Kekeringan di NTB Meluas

Peta Kekeringan di NTB (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Bencana kekeringan yang melanda NTB semakin meluas. Masyarakat terdampak kekeringan bertambah sebanyak 13.126 jiwa, dari 705.691 jiwa pada 18 Agustus, menjadi 718.817 jiwa pada 26 Agustus lalu.

Sementara itu, Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) NTB memastikan ada anggaran belanja tak terduga (BTT) untuk penanganan krisis air bersih. Sebagaimana diketahui, beberapa Pemda Kabupaten/Kota sudah mengajukan bantuan ke provinsi. Mereka meminta bantuan anggaran untuk distribusi air bersih kepada masyarakat terdampak kekeringan.

Iklan

‘’Sudah ada di BTT untuk penanganan kekeringan. Ada anggaran cadangan bencana alam,’’ kata Wakil Ketua TAPD NTB, Dr. Ir. H. Amry Rakhman, M. Si dikonfirmasi Suara NTB di Mataram, Jumat, 28 Agustus 2020.

Meskipun tak menyebutkan alokasi anggaran penanganan kekeringan yang disiapkan di APBD NTB. Amry memastikan, anggarannya sudah ada di Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) berupa Belanja Tidak Terduga (BTT). ‘’Ndak disebutkan besarannya. Kalau dibutuhkan kita siapkan,” kata Kepala Bappeda NTB ini didampingi pejabat BPKAD NTB.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB, bencana kekeringan terus meluas di 9 kabupaten/kota. Semula, 76 kecamatan yang dilanda kekeringan, namun sekarang bertambah menjadi 76 kecamatan.

Begitu juga dengan jumlah desa yang dilanda kekeringan. Semula sebanyak 341 desa, sekarang menjadi 353 desa. Sehingga masyarakat terdampak kekeringan juga bertambah. Semula, masyarakat terdampak kekeringan di NTB sebanyak 199.294 KK atau 705.691 jiwa. Sekarang, jumlah masyarakat bertambah menjadi 203.879 KK atau 718.817 jiwa.

Sembilan kabupaten/kota sudah menetapkan status siaga darurat kekeringan di NTB. Yaitu, Lombok Barat, Lombok Utara, Lombok Tengah, Lombok Timur, Sumbawa Barat, Sumbawa, Dompu, Kota Bima dan Bima. BMKG memprediksi puncak kekeringan di NTB terjadi Juli – September mendatang. (nas)