KEK Mandalika, Harapan Baru Pencari Kerja Korban Pandemi

T.Wismaningsih Drajadiah (Suara NTB/dok), I Made Pari Wijaya (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika yang akan menjadi lokasi perhelatan MotoGP Mandalika, adalah harapan baru bagi para tenaga kerja yang menjadi korban pandemi Covid-19 di NTB. Kini, jajaran Pemprov NTB bersama para pemangku kepentingan terus mengupayakan agar KEK Mandalika bisa menyerap para pencari kerja ini.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi NTB, Dra. T. Wismaningsih Drajadiah menegaskan, pandemi Covid-19 telah menambah daftar pekerjaan rumah Pemprov NTB di bidang ketenagakerjaan.

Saat ini, ujarnya, ada sekitar 37.800 tenaga kerja yang mengalami pengurangan jam kerja akibat Covid-19. Lalu, ada sekitar 28.390 ribu yang menjadi pengangguran. ‘’Itu bukan di PHK, tapi karena tidak bisa bekerja, ada pekerja migran yang tidak jadi berangkat, ada yang dipulangkan karena Covid-19, sehingga bertambah jumlah pengangguran,’’ ujarnya.

Jumlah tersebut tentunya cukup besar. Untuk itu, dibutuhkan sebuah kerja besar yang mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah banyak. “Untuk itu yang kita lihat, pertama pasarnya KEK Mandalika. Data yang kami punya kalau dibutuhkan tenaga kerja baru itu 27.694 kalau semua itu bisa terserap, alhamdulillah, bisa penganggurannya habis,” ujarnya.

Sepintas, itu merupakan kalkulasi yang mudah. Namun Wismaningsih menegaskan pihaknya perlu melakukan banyak persiapan untuk memastikan jumlah serapan tenaga kerja di lapangan, benar-benar sesuai dengan angka-angka di atas kertas.

“Untuk memenuhi pasar kerja yang ada, sebesar itu, kita harus tahu, kebutuhan apa, jabatan apa yang ada, spesifikasi pendidikan apa yang dibutuhkan untuk terakomodir pada peluang kerja tadi?,” serunya. Jika penyelarasan itu berjalan dengan baik, Wismaningsih meyakini porsi terbesar tenaga kerja yang terserap di KEK Mandalika akan menjadi milik warga NTB.

“Kita ingin 69 persen menggunakan tenaga kerja lokal,” kata Wismaningsih dalam sebuah wawancara terpisah, beberapa waktu lalu.

Untuk itulah, pihaknya di Pemprov NTB harus menyiapkan masyarakat dengan menggelar berbagai pelatihan yang sesuai dengan spesifikasi atau kebutuhan tenaga kerja di KEK MAndalika. Pelatihan untuk memastikan lahirnya tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan tersebut digelar di BLK, ataupun LLK yang dilakukan, hingga SMK.

“Jadi harus terkoneksi antara pelatihannya dengan kebutuhan tadi,” imbuhnya.

Pemprov NTB juga tengah menggagas, training need analysis (TNA). TNA merupakan suatu proses identifikasi dan analisis tentang kebutuhan pelatihan atau program pengembangan potensi Sumber Daya Manusia (SDM) di dalam sebuah organisasi atau perusahaan.

“Kebutuhannya seperti apa, latihan seperti apa yang kita lakukan. Jadi pelatihannya jangan salah. Ini untuk menguji agar masyarakat kita benar-benar bisa diterima. Jangan sampai kita membuka peluang, mereka ditolak,” jelasnya.

Ia menegaskan, informasi menyangkut kebutuhan dan jenis kompetensi yang dibutuhkan tengah diidentifikasi oleh pihaknya. Dalam upaya ini, Disnaker Provinsi NTB akan menjadi perantara mereka yang membutuhkan kerja dengan pengusaha yang menjadi pencari kerja. Mekanismenya adalah melalui bursa kerja secara langsung, terbuka, maupun melalui media daring.

Subsidi Upah

Bagaimana dengan tenaga kerja yang penghasilannya menurun akibat Covid-19? Untuk hal ini, Wismaningsih menegaskan adanya kebijakan bantuan subsidi upah bagi tenaga kerja yang penghasilannya di bawah Rp5 juta. Sekitar 58.000 pekerja di NTB saat ini terdaftar sebagai penerima bantuan ini.

“Di masa Covid ini sedang disalurkan. Sudah tahap kedua, sekarang sedang berjalan ini. Melalui skema kebijakan ini, pekerja bisa memperoleh Rp2,4 juta setiap orang,” sebutnya.

Wismaningsih menegaskan, dalam upaya menekan pengangguran, pihaknya tidak bisa bekerja sendirian. Upaya untuk meretas pengangguran dan meningkatkan kesejahteraan pekerja di NTB, adalah pekerjaan rumah bersama yang juga melibatkan kerja-kerja lintas birokrasi.

“Kita tidak bisa membuka peluang kerja itu sendiri. Ada dinas pariwisata, perindustrian, koperasi. Ini yang kita koordinasikan, agar mereka juga tahu, kebutuhan pasar kerja itu ini yang dibutuhkan. Sehingga mereka juga menyesuaikan. Di pendidikan ada SMK-nya, ada sekolah pariwisata, mereka melatih sesuai dengan industri yang membutuhkan,” ujar Wismaningsih.

Pemprov NTB menginginkan mayoritas pekerja lokal yang akan mengisi peluang kerja di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika. Diketahui, kebutuhan tenaga kerja di kawasan pariwisata perioritas nasional ini mencapai 27.698 orang. “Kita ingin 69 persen menggunakan tenaga kerja lokal,” kata.

Kepada Suara NTB, Senin, 26 Oktober 2020, kepala dinas mengatakan, kebutuhan tenaga kerja ini termasuk dengan penyelenggaraan MotoGP 2021. Ia menyadari, tentu akan ada persaingan kerja antara orang lokal, dan calon pekerja dari luar. Karena itu, masyarakat di NTB juga diminta mempersiapkan diri. Tenaga kerja lokal harus menjadi tuan di rumah sendiri. Tugas pemerintah adalah mempersiapkannya.

Pada dasarnya, pemerintah sudah mentransfer kompetensi melalui Balai Latihan Kerja (BLK) Pemprov NTB, termasuk BLK dan LLK yang tersebar di provinsi ini. Kepala dinas meyakini, SDM lokal sangat siap. Tinggal dipoles sesuai kebutuhan keterampilan kerja di KEK Mandalika. Secara teknis, pemerintah daerah juga harus mendapatkan formasi tenaga kerja yang dibutukan di KEK Mandalika.

Seluruh stakeholders harus bersiap. Misalnya, Dinas Pairiwisata melalui Politeknik Pariwisata. Demikian juga kabupaten/kota lain juga harus turut mempersiapkan. Selain itu, tenaga-tenaga lokal lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), kata kepala dinas juga diyakini siap.

“Secara teknis, apa kebutuhan kerjanya, tinggal dilatih kembali. Kita berharap ada dukungan langsung dari Kemeneker juga nantinya untuk mempersiapkan tenaga kerja lokal kita mengisi KEK Mandalika,” demikian Wismaningsih.

Operation Head The Mandalika, I Made Pari Wijaya dikonfirmasi usai Rakor pemetaan kebutuhan tenaga kerja di KEK Mandalika bertempat di Kantor Disnakertrans NTB, beberapa waktu lalu menjelaskan pemetaan kebutuhan tenaga kerja di KEK Mandalika.

Menurutnya, kebutuhan tenaga kerja di KEK Mandalika dikelompokkan menjadi dua. Yakni, kebutuhan tenaga kerja tahap konstruksi dan tenaga kerja tahap beroperasi. Ia menyebutkan ada 18 proyek yang menyerap tenaga kerja di KEK Mandalika.

Masing-masing lima proyek infrastruktur AIIB, tiga proyek/pekerjaan NIA dan 10 proyek yang dikerjakan investor, berupa pembangunan utilitas, fasilitas dan hotel di KEK Mandalika. Pada tahap konstruksi membutuhkan banyak insinyur. Sedangkan pada tahap operasional, banyak membutuhkan tenaga kerja di bidang hospitality. Mulai dari food and beverege, room service, security.

“Jumlah tenaga kerja seiring pembangunan. Masa konstruksi membutuhkan tenaga kerja sekian orang, masa operasi butuh sekian orang. Nanti kami sebagai pengelola memberikan informasi. Perkembangan investor seperti apa, kebutuhan tenaga kerja seperti apa, SMK akan menyiapkan seperti apa. Kepala Disnakertrans yang menjembatani,” katanya.

Pari Wijaya mengatakan pihaknya berkomitmen untuk menyerap tenaga kerja lokal di KEK Mandalika, tentunya sesuai dengan kebutuhan dan kompetensi. Ia memberikan contoh, seperti tenaga kerja khusus di ITDC yang berjumlah 580 orang, sebesar 69 persen merupakan tenaga kerja lokal, sisanya berasal dari luar.

“Kita membutuhkan tenaga kerja yang memiliki kualifikasi pendidikan yang bagus dan standar kompetensi yang baik,” terangnya. (aan)