Kejaksaan Sita Dokumen dan Perangkat IT BPR

Mataram (Suara NTB) – Penyidik Kejati NTB akhirnya melakukan penggeledahan dan penyitaan dokumen dalam kasus merger PT. BPR NTB menjadi PT Bank BPR NTB. Penyitaan diawali di  PD BPR Praya, Lombok Tengah , Kamis, 14 September 2017 kemarin. Selain itu disegel juga perangkat Information Technology (IT) yang merupakan pengadaan  dari tim merger BPR.

Penyitaan dipimpin  Ketua Tim Penyidik Kasus Merger BPR, Usman, SH, bersama Kasi Penyidik pada Pidsus Kejati NTB, Zulkifli Said, SH.,MH, melibatkan jaksa koordinator dan sejumlah penyidik Pidsus. Tim tiba sekitar pukul 09.00 Wita, sempat berkoordinasi dengan Kepala BPR Praya, Ahmad Afif, SE. Mereka masuk ke  ruang Tata Usaha yang dijadikan tempat penyimpanan sejumlah dokumen dan barang bukti untuk penyidikan.

Iklan

Tim kemudian masuk ke ruang server IT yang tersimpan di sudut ruangan ukuran sekitar 2 x 2 meter. Di dalam ruangan itu, terdapat susunan perangkat server milik tim konsolidasi merger BPR, bersebelahan dengan server milik PD. BPR Praya. Namun alat itu tak berfungsi alias mangkrak.

Kasi Penyidik  Zulkifli meminta dua staf BPR menuntunnya melihat perangkat software dan hardware penyimpan data elekronik itu. Sementara tim lainnya sibuk membongkar lembar dan meja yang berisi dokumen berhubungan dengan merger BPR tahun 2016 itu.

‘’Semua yang berkaitan dengan tim konsolidasi merger BPR kita sita pak ya? Nanti kami buatkan berita acaranya,’’ kata Zulkifli dan disambut anggukan pegawai BPR.

Direktur BPR Ahmad Afif dibantu stafnya juga tampak sibuk mencari dokumen yang diminta oleh tim penyidik. Tim penyidik hanya berkutat di  ruangan TU itu saja. Informasinya ruangan tersebut selain berfungsi sebagai tempat arsip, juga  dimanfaatkan tim konsolidasi untuk menyimpan dokumen dan piranti pendukung  merger PT. BPR.

Pukul 12.30 Wita, satu per satu dokumen yang dicari disita dan dibuatkan berita acara.     Sebelum kembali , mereka meminta Direktur BPR memeriksa dan mencocokkan dokumen yang disita dengan data dalam berita acara. Akhirya berita acara penyitaan ditanda tangani direktur dengan tim penyidik.

Sementara barang bukti yang disita berdasarkan register penyitaan, buku rencana kerja tahunan BPR NTB Lombok Tengah. Almari rak server yang berisi processor intel (R) Xeon (R) CPU, perangkat lunak dengan kapasitas 1.90GHz, 1.90 GHz dan empat buah server OS Linux,  installed memory (RAM) 16,0 GB (15,5 GB usable), system type 64-bit.  Operation System x64 bassed processor , perangkat computer name, domain and workgroup setting. Komputer name WIN -8J1 MPK10F6G terdiri dari  komputer name WIN -8J1 MPK10F6G, computer description, workgroup. Windows activation terdiri dari windows is activated read the microsoft software license terms, product ID 00376 – 40000 – 00000 – AA947, satu buah microtik ruterboard, satu buah switchhub Allied Telessis, satu buah PC Router (linux). Terakhir satu buah UPS APC 5000 VA dalam kondisi tak berfungsi.

Usai penyitaan, Ketua Tim Penyidik, Usman, SH menyebut, penggeledahan dilakukan untuk melengkapi materi penyidikan dalam kasus merger BPR.  Penyitaan khusus dilakukan untuk server dan perangkat windows milik tim konsolidasi.

‘’Kita sita  satu  rak isinya server lengkap,’’ jelas Usman.  Perangkat yang disita itu akan jadi bagian dari barang bukti untuk melengkapi penyidikan penggunaan anggaran merger tahub 2016. “Yang jelas ini nanti jadi barang bukti. Kasus ini kan sudah naik penyidikan,”  ujarnya singkat.

Setelah penyitaan itu, Juru Bicara Kejati NTB Dedi Irawan, SH mengulas, kasus ini masih penyidikan umum sehingga butuh barang bukti untuk disita sehingga penyidikan lebih spesifik untuk menentukan tersangka. Siapa yang paling bertanggung jawab  sebagai tersangka akan ditentukan setelah gelar perkara. “Sekarang tim masih mempelajari dulu hasil penyitaan dokumen itu,” jelasnya. (ars)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional