KEK Teluk Santong Tidak Boleh Eksklusif

Tabel Investasi di SAMOTA (Juli 2019)

Rencana pembentukan KEK Tanjung Santong Sumbawa perlu disambut baik, bahkan diberi “karpet merah’’ bagi pengembangan investasi. Karena dengan cara itu bisa mempercepat pembangunan di kawasan Samota (Teluk Saleh, Pulau Moyo, Gunung Tambora).

Demikian disampaikan, Ketua Tim Percepatan Pengembangan Samota, Ir.H.Badrul Munir, MM, kepada Suara NTB, Rabu, 12 Agustus 2020.

Iklan

Menurut Badrul, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan secara matang. Pertama, KEK Tanjung Santong tidak boleh bersifat eksklusif hanya untuk bidang investasi tertentu saja. ‘’Tetapi harus bersifat  inklusif dengan membuka ruang bagi pengembangan investasi sesuai peruntukannya. Termasuk memberi ruang bagi investasi masyarakat setempat,’’ katanya.

Kedua, KEK Tanjung Santong perlu menetapkan bisnis inti untuk mengembangkan sumber daya lokal yang tersedia. Terutama sumber daya kelautan dan pesisir yang melimpah dan beragam. ‘’Karena itu rencana untuk pengembangan sektor agroindustri dan energi, saya kira kurang tepat,’’ ujarnya.

Semestinya, diarahkan untuk pengembangan produk pangan, pariwisata dan energi. Terutama pengembangan pangan bersumber dari komoditas kelautan dan peternakan. Termasuk mengembangkan potensi pariwisata yang cukup besar dengan portofolio yang beragam. ‘’Dengan demikian wilayah KEK harus mengambil wilayah perairan Teluk Saleh, tidak hanya di darat.’’

Ketiga, aspek lingkungan harus mendapat perhatian serius. Baik lingkungan fisik maupun sosial dan budaya. Kita tahu bahwa Teluk Saleh merupakan aquarium raksasa dunia. Satu-satunya aquarium alam terbesar dunia yang memiliki keragaman sumber daya hayati dan dihuni oleh biota laut Hiu Paus dan Penyu Hijau yang dilindungi. Kehadiran KEK tidak boleh berdampak pada degradasi lingkungan hidup.

Selaku Ketua Tim Percepatan Pengembangan Samota, Badrul melihat kahadiran KEK merupakan suatu langkah cerdas dan strategis untuk pengembangan kawasan Samota.

Hal penting lainnya adalah prioritas terhadap pemberdayaan masyarakat setempat, terutama warga Desa Teluk Santong yang termasuk dalam wilayah KEK. Mereka harus dilibatkan dalam proses pembangunan, tidak hanya sebagai penerima manfaat. ‘’Karena itu prinsip pembangunan berbasis masyarakat (community based development) harus diterapkan,’’ sarannya.

Menunggu Keseriusan Investor

Sementara itu, Pemprov NTB menunggu keseriusan investor terakait rencana investasi bidang agrobisnis di wilayah Samota. Salah satunya dengan penandatanganan nota kesepahaman atau MoU dalam waktu dekat.

‘’Targetnya mudah-mudahan di tahun ini, kalau bisa paling telat 17 September sudah ada kesempatan. Ya September paling tidak sudah ada MoU-nya,’’ ujar Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) NTB, Dr.H. Amry Rakhman saat dikonfirmasi, Rabu, 12 Agustus 2020.

Menurutnya, investasi bidang agrobisnis tersebut memiliki nilai investasi yang cukup besar. Terutama dengan mencakup pengolaan dan penyediaan bahan sekaligus. Antara lain dengan pengolahan hasil, pembangunan infrastruktur pendukung, hingga pemasaran dari sumber daya agraris yang ada di NTB.

“Kita sudah persentasi di depan investor, di mana mereka juga tergabung di AMNT. Ada satu yang kita usulkan untuk agrobisnis jagung, rumput laut, udang, ternak dan Industri hasil hutan bukan kayu,” jelasnya.

Pengolahan lima sumber daya milik NTB tersebut diharapkan dapat meningkatkan nilai jual. Calon investor sendiri disebutnya saat ini tengah mempelajari potensi-potensi investasi yang telah ditawarkan.

Faktor produksi, usaha tani, pengolahan hasil, dan pemasaran serta kelembagaan menurutnya dapat digerakkan dengan rencana investasi tersebut. “Itu sudah kita presentasikan kemarin waktu ada pertemuan dengan investor. Tinggal nanti kita menunggu tindak lanjutnya. Ini yang mau kita kita komunikasikan,” jelasnya.

Minimnya investasi bidang agrobisnis di NTB sendiri dinilai dapat menjadi salah satu daya tarik bagi investor untuk menggarap bidang tersebut. Terlebih lokasi investasi yang dipilih adalah kawasan Samota di Sumbawa yang memiliki sumber daya berlimpah untuk kelautan dan pertanian.

Terkait besaran investasi secara rinci disebutnya masih menunggu kesepakatan lebih lanjut. Untuk itu, pihaknya telah mempresentasikan potensi-potensi yang diharapkan dapat menarik minat masing-masing investor.

“Mudahan-mudahan ada komunikasi selengkapnya. Kita belum sampai bicara kesana (nilai investasi) karena masih analisis dulu, apa-apa yang bisa kita lakukan,” ujar Amry. Sampai saat ini pihakny atelah mempresentasikan potensi investasi agrobisnis tersebut ke beberapa calon investor. “Mudah-mudahan tidak dengan waktu yang terlalu lama mereka beri keputusan kepada kita,” tandasnya. (bay)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional