Keindahan Tanjung Menangis dan Kisah Puteri Datu Samawa

Mataram (Suara NTB) – Cerita rakyat tentang kisah pilu tidak saja terjadi di Lombok pada kisah Puteri Mandalika. Di Sumbawa, tepatnya di Pantai Tanjung Menangis juga terdapat kisah pilu yang didapatkan oleh wisatawan yang datang berkunjung.

“Ada kisah sedih yang diyakini oleh masyarakat dan itu terjadi pada saat dulu. Sehingga masyarakat meyakini bahwa nama Tanjung Menangis diberikan berdasarkan kisah sedih itu,” kata warga Sumbawa Muhammad Zaini Ismail di Mataram, Kamis, 1 Februari 2018.

Iklan

Tanjung menangis merupakan nama tanjung yang berada di bagian timur  Pulau Sumbawa. Tepatnya di Kecamatan Sumbawa Besar Kabupaten Sumbawa. Saat ini Tanjung Menangis semakin banyak dikunjungi wisatawan. Pantai yang indah dengan suasana yang tenang membuat wisatawan semakin terpikat untuk berkunjung. Terlebih dengan adanya cerita rakyat tentang puteri dan datu di Pulau Sumbawa.

“Sebenarnya ceritanya panjang. Kalau datang ke Tanjung Menangis, warga sekitar akan menceritakan dengan lebih baik kisah ini,” ujarnya.

Diceritakan pada zaman dahulu, ada seorang puteri dari Datu Samawa terjangkit penyakit yang sangat aneh. Konon, tidak ada seorang pun di Sumbawa yang dapat menyembuhkan penyakit itu. Datu Samawa telah melakukan berbagai cara demi menyembuhkan putrinya.

Dia telah berkunjung ke rekan-rekannya sesama pemimpin, yaitu kepada Datu Dompu dan Datu Bima untuk mencari tabib sakti yang dapat menyembuhkan putrinya, namun hasilnya tidak memuaskan.

Akhirnya Datu Samawa berjanji akan memberikan hadiah kepada siapapun yang mampu menyembuhkan puterinya. Datanglah Daeng Ujung Pandang dan hanya dia yang mampu menyembuhkan penyakit puteri.

Sesuai dengan janjinya, tibalah waktunya bagi Datu Samawa untuk membayar janji kepada Daeng Ujung Pandang yang telah menyembuhkan putrinya. Seperti yang telah dijanjikan, ia harus menikahkan puteri dengan Daeng Ujung Pandang. Namun, karena melihat fisik Daeng Ujung Pandang yang sudah tua renta, Datu Samawa merasa tidak rela untuk menikahkan putrinya dengan Daeng Ujung Pandang.

Daeng Ujung Pandang oleh Datu Samawa dipersilahkan untuk mengambil harta sebanyak-banyaknya, berapapun yang diinginkan olehnya, asalkan Daeng bersedia untuk tidak menikah dengan putrinya. Namun Daeng Ujung Pandang menolak. Ia pun pulang kembali ke Ujung Pandang menggunakan sampan kecil yang dilabuhkan di sebuah tanjung.

Puteri Datu Samawa merasa iba melihat kekecewaan di mata Daeng Ujung Pandang, ia pun menyusul Daeng Ujung Pandang ke tanjung tersebut. Saat putri Datu Samawa tiba di pelabuhan, saat itu pula, Daeng Ujung Pandang baru saja menaiki sampannya kemudian ia berubah menjadi pemuda tampan.

Melihat hal tersebut, putri Datu Samawa menangis, menyesali keputusan yang diambil ayahnya serta menangisi betapa tersiksa rasanya ditinggal seseorang yang baru ia cintai. Sambil menangis, puteri berlari menyusul sampan Daeng Ujung Pandang hingga tengah laut tanpa menyadari ia mulai tenggelam. Hal ini menyebabkan Tuan Puteri Datu Samawa meninggal di tengah laut sambil menangis.

Cerita tentang Puteri dan Daeng Ujung Pandang ini berkembang dan menyebar dari mulut ke mulut. Warga Kecamatan Sumbawa sebagian besar sudah tahu dan menceritakan kisah itu kepada wisatawan yang datang. Apalagi pantai ini disebut sebagai pantai yang cocok untuk berlibur bersama pasangan. Konon, hubungan akan menjadi awet apabila telah berkunjung ke pantai Tanjung Menangis.

Tanjung Menangis berjarak sekitar 11 kilometer ke arah utara dari Kota Sumbawa Besar. Untuk mencapai tanjung ini tidaklah sulit. Ada beberapa alternatif antara lain melalui darat dapat dicapai dengan menggunakan kendaraan roda 4, motor bahkan bisa dengan sepeda gunung baik dari Kota Sumbawa Besar maupun dari Pantai Ai Loang, Penyaring. Jika melalui laut dapat dicapai dengan kapal cepat dari Labuhan Sumbawa maupun Labuhan Badas. (lin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here