Kasus Wanita Meninggal Tergantung, Kakak Korban Tepis Depresi Masalah Keluarga

Mei Susanti (Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Pemeriksaan saksi kematian wanita Linda Novita Sari (23) yang ditemukan tergantung di BTN Royal Mataram berlangsung maraton. Dua hari belakangan ini, keluarga inti korban dimintai keterangan. Intinya, terkait potensi korban punya masalah di internal keluarga.

Kakak kandung korban Mei Susanti menghadap penyidik di Polsek Ampenan sejak Rabu lalu. pemeriksaannya sejak petang sampai dini hari pukul 02.50 Wita. Mei yang paling dekat dengan adik bungsunya itu melanjutkan lagi pemeriksaannya pada Kamis pagi, 6 Agustus 2020.

Iklan

“Ini hanya lanjutan. Pertanyaannya soal keseharian Linda. Soal pakaian apa yang dipakai setelah keluar rumah dengan pakaian yang ditemukan di TKP. Siapa saja teman yang sering main ke rumah,” ungkap Mei ditemui usai pemeriksaan.

Mei yang didampingi anggota tim kuasa hukum Montani Para Liberi, M. Jihan Febriza ini mengaku korban tidak memiliki alasan untuk depresi. Permasalahan berat dengan keluarga nihil. Dua hari sebelum ditemukan meninggal pun, korban masih berada di rumah.

“Rabu dia full di rumah. Keluar rumah terakhir itu Kamis sore tanggal 23 (Juli). Pamit kok sama ibu. Dia izin keluar ke kos temannya mau mengurus persiapan daftar ulang karena sudah dapat pengumuman lulus S2. Dia lagi senang-senangnya itu. Tidak ada yang mencurigakan,” terangnya.

Malam harinya, Linda tidak kunjung pulang. Keluarga mulai khawatir. Putra Mei –keponakan korban lalu menghubungi korban via aplikasi pesan instan. Pesan terkirim dengan tanda centang dua. Tapi pesan itu tidak dibaca. Apalagi dibalas.

Adiknya memang pernah punya riwayat tidak pulang ke rumah tanpa kabar. Itu pun sudah berbulan lalu. Ibu korban kemudian menegur. Korban sempat marah. Tapi tidak berlarut lama. Suasana keluarga tetap akur seperti semula. “Saya pastikan tidak ada permasalahan keluarga,” tegas Mei.

USG Pemeriksaan Kista

Sebelumnya, dalam olah TKP, penyidik menemukan foto hasil USG korban. Hasil USG itu tertera tahun 2019. Mei menyebut USG itu memang atas sepengetahuan keluarga. “Itu untuk melihat kista. Dia (korban) ada kistanya. Bukan karena hamil,” sanggahnya.

Tapi untuk yang kali ini, sambung Mei, dia juga masih setengah percaya mengenai kondisi kehamilan Linda. Sejurus dengan kejanggalan yang dia temukan pada jasad korban sebelum dikebumikan, Minggu, 26 Juli 2020. berangkat pada dugaan percobaan aborsi yang gagal sehingga menyebabkan korban meninggal dunia.

Mei kemudian merinci. Pertama, bercak darah di tempat tidur saat korban disemayamkan. Selanjutnya, bercak darah yang sama di kain kafan korban menjelang dimasukkan dalam liang lahat. Semuanya di bagian bawah badan.

“Tidak ada luka terbuka. Keluarnya dari pangkal paha,” bebernya.

Mei pun mendapat penjelasan dari ustadzah yang memandikan jenazah adiknya. Awalnya, dirinya tidak berani sedikitpun melihat jenazah adiknya yang paling bungsu itu. sebab, dia dijelaskan kondisi korban yang meninggal dengan lidah terjulur. Padahal tidak demikian.

“Dari Bu Ustadzah yang mandikan adik saya. Tidak ada tanda-tanda lidah keluar itu. setelah itu saya baru berani lihat videonya. Dan memang benar tidak begitu. Sehingga saya yakin kalau adik saya ini tidak bunuh diri,” tandas Mei.

Terpisah, Kasatreskrim Polresta Mataram AKP Kadek Adi Budi Astawa mengatakan, untuk pengusutan kasus itu pihaknya memeriksa saksi secara maraton. Indikasi adanya tindak pidana atau indikasi bunuh diri belum dapat disimpulkan. “Sejauh ini sudah ada 23 saksi (yang diperiksa). Dari pihak keluarga. Teman. Pacar,” sebutnya. (why)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here