Kekeringan Meluas di 318 Desa/Kelurahan

Ilustrasi daerah terdampak kekeringan. (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Bencana kekeringan di NTB terus meluas. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB mencatat 318 desa/kelurahan dilanda kekeringan dengan jumlah masyarakat terdampak 182.546 KK atau 651.753 jiwa.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pelaksana BPBD NTB, Ir. H. Ahmadi, SP-1 yang dikonfirmasi Suara NTB, Minggu, 26 Juli 2020 menyebutkan, data terbaru yang diperoleh dari BPBD Kabupaten/Kota, sebanyak 318 desa/kelurahan sudah dilanda kekeringan di NTB. Puncak bencana kekeringan diperkirakan pada Agustus dan September mendatang.

Iklan

‘’Saat ini masih bisa dihandle kabupaten/kota untuk distribusi air bersih kepada masyarakat yang kekurangan air bersih,’’ kata Ahmadi.

Ia mengatakan, Pemprov akan mem-back up Pemda Kabupaten/Kota yang sudah kewalahan mendistribusikan air bersih bagi warga terdampak. Bahkan, katanya, pihaknya akan menyiapkan usulan permintaan bantuan anggaran untuk penanganan bencana kekeringan ke BNPB.

‘’Nanti kita akan ajukan ke BNPB sebagai tambahan apabila BTT (Belanja Tak Terduga) dari Pemda provinsi maupun kabupaten/kota kurang. Tapi biasanya kita mengandalkan dari BNPB. Kalau pengalaman kemarin sekitar Rp9 miliar diberikan,’’ sebutnya.

Hingga saat ini, baru empat kabupaten yang telah menetapkan siaga darurat kekeringan. Yaitu, Lombok Barat, Lombok Timur, Dompu dan Kabupaten Bima. Setelah ada lima kabupaten/kota yang menetapkan status siaga darurat kekeringan, maka Pemprov NTB akan menetapkan status siaga kekeringan untuk skala provinsi.

Jika sudah ada SK penetapan siaga darurat kekeringan dari provinsi, maka Pemda dapat mengajukan usulan bantuan anggaran ke BNPB. Untuk menangani krisis air bersih di daerah-daerah yang dilanda kekeringan. Untuk itu, ia meminta kepada kabupaten/kota yang sudah dilanda kekeringan segera menetapkan status siaga darurat kekeringan.

Ahmadi menjelaskan, tidak semua daerah yang dilanda kekeringan solusinya dengan pembuatan sumur bor. Karena ada daerah-daerah seperti di Lombok bagian selatan yang tak memiliki potensi air tanah. Kalau pun ada potensi air tanahnya, kadang-kadang asin. Sehingga solusinya dengan droping air bersih. Kemudian jika ada sumber air di daerah terdekat, maka dibuat jaringan perpipaan air bersih.

Ia mengatakan, hanya Kota Mataram yang tak dilanda kekeringan di NTB. Sedangkan sembilan kabupaten/kota lainnya sudah mulai dilanda kekeringan. Berdasarkan data dari BPBD kabupaten/kota, Sabtu, 25 Juli 2020, sebanyak 19 desa di Lombok Utara dilanda kekeringan dengan jumlah warga terdampak 8.661 KK atau 26.036 jiwa.

Kemudian, Lombok Barat sebanyak 28 desa, jumlah warga terdampak 8.064 KK atau 32.255 KK, Lombok Tengah sebanyak 83 desa, jumlah warga terdampak 69.294 KK atau 273.622 jiwa. Selanjutnya, Lombok Timur 51 desa dengan warga terdampak 44.669 KK atau 129.455 jiwa.

Sumbawa Barat sebanyak 13 desa, dengan jumlah warga terdampak 2.716 KK atau 10.302 jiwa, Sumbawa sebanyak 42 desa, jumlah warga terdampak 20.189 KK atau 80.765 jiwa.

Kemudian, Dompu sebanyak 34 desa, dengan warga terdampak 16.936 KK atau 51.577 jiwa, Kota Bima sebanyak 12 kelurahan, warga terdampak 6.392 KK atau 19.880 jiwa dan Bima sebanyak 36 desa dengan jumlah warga terdampak 5.625 KK atau 27.843 jiwa. (nas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here