mendapatkan air bersih. Tetapi  juga sangat berpengaruh kepada produksi pertanian warga sekitar.

Ketua Kelompok Tani Bareng Mele, Dusun Jelok Buso Desa Pemongkong Kecamatan Jerowaru Lombok Timur, Suhirman mengatakan, lahan pertanian warga tidak dapat ditanami karena tidak ada air irigasi.

Iklan

Ia mengungkapkan kekeringan yang terjadi mengakibatkan lahan pertanian warga tidak dapat dimanfaatkan sama sekali sejak bulan Mei lalu hingga sekarang. Warga yang sebelumnya berprofesi sebagai petani akhirnya terpaksa alih profesi sebagai buruh dan Tenaga Kerja Indonesia (TKI).

“Kami panen jagung terakhir pada bulan Mei, dan sampai sekarang belum nanam lagi, karena hujan belum turun,” ujarnya  kepada suarantb.com, Kamis, 15 September 2016.

Suhirman mengatakan jangankan untuk mengairi sawah, kebutuhan air bersih untuk  mandi, memasak dan lainnya ia membeli satu tangki air bersih  dengan volume  5.000 liter untuk kebutuhan selama dua minggu.

“Kita beli air per tangki untuk digunakan selama dua minggu. Kita beli harga Rp 150 ribu.  Kalau punya rumah di sini harus kaya,” katanya.

Untuk memenuhi kebutuhan  sehari-hari, Suhirman beralih profesi.  Semula ia  menjadi petani biasa kini bekerja sebagai buruh serabutan. “Saya kerja buruh, kadang di desa kadang juga di luar desa. Untuk sementara sambil menunggu hujan turun,” ungkapnya.

Sebelumnya Kepala Desa Pemongkong, Abdul Hanan mengatakan daerah pertanian di sebenarnya  sangat subur. Namun karena tidak ada hujan turun mengakibatkan produk pertanian warga tidak bisa bersaing dengan wilayah lain.

“Kami punya wilayah yang subur, melon saja kemarin bisa mengalahkan kualitas melon Ganti (nama Dusun di Lombok tengah). Semuanya juga bisa tumbuh dengan baik kalau hujan,” tandasnya. (ism)