Kediaman Pribadi Gubernur dan Makam Pendiri NW Dipadati Warga

Selong (suarantb.com

Ribuan masyarakat dari berbagai penjuru Pulau Lombok memadati kediaman pribadi Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi dan makam pendiri organisasi Nahdlatul Wathan (NW), Almaghfurlah TGKH. M. Zainuddin Abdul Majid, di Selong Lombok Timur, Kamis (7/7).

Iklan

Kedatangan ribuan warga itu dengan maksud bersilaturahmi dengan gubernur. Pasalnya, gubernur selalu menggelar open house sehari setelah pelaksanaan salat Hari Raya Idul Fitri di kediaman pribadinya di Gelang Pancor Kecamatan Selong Lombok Timur. Setelah itu, ribuan warga mengunjungi makam pendiri NW yang berada di kompleks Yayasan Pendidikan Hamzanwadi Pondok Pesantren Darunnahdlatain (YPH PPD) NW Pancor.

Kakak kandung Gubernur NTB, H. M. Syamsul Luthfi, SE yang dikonfirmasi di sela-sela kegiatan open house menyebutkan sekitar 5.000 – 10.000 masyarakat yang datang pada acara open house Gubernur kali ini. “Sekitar 5.000-10.000 orang lah yang rindu bertatap muka dengan pak Gubernur, setelah satu tahun dengan kesibukan beliau memimpin,” ujarnya, Kamis (7/7) siang kemarin.

Di makam pendiri NW, para pengunjung bukan hanya berasal dari Lombok Timur tetapi juga dari luar daerah seperti Bima, Dompu, dan Lombok Tengah. Salah seorang pedagang yang berjualan di sekitar makam, Alfin mengatakan peziarah tetap ramai setelah lebaran. “Yang berziarah juga bukan orang sini saja,tapi dari Bima, Dompu juga ada,” sebutnya.

Alfin mengatakan pada momen lebaran, makam tetap akan terbuka sampai pukul 24.00 Wita selama satu minggu. Pada hari hari biasa, penziarah banyak berdatangan hanya pada hari Jum’at saja.

Salah seorang pengunjung dari Barebali Lombok Tengah, Muzawir mengaku setiap tahun tetap melakukan ziarah. Selain jarak tempuh yang cukup dekat di kedua tempat itu, ia beserta keluarga bertujuan ingin berdoa di depan makam dengan memanfaatkan momen Lebaran.

“Kami tetap kesini (makam) ziarah setiap tahun setelah ke rumah Tuan Guru Bajang untuk meminta doa,” ujarnya.

Diantara kegiatan yang dilakukan warga, yaitu membaca doa-doa dan surat Yasin. Setelah itu membasuh muka dengan air di depan makam. (ism)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here