Keajaiban Senyum dan Ketulusan Hati

Sumbawa Besar (Suara NTB) – Bagi Dr. H.Zulkieflimansyah, seulas senyum bukanlah sesuatu yang remeh. Menurutnya, seulas senyum bisa menjadi kunci pencapaian yang sulit ditandingi.

Kisah tentang senyum ini ia tuturkan di hadapan peserta Diskusi Strategis bertema “Mewujudkan Investasi di Sumbawa yang Ramah dan Bersahabat” yang digelar Pemkab Sumbawa bekerjasama dengan Harian Suara NTB di Sumbawa, Sabtu, 3 Desember 2016.

Iklan

Dr. Zul –demikian H.Zulkieflimansyah biasa disapa–mengutarakan, saat dipimpin oleh Robby Djohan, manajemen Garuda Indonesia telah berupaya keras mencari cara agar bisnis mereka bisa melampaui pencapaian maskapai Singapore Airlines.

Berbagai faktor telah ditelusuri dan diupayakan. Mulai dari pelatihan-pelatihan untuk menambah kualitas pelayanan, evaluasi pada armada pesawat, juga kualitas makanan yang dihidangkan. Bahkan, kecantikan para pramugari Garuda pun dibanding-bandingkan dengan Singapore Airlines.

Dari semua aspek tersebut, diketahui bahwa Garuda Indonesia ternyata tidak kalah dari Singapore Airlines. Namun, dari segi bisnis, Singapore Airlines tetap saja lebih maju ketimbang Garuda.

Lantas apa yang keliru? “Setelah FGD seperti ini, ketemulah jawabannya. Kenapa? Karena senyum pramugari Singapore Airlines itu terlampau menawan,” ujar Dr. Zul.

Dr. Zul menilai, kualitas senyum pramugari Singapore Airlines memang sulit ditandingi. Senyum yang mereka sunggingkan di bibir mereka tidak dibuat-buat. Senyum itu berasal dari hati dan kepribadian mereka yang memang biasa melayani orang.

Para pramugari Garuda Indonesia, menurut Dr. Zul, tidak demikian adanya. Para pramugari ini, saat pulang ke rumah mereka, terbiasa menjadi orang yang dilayani segala kebutuhannya. Mulai dari dibukakan gerbang, hingga berbagai jenis pelayanan lainnya. Situasi ini menjelaskan adanya perbedaan yang tentu cukup nyata saat mereka memberikan pelayanan terhadap penumpang di atas pesawat.

Kisah ini menurutnya relevan untuk menggugah kesadaran semua pihak terkait pentingnya untuk mengubah mentalitas dalam menghadapi sistem ekonomi saat ini.

Dr. Zul meyakini, mesin dari sistem ekonomi saat ini adalah sektor privat. “Mesin ekonomi yang menyalakan, yang mendistribusikan harapan, mensejahterakan, meningkatkan standart of living itu adalah private sector, bukan pemerintah. Pemerintah tugasnya adalah sharing the wealth,” tegasnya.

  Pilkada Sumbawa Segera Diluncurkan

Dr. Zul khawatir, perubahan ini belum bisa diadaptasi oleh para pengambil kebijakan. Maka, era ekonomi yang baru pun dihadapi dengan mentalitas lama, yang menempatkan Pemda sebagai aktor yang lebih penting dalam entitas perekonomian sebuah daerah.

“Jangan-jangan kita menghadapi suatu era ekonomi yang baru tapi dengan mental model yang lama. Banyak seminar, banyak workshop, banyak kuliah, banyak diskusi, banyak FGD, ‘’oh investor itu harus kita layani’’. Tapi di dalam hati kita, dalam pikiran kita yang paling dalam, kita masih mengatakan, pemda itu masih lebih penting dibandingkan investornya,” ujarnya.

Kasus bisnis lainnya yang diutarakan Dr. Zul adalah kerjasama investasi Intel dan Kosta Rika yang dibangun lewat sentuhan hangat dari Presidennya, Jose Maria Figueres. Sang Presiden dengan hangat menyambut para petinggi Intel yang berkunjung ke Kosta Rika, menyopiri mereka langsung, mengantarkan mereka ke berbagai tempat di Kosta Rika. Kehangatan sang Figueres mampu melumerkan hati para pentinggi Intel, yang awalnya memandang Kosta Rika sebalah mata.

“Kosta Rika itu tidak ada dalam peta investasi Intel. Tapi ketika ada seorang presiden yang menyambut dia dengan hangat, dengan perasaan yang begitu ikhlas, mereka manusia juga. Walaupun Kosta Rika tidak menarik, tapi karena pelayanan yang begitu hangat dan bersahabat, mereka investasi di sana,” ujarnya.

Keterlibatan CINDE sebagai LSM yang dibentuk pemerintah untuk melayani, membujuk hingga menghibur para calon investor juga memegang peranan kunci. LSM semacam ini berisikan orang-orang dengan keahlian beragam dan memiliki keterampilan teknis yang relevan. Dr. Zul mengaku cukup senang mendengar adanya LSM semacam ini di Sumbawa.

“Saya dengar di Sumbawa katanya, ada tim yang non PNS. Yang begitu, menarik, begitu fasih Bahasa Inggrisnya, orangnya dilihat,” ujarnya.

Dr. Zul, juga mengingatkan pentingnya untuk fokus menggarap potensi yang ingin ditawarkan kepada investor. Tanpa adanya fokus, ia khawatir pemerintah daerah akan kesulitan mengelola banyaknya pekerjaan rumah yang ada di Sumbawa.

