Kejaksaan Inventarisasi Proyek Mangkrak di Mataram

Konstruksi gedung Bale Budaya yang terletak di Kompleks RTH Pagutan, Lingkungan Petemon, Kelurahan Pagutan Timur. Sejak dibangun tahun 2016 lalu, proyek ini diduga mangkrak. (Suara NTB/cem)

Mataram (Suara NTB) – Kejaksaan Negeri Mataram akan menginventarisasi sejumlah proyek mangkrak di Kota Mataram. Pendataan diperlukan untuk mengetahui penyebab tidak berlanjutnya pekerjaan tersebut.

Kajari Mataram, Yusuf mengaku belum mengetahui detail proyek apa saja milik Pemkot Mataram yang mangkrak. Hal ini perlu diketahui detail dengan cara menginventarisasi dulu item pekerjaan tersebut. Selanjutnya, dirunut penyebabnya sehingga lebih mudah memberikan masukan ke pemerintah daerah. “Seperti orang sakit kan perlu didiagnosa dulu. Baru setelah itu diberikan masukan,” kata Kajari dikonfirmasi pekan kemarin.

Iklan

Diketahui, proyek hingga kini mangkrak adalah proyek Bale Budaya milik Dinas Pariwisata Kota Mataram. Pekerjaan ini mulai dibangun sekitar tahun 2016 lalu dengan anggaran Rp1,5 miliar. Dari anggaran itu hanya menyelesaikan bagian pondasi dan tiangnya saja. Tahun berikutnya kembali dianggarkan Rp2 miliar. Gedung yang direncanakan sebagai tempat kegiatan seni – budaya juga belum rampung. Proyek itu tidak berlanjut alias mangkrak sampai saat ini.

Selain itu, pekerjaan tidak berjalan lainnya adalah penyelesaian gedung kantor Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) yang terletak di kompleks perkantoran di Jalan Dr. Soedjono, Kelurahan Jempong Baru. Proyek itu telah menghabiskan anggaran sekitar Rp3,5 miliar, juga tak berlanjut. Gedung kantor Dinas Kepemudaan dan Olahraga juga demikian. Paling fantastis adalah proyek monument Mataram Metro hingga kini belum bisa dimanfaatkan. Padahal, anggaran yang ditelan sekitar Rp16 miliar.

Kajari mengatakan, tak berlanjut proyek itu bisa saja dipicu oleh refocusing anggaran. Apalagi dua tahun ini, anggaran difokuskan untuk penanganan pandemi coronavirus disease atau Covid-19, sehingga pekerjaan ditunda. Adapun proyek Bale Budaya di kompleks ruang terbuka hijau (RTH) Pagutan tidak rampung sebelum pandemi melanda, ia mengaku tidak mengetahui perkembangannya. “Kalau itu saya tidak tahu perkembangannya,” ujarnya.

Untuk melanjutkan pekerjaan sambung Kajari, perlu juga melihat kemampuan daerah. Proses pembangunan itu tidak hanya sekadar perencanaan saja, melainkan butuh anggaran atau kesiapan dana. Saat ini menurutnya, perlu memastikan penyebab proyek itu tidak berjalan, sehingga bisa dipetakan langkah – langkah dilakukan untuk mendorong penyelesaian pekerjaan. (cem)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional