Kecamatan Empang Berstatus KLB Demam Berdarah

Agung Riyadi. (Suara NTB/ist)

Sumbawa Besar (Suara NTB) – Sejak Januari hingga pertengahan Februari 2020, tercatat sebanyak 87 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Sumbawa. Dari jumlah ini, paling dominan terjadi di wilayah Kecamatan Empang, yakni 26 kasus positif. Kasus yang terjadi di kecamatan setempat statusnya Kejadian Luar Biasa (KLB), karena mengalami lonjakan yang cukup signifikan dari tahun sebelumnya.

Data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan (Dikes) Sumbawa, 26 kasus DBD di Kecamatan Empang tersebar di 10 desa. Yakni di Desa Boal, Jotang, Empang Atas, Empang Bawa, Ongko, Lamenta, Gapit, Bunga Eja, Pamanto dan Jotang Beru.

Iklan

Sekretaris Dinas Kesehatan (Dikes) Kabupaten Sumbawa melalui Kabid  Pencegahan Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL), Agung Riyadi membenarkan hal tersebut. Kasus yang terjadi di Empang disebut KLB karena terjadi lonjakan kasus. Di mana sepanjang Januari hingga Desember tahun 2019 lalu, hanya terdapat 8 kasus DBD di kecamatan setempat.

“Kecamatan Empang 26 kasus positif DBD dari Januari sampai sekarang. Sudah bisa kita sebut KLB di kecamatan. Kalau tahun 2019 lalu hanya 8 kasus dari Januari sampai Desember,” ujarnya, Senin, 17 Februari 2020.

Dijelaskannya, penderita DBD di setempat usianya mulai dari 2 tahun hingga 39 tahun. Paling banyak penderita didominasi anak-anak. Meskipun demikian, belum ada penderita yang meninggal dunia. “Yang 26 ini sudah ditangani. Ada sebagian sudah dirujuk ke rumah sakit dan sudah sembuh, ada yang ditangani di puskesmas,” ungkapnya.

Sejauh ini, pihaknya juga sudah turun melakukan Penyelidikan Epidemiologi (PE) ke lokasi terjadinya kasus. Pihaknya juga sudah melakukan upaya fogging ke Desa Lamenta yang ditemukan adanya penularan. Rencananya di beberapa dua lokasi desa lain juga akan dilakukan upaya dimaksud.

“Kemarin sudah kita fogging ke Lamenta. Besok pagi ke Empang. Ada tiga lokasi,” terangnya.

Menurut Agung, tidak semua lokasi terjadinya kasus DBD  dilakukan fogging. Karena belum tentu DBD diperoleh penderita di lokasi setempat. Melalui PE, pihaknya memastikan lokasi yang dikunjungi pasien 14 hari sebelumnya.

“Walaupun sekarang 26 positif, belum tentu kita fogging. Ada SOPnya. Makanya dari 26 kasus, kemarin sudah dilakukan di Lamenta, ini yang betul ada berdekatan penularan. Kalau satu kasus belum bisa fogging. Karena belum tentu dia dapat di lokasi itu. Makanya saat PE kita tanya 14 hari sebelumnya ke mana,” jelasnya.

Terkait status KLB di Kecamatan Empang, pihaknya menghimbau masyarakat untuk tidak khawatir. Yang paling penting sekarang yakni harus dilakukan kolaborasi untuk pengendalian nyamuk dewasa dan jentik. Nyamuk dewasa sendiri dibasmi dengan cara fogging. Sedangkan jentik diintervensi dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) oleh masyarakat sekitar.

“Kalau kita lakukan fogging efektifnya hanya tiga hari saja. Itupun hanya membunuh nyamuk dewasa saja. Sementara jentiknya akan tetap berkembang menjadi nyamuk dewasa. Penanggulangan yang sangat bagus untuk DBD ini yakni PSN melalui 3M,” tandasnya. (ind)