Kecewa Jalan Rusak, Warga Rempek Tanam Pisang

Warga tiga dusun di Desa Rempek Kecamatan Gangga menanam pohon pisang di jalan rusak dan tidak dianggarkan pemerintah. (Suara NTB/ari)

Tanjung (Suara NTB) – Warga tiga dusun (Duria, Soloh dan Soloh Atas) di Desa Rempek Kecamatan Gangga Kabupaten Lombok Utara (KLU) melakukan aksi protes kepada pemerintah karena ruas jalan kabupaten di desa itu tidak dianggarkan pada APBD 2021. Protes warga dilakukan dengan menanam pisang dan nanas pada salah satu titik di ruas jalan Soloh (Rempek) – Kopong Sebangun (Samik Bangkol) yang memiliki panjang sekitar 5 km tersebut.

Dua dari tiga kepala dusun (kadus) turun pada aksi itu. Masing-masing Kadus Duria, Samsul Kamal, Kadus Soloh, Zaenaturrahman. Sedangkan Kadus Soloh atas, diwakili oleh tokoh agama, Ainadi. Sejumlah warga yang mendapat informasi ruas jalan itu tidak dianggarkan oleh Pemda, juga kecewa dan memilih ambil bagian menanam pisang.

Pantauan koran ini, ruas jalan tersebut memang rusak parah. Di beberapa tanjakan, aspal lapen yang dibangun tahun 2010 terkikis. Bebatuan sebesar kepala yang dulunya tertimbun mulai terlihat akibat erosi air hujan beberapa hari lalu. Jalan bahkan sudah menjadi jalan tanah. Terdapat dua jembatan kecil yang menghubungkan ruas ini, membutuhkan pelebaran yang mendukung kenyamanan dan keamanan warga pengguna jalan.

“Kami sangat kecewa karena usulan jalan ini tidak dianggarkan meski sudah masuk di Musrenbang Desa dan kecamatan. Ruas jalan ini berstatus Jalan Kabupaten, hanya saja, sejak pemekaran kabupaten, jalan ini hanya disentuh sekali dengan lapen,” ujar Samsul Kamal, Rabu, 2 Desember 2020.

Ruas jalan ini sangat strategis, karena menghubungkan warga Desa Samik Bangkol dan Desa Rempek. Ruas jalan ini diakui menjadi bahan “gorengan” kampanye pada Pilkada 2015 oleh kubu yang menang saat itu. Mengetahui janjinya tidak direalisasikan, warga pun tak bisa menyembunyikan kekecewaannya.

Menurut warga, status dan lebar jalan seharusnya menjadi prioritas utama perencanaan dan alokasi anggaran. Mereka membandingkan dengan fakta ruas jalan baru Menggala – Jeruk Manis yang baru dibuka namun mendapat kucuran anggaran. “Dengan kualitas jalan yang bagus, harapan kami ekonomi warga bisa meningkat,” imbuhnya.

Sementara, Ainadi menambahkan ekonomi masyarakat setempat tidak berkembang baik selama jalan tidak diperbaiki. Ia mencontohkan, penyedia dedak di Soloh Atas terpaksa membatalkan transaksi karena kendaraan pick up pembeli tidak bisa melewati tanjakan yang rusak.

Yang paling merugikan menurut warga adalah, harga jual komoditas hasil kebun anjlok. Pembeli umumnya melihat kondisi jalan dan jarak tempuh untuk menurunkan harga penawaran kepada warga.

Terpisah, Plt. Kepala Dinas PUPR KLU, Kahar Rizal, S.T., yang dikonfirmasi mengakui ruas jalan tersebut tidak masuk dalam anggaran. Pada anggaran infrastruktur jalan APBD 2021, alokasi untuk jalan hanya bersumber dari DAK senilai Rp 40 miliar. “Dari anggaran Rp 40 miliar itu, sekitar Rp 10 miliar untuk hotmix, dan selebihnya lapen,” jawab Kahar.

Ia berdalih, keterbatasan anggaran akibat Covid menjadi penyebab tidak maksimalnya volume pengaspalan jalan. Namun demikian, pihaknya berharap aspirasi warga ini dapat diprioritaskan pada perencanaan anggaran tahun berikutnya. (ari)