Kekeringan di Kabupaten Bima Meluas, Anggaran Penanganan Minim

Petugas BPBD Kabupaten Bima saat mendistribusikan air bersih bagi warga Desa Nata Kecamatan Palibelo,Rabu, 29 September 2021.(Suara NTB/Ist)

Bima (Suara NTB) – Dampak kekeringan di wilayah Kabupaten Bima terus meluas. Sementara anggaran penanganannya sangat minim. Terutama minimnya anggaran atau biaya operasional untuk mendroping air bersih ke warga yang terkena dampak.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bima, tercatat ada sebanyak 7.865 Kepala Keluarga (KK) atau 39. 325 jiwa dari 39 Desa pada 10 Kecamatan yang terkena dampak kekeringan.

Iklan

 “Meski dampak kekeringan terus meluas, namun sampai saat ini Kabupaten Bima masih berstatus siaga bencana kekeringan,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPBD Kabupaten Bima, M. Chandra Kusuma M.AP, Rabu, 29 September 2021.

Menurutnya masih berstatus siaga tersebut membuat pihaknya kekurangan biaya atau anggaran, terutama kekurangan biaya untuk kegiatan droping air bersih, seperti biaya operasional petugas dan bahan bakar mobil tangki. “Status siaga ini, Pemerintah juga tidak menyiapkan anggaran khusus. Karena penanganan kekeringan berstatus siaga mengggunakan anggaran seadanya,” ujarnya.

Meski begitu, Chandra mengaku pihaknya akan tetap berusaha serta mengupayakan untuk mendropping air bersih berdasarkan permintaan warga, walaupun menggunakan anggaran seadanya. “Tetap kita kita upayakan dan cukupi. Kalau permintaan air bersih banyak dan serentak, ya terpaksa kita keluarkan biaya yang lebih untuk menyewa kendaraan lain,” katanya.

Lebih lanjut Ia mengaku, pihaknya telah mengusulkan ke Pemerintah Daerah dan Provinsi agar menetapkan Kabupaten Bima berstatus darurat bencana kekeringan. Tujuannya untuk memudahkan penanganannya. “Sudah kami ajukan permintaan. Saya harap didukung dan direspon baik oleh Pemerintah. Karena status darurat, Pemerintah akan mengalokasikan anggaran khusus,” katanya.

Selain itu tambah dia, dengan status darurat pihaknya juga akan bisa rutin mendroping atau menyalurkan air bersih setiap hari ke wilayah yang terdampak kekeringan tanpa harus menunggu permintaan.

“Selama berstatus siaga petugas kami akan menyalurkan air bersih berdasarkan permintaan. Kalau status darurat, tidak perlu lagi menunggu permintaan, langsung disalurkan ke wilayah yang terkena dampak kekeringan,” katanya.

Chandra menambahkan, setiap hari pihaknya tetap menyalurkan air bersih. Selain diutamakan Kecamatan yang paling parah terkena dampak kekeringan, dropping air bersih juga dilakukan berdasarkan permintaan warga.

“Hampir setiap hari kita droping air bersih untuk kebutuhan warga yang terkena dampak kekeringan, seperti warga di Kecamatan Donggo, Woha, Soromandi, Bolo dan Palibelo, yang paling parah terdampak kekeringan,” pungkasnya. (uki)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional