Kekeringan, Penyedia Jasa Air Bersih Untung Besar

Selong (Suara NTB) – Krisis air bersih selalu menghantui bagian selatan Kabupaten Lombok Timur (Lotim), saat musim kemarau. Bagi mereka, air bersih lebih berharga dibandingkan beras atau kebutuhan lain. Di tengah krisis air bersih ini dimanfaatkan oleh orang berjiwa bisnis untuk mencari keuntungan.

Kamis, 13 Oktober 2016 siang, di simpang tiga Dusun Tutuk Desa Jerowaru Kecamatan Jerowaru Lotim, puluhan mobil tangki parkir di tempat itu. Mobil-mobil ini adalah milik pribadi dari masyarakat yang menjadi penyedia jasa air bersih berpuluh-puluhan tahun lamanya.

Iklan

Mobil inilah, yang setia membawakan masyarakat air bersih dengan mengambil air di mata air Lingkok Tutuk. Mata air Lingkok Tutuk merupakan mata air yang keberadaan airnya tidak pernah berkurang, meski diambil setiap hari. Mata air ini seolah-olah menjadi satu-satunya sumber air minum bagi masyarakat yang dilanda kekeringan.

Pada sumber mata air Lingkok Tutuk inilah, para penyedia air mengaku bisa untung ratusan ribu per harinya tergantung berapa kali dan jarak tempuh air yang diangkut dan dibawa ke rumah masyarakat sesuai permintaan pembeli. Jika banyak permintaan, bisa untung sampai Rp 500 ribu per harinya.

Seperti dituturkan Sabri. Sebagian dari hasilnya atau setiap kali mengangkut air, masing-masing sopir tanki menyetor sebesar Rp 20.000 untuk mendukung lancarnya proses pembangunan masjid di dusun setempat. Baginya, setoran sebesar Rp 20.000 ini tidak memberatkan, apalagi dipergunakan untuk membangun tempat ibadah. ‘’Bagi kami, ini sangat bagus dan kami semua tidak keberatan,’’ tuturnya.

Hal senada disampaikan Amaq Yani. Dirinya sudah mulai menekuni sebagai penyedia air bersih atau penjual air bersih sejak tahun 2000 silam. Kala itu, katanya, masyarakat sudah mengalami krisis air bersih yang cukup memprihatinkan. Melihat kondisi itu, dirinya berusaha membantu masyarakat mencari air bersih, meski pada akhirnya harus dikomersilkan.

Ia menyebut, kisaran biaya dalam sekali pendistribusian air bersih tergantung dari jarak yang ditempuh. Apabila di seputar Desa Pemongkong dirinya dibayar dengan Rp 100 ribu dengan jumlah air sebanyak 5.000 liter. “Kalau di Desa Sekaroh bisa mencapai Rp 400 ribu sekali antar, karena lokasi cukup jauh dari sini, (Dusun Tutuk, red),” tuturnya. (yon)