Pemerhati masalah ekonomi NTB, Dr. M. Firmansyah menegaskan, keramahan terhadap calon investor memang penting. Kemudahan juga perlu diberikan. Namun, Firmansyah menegaskan tetap pentingnya bersikap hati-hati. Khususnya terhadap calon investor yang rekam jejaknya memang belum jelas.

  Kader PKK, Tulus Bekerja Meski Tak Digaji

Menurut Firmansyah, investasi tidak saja berisi cerita tentang kasus Kosta Rika dan Intel. Di NTB, banyak kisah tentang investor abal-abal yang ternyata hanya mengincar izin pengelolaan lahan. Setelah izin diperoleh dan lahan bisa diagunkan, mereka pun membiarkan lokasi investasi tanpa pengelolaan yang jelas.

“Kita perlu mempermudah perizinan. Tapi jangan sampai memangkas prosedur. Caranya adalah dengan menambah SDM di bidang perizinan. Sehingga prosedur perizinan tetap ketat, tapi sekaligus bisa cepat dan mudah,” ujar Firmansyah.

Firmansyah juga memberikan penjelasan menyangkut adanya sejumlah hal yang biasanya melatarbelakangi orang berinvestasi di sebuah daerah. Pertama adalah karena lokasi tersebut dekat dengan bahan baku. Kedua, karena ia berada atau dekat dengan transit point. Ketiga, karena ia berada dekat dengan pasar seperti halnya di Jawa untuk Indonesia.

‘’Yang selama ini terjadi, industri berdiri di pasar. Misalnya di Jawa, Jabodetabek dan sebagainya,” ujar Firmansyah.

Sementara itu, untuk mengelola potensi investasi, dibutuhkan pula sejumlah prasyarat. Pertama, menyangkut aspek produksi. Hal ini berkaitan dengan apa yang kita miliki dan bisa kita kembangkan. Berikutnya adalah distribusi, komersialisasi (promosi) hingga segmen pasar mana yang akan dibidik.

Firmansyah menilai, Sumbawa cenderung akan lebih mudah menjadi kawasan untuk transit ketimbang kawasan yang bisa menjadi destinasi akhir. Karenanya, pilihan untuk mengembangkan investasi masyarakat di bidang kuliner dan sebagainya perlu dipikirkan sejak sekarang.

Ia menambahkan, untuk mengundang investasi dari luar, Sumbawa memiliki modal sosial yang cukup baik. Salah satunya adalah kehangatan budaya masyarakat setempat. Untuk menjaga ini, ia menyarankan penguatan tokoh masyarakat. Menurutnya, perlu pula diingatkan kepada masyarakat bahwa investasi akan mendorong perputaran uang di daerah tersebut. Ketika uang berputar, masyarakat hingga ke level terkecil bisa jadi akan turut merasakan dampaknya.

“Kalau perputaran uang itu kencang di Sumbawa, bahkan penjual pisang goreng pun akan kecipratan,” tegasnya. Hal semacam inilah yang perlu terus diingatkan kepada masyarakat agar mereka memberikan sambutan yang bersahabat kepada investasi.

  61 Tahun NTB, Sinkronisasi dan Sinergisitas Program Diperlukan

Aditya Nugraha dari Bagian Assesment Ekonomi dan Keuangan Bank Indonesia Perwakilan NTB mengakui, pentingnya fokus pemerintah terhadap salah satu sektor yang ingin digarap melalui skema investasi swasta. Ia menegaskan, salah satu sektor yang bisa dipilih sebagai fokus adalah sektor pertanian.

“Sektor pertanian secara keseluruhan dapat menopang pertumbuhan ekonomi dan ketahanan pangan. Dan Sumbawa ke depan juga diharapkan bisa mengembangkan industri pengolahan hasil pertanian,” ujarnya.

Ia menegaskan, industrialisasi di sektor pertanian penting untuk dilakukan. Sebab, di sejumlah negara, peningkatan ekonomi biasanya terjadi setelah negara tersebut beralih ke industrialisasi. Saat ini, hasil pertanian di Sumbawa, masih diolah secara tradisional dan dengan teknologi manual. Hal ini tentu akan sulit untuk mendorong perekonomian Sumbawa ke level yang lebih tinggi.

“Ketika suatu negara mau mengandalkan primary based dari pertanian dan perkebunan yang tidak diolah, lama-lama kita akan terjebak pada situasi yang menurut para pengamat perekonomian, middle income trap.Tetap saja akan berada di segitu, tidak naik-naik menjadi negara maju.”

Karena itulah, ia menegaskan, industrialisasi di sektor pertanian sudah harus ada dalam daftar prioritas pemerintah daerah di Sumbawa.

Sektor lain yang bisa menjadi opsi adalah perikanan. Berdasarkan informasi yang ia himpun, saat ini ada Bali Seafood International yang sudah tertarik untuk mengelola potensi hasil laut Teluk Saleh. Menurutnya, yang diperlukan sebelum investasi berjalan adalah kesiapan infrastruktur di sekitar Bali Seafood International.

‘’Jalan, listrik dan air. Jangan sampai ketika perusahaan sudah mau beroperasi tidak ada infrastruktur penunjangnya,’’ ujar Aditya.

Ia mengingatkan pula, pemerintah daerah harus segera menyiapkan sumber daya manusia yang cocok dengan kebutuhan investasi tersebut. Jangan sampai, saat investasi sudah dimulai, pasokan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan teknis yang relevan justru tidak tersedia. Hal inilah yang kerap terjadi di daerah lain, sehingga tenaga kerja pun akhirnya didatangkan dari luar.

‘’Terkait dengan infrastruktur sekolah, dan sarana pendukungnya. Yang penting juga dukungan dari pemerintah dan pengusaha setempat,’’ ujarnya. (tim)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here