Kebijakan Pengentasan Buta Aksara, Disdik Butuh Nama dan Alamat Pasti

H. Lalu Fatwir Uzali. (Suara NTB/ron)

Mataram (Suara NTB) – Peningkatan angka buta aksara di Provinsi NTB dalam waktu dua tahun terakhir menjadi tantangan bagi dunia pendiidkan. Terkait upaya pengentasan buta aksara, Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Mataram membutuhkan nama dan alamat pasti sesuai data untuk menentukan kebijakan pengentasan buta aksara yang tepat.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Mataram, Drs. H. Lalu Fatwir Uzali, M.Pd., ditemui di ruang kerjanya, Selasa, 14 September 2021 menyampaikan, pihaknya memang memperoleh data jumlah persentase angka buta aksara. Namun pihaknya kesulitan mencari data sebenarnya dari angka persentase tersebut.

Iklan

“Cuma ini baru data persentase, susah mencarinya orang yang dianggap buta aksara itu, kami ingin data by name by address (sesuai nama dan alamat) yang dianggap masyarakat masih buta aksara,” ujarnya.

Data BPS RI menunjukkan peningkatan presentase buta aksara di NTB dimana angkanya mencapai 7.46% pada tahun 2019 menjadi 7.52% pada tahun 2020. Meski demikian, Fatwir mengakui belum ada koordinasi terkait data tersebut antara pihaknya dengan BPS. Namun, ia menegaskan, jika sudah ada data lengkap berupa nama dan alamat masyarakat yang dianggap buta aksara, maka pihaknya akan menganggarkan dan akan memprogramkan pengentasan buta aksara.

Sebelumnya, Kepala Balai Pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (BP PAUD dan Dikmas) NTB, Drs. Suka, M.Pd., mengatakan,  buta aksara merupakan salah satu pekerjaan rumah yang cukup besar di dunia pendidikan, terlebih lagi di NTB.

Ia juga menekankan, tantangan pengentasan buta aksara semakin meningkat mengingat pandemi Covid-19 telah membawa revolusi besar di dunia pendidikan. Proses belajar mengajar telah berubah dan menuntut warga belajar untuk menguasai teknologi.

Suka mengatakan, memang dibutuhkan program berkelanjutan terkait masalah buta huruf. Apabila sasaran penduduk usia 15 sampai 59 tahun yang menyandang buta aksara itu dientasakan dengan program keaksaraan dasar, tapi tidak diikutkan dengan program lainnya, maka berpotensi buta kembali. “Maka diperlukan program ikutannya,” jelasnya. (ron)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